Ribut-Ribut Bantuan Korban Cianjur, Apakah Kemanusiaan Punya Agama?

| 30 Nov 2022 21:28
Ribut-Ribut Bantuan Korban Cianjur, Apakah Kemanusiaan Punya Agama?
Ilustrasi. (ERA/Nisa Rahma Tanjung)

ERA.id - Cianjur masih memulihkan diri pasca gempa yang merobohkan puluhan ribu rumah warga dan membuat penghuninya terlantar Senin (21/11) lalu. Di tengah masa berkabung, sebuah tayangan video amatir beredar dan memperlihatkan sejumlah orang mempreteli label "Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia" yang menempel di atap tenda. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ada 73.874 warga harus mengungsi hingga Senin (28/11) kemarin. Mereka tidur di tenda-tenda bantuan dari pemerintah maupun swasta. Sayangnya, ada saja yang enggan mengerti iktikad baik untuk menolong korban. Seperti kasus pencabutan label bantuan di atas.

Jika ada satu hal yang bisa mempersatukan umat manusia di dunia, tak lain adalah bencana. Karena bencana sendiri tak memandang apa pun, entah itu ras atau keyakinan, semua dilibas. Berbeda dengan perang, siapa pun bisa bersimpati pada korban bencana tanpa tendensi apa-apa.

Polisi telah menangkap para pelaku pencopotan label gereja di tenda bantuan, Minggu (27/11) kemarin. Menurut keterangan Kapolres Cianjur AKBP Doni Hermawan, mereka berasal dari Gerakan Reformis Islam (GARIS). “Mereka khawatir ada motivasi lain katanya," ujar Doni dalam keterangannya, Minggu (27/11).

Kita patut menduga ada tendensi pamer ketika para pejabat menyampaikan ucapan duka dengan foto mereka terpampang besar-besar. Namun, sulit rasanya untuk menduga ada motif lain di balik bantuan bencana alam dari relawan, selain karena panggilan kemanusiaan.

Sejumlah warga mencopot label 'Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia' pada tenda bantuan untuk pengungsi gempa Cianjur, Jawa Barat (Twitter) 

Lalu ada yang bertanya, kalau memang niatnya membantu tanpa pamrih, mengapa mesti pasang label dan identitas lain? Pertanyaan begitu bisa kita tanyakan balik ke semua relawan, bukan hanya ke Tim Aksi Kasih Gereja Reformed Injil Indonesia. Selama ini, pencantuman identitas macam itu lumrah terjadi, tapi kenapa baru diributkan ketika bantuan datang dari gereja?

Alasan pemasangan stiker dan label identitas tak lain untuk dokumentasi dan bentuk pertanggungjawaban pada donatur. Dengan begitu mereka bisa memastikan bantuan sudah benar-benar terkirim dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Seperti yang disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

“Berdirinya bendera, spanduk, baliho, stiker dari para pemberi bantuan adalah hal yang wajar, karena mungkin itu bagian dari pelaporan pertanggungjawaban kepada para donatur yang menitipkan bantuan kepada mereka,” tulisnya lewat Twitter, Minggu (27/11).

Pemasangan label identitas juga berguna untuk pendataan agar tidak disalahgunakan pihak-pihak tertentu. Misalnya, pihak-pihak yang ingin mengklaim bantuan dari donatur lain sebagai miliknya sendiri. 

Derry Sulaiman memberi reaksi lewat akun Instagramnya tentang pencopotan label gereja kemarin. Katanya, memberi itu perlu ada adab dan memasang logo akan melukai hati penerima. Poin pertama betul, tapi tidak ada hubungannya antara memasang identitas pemberi dan adab.

Adab memberi itu pertama, kita tidak merendahkan yang menerima, misalnya bagi-bagi kaus dengan cara dilempar sembarangan. Kedua, memberi barang yang layak, misalnya kaus yang pantas dipakai, bukan bekas keset yang sudah bolong-bolong. Ketiga, tidak mengharapkan balasan dari penerima. 

Dari mana adab-adab itu dirangkum? Dari Nabi Muhammad. Apakah beliau melarang mencantumkan identitas pemberi? Tidak. Wong di surat Al-Baqarah ayat 271 disebutkan: Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya, itu lebih baik lagi.

Selain itu, kekhawatiran adanya kristenisasi di balik bantuan korban bencana bukan hanya mengada-ada, tapi juga keterlaluan. Menurut KBBI, kristenisasi adalah perbuatan mengkristenkan seseorang. Dalam proses tersebut, dibutuhkan doktrinasi agama atau usaha terus-menerus memasukkan keyakinan Kristen ke dalam kepala orang-orang hingga mereka mengimaninya lahir batin.

Selain mendirikan tenda dan mengirim bantuan logistik ke Cianjur, adakah pergerakan untuk mengkristenkan korban? Tidak ada. Apakah para korban diwajibkan masuk Kristen untuk mendapat bantuan? Tidak juga. Lalu, di mana letak kristenisasinya?

Lagi pula, masuk Kristen tidak gampang dan butuh waktu, bukan macam bikin mie instan. Sebelum dibaptis, seseorang harus katekumen dulu atau ikut bimbingan kekristenan rutin yang bisa makan waktu tahunan. Habis dibaptis pun masih harus ikut pemantapan iman.

Hari ini, kristenisasi mudah disalahartikan dalam bentuk pembangunan gereja atau pemberian bantuan dari pihak gereja. Padahal, dalam sebuah diskusi tentang kristenisasi di Yogyakarta, Romo Mangunwijaya pernah bilang bahwa ajaran Kristen, khususnya Katolik, tidak menganggap mengkristenkan orang sebagai tujuan. 

“Yang penting adalah memberikan pelayanan kepada umat manusia,” kata Romo Mangun.

Pelayanan itulah yang sedang dilakukan relawan-relawan gereja yang datang ke Cianjur. Sama seperti orang-orang lain yang rasa kemanusiaannya terpanggil. Bukankah para korban juga terbantu dengan bantuan yang ada? Setelah label gereja disobek, toh tendanya tetap berdiri dan dipakai bersama-sama.

Salah satu sudut Cianjur yang menampilkan para korban menunggu bantuan datang. (ERA/Ilham Apriyanto)

Perusakan memakai dalih agama di tengah bencana justru membawa bencana baru bagi para korban. Jangan sampai orang-orang yang mau mengirim bantuan harus berpikir dua kali hanya gara-gara kebencian dan ketakutan yang tak berdasar. 

Rekomendasi