Komitmen Facebook Atasi Hoaks Jelang Pilpres di Indonesia

| 21 Jan 2019 22:32
Komitmen Facebook Atasi Hoaks Jelang Pilpres di Indonesia
Ilustrasi (era.id)
Jakarta, era.id - Facebook menyatakan sudah menyiapkan berbagai langkah menjaga kondusivitas pemilihan umum terkait beredarnya informasi palsu atau hoaks, termasuk Pilpres di Indonesia yang akan berlangsung pada April mendatang.

"Kami bekerja sangat keras untuk menjaga keamanan Pemilu di Indonesia," kata Direktur Politik Global dan Perpanjangan Pemerintah Facebook, Katie Harbath, saat jumpa persnya seperti dikutip dari Antara, Senin (21/1/2019).

Facebook memperhatikan aktivitas para pengguna platform tersebut dan segera menutupnya jika terbukti akun palsu. Facebook menggunakan mesin berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk mendeteksi perilaku tidak wajar sebuah akun.

Aktivitas yang dianggap tidak wajar antara lain menambahkan ribuan teman setelah membuat sebuah akun dan aktif mengunggah di banyak grup dalam waktu yang singkat.

"98 persen akun kami hapus bahkan sebelum ada laporan dari pengguna," kata Harbath.

Dikatakan Katie, Facebook akan menggunakan machine learning untuk memeriksa tautan yang dibagikan kepada pengguna lainnya. Jika mereka menemukan informasi yang dibagikan meragukan, Facebook akan mengirimkannya ke pengecek fakta (fact checker).

Setelah terdeteksi informasi palsu, Facebook akan menurunkan sebarannya. Facebook akan memberi notifikasi pada pengguna yang menyebarkan hoaks tersebut, bahwa informasi tersebut tidak benar dan sebaiknya tidak disebarkan.

Facebook juga bertindak untuk ujaran kebencian (hate speech), mereka bekerja sama dengan badan penyelenggara pemilu di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk membuat kategori ujaran kebencian sesuai dengan konteks lokal.

Terakhir, Facebook juga akan meninjau kembali segala kemungkinan intervensi dari luar negeri terhadap pemilu, termasuk soal iklan yang ada dalam konten media sosial itu. Dengan penerapan aturan yang lebih ketat dan transpran, terlebih bila ada pengguna asing yang membuat akun dengan tujuan tertentu. 

Aktivitas seperti ini pernah dicurigai terjadi saat Pilpres di Amerika Serikat pada 2016 lalu, di mana Rusia dituduh ikut campur dalam pemilu saat itu.

Sebelumnya, perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg ini mengklaim telah menghapus sekitar 753,7 juta akun palsu secara global, yang 97 persen di antaranya telah dideteksi oleh Facebook sebelum dilaporkan oleh pengguna.

 

Rekomendasi