Kenapa Anak Rantau Sering Rindu Masakan Orang Tuanya?

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Rindu masakan rumah seringkali dirasakan mereka yang merantau. Seenak apapun makanan warung, bahkan restoran sekalipun, tak mampu mengalahkan masakan orang tua di rumah. 

Contohnya Teatrika (25) atau yang akrab disapa Tea, yang sering rindu masakan ibunya. Dia adalah wartawan yang kerja di Jakarta, sementara ibunya ada di Jember, Jawa Timur.

"Masakan mama yang khas itu yang bikin aku kangen. Apalagi sambel buatan mama itu lho," kata Tea saat berbincang dengan era.id, Minggu (14/7/2019).

"Kalau pulang ke rumah, aku pasti selalu minta dimasakin kepiting atau dibikinin sambel dengan lauk apapun," ungkapnya.

Contoh lain, Dewi (24). Dia kadang rindu masakan ibunya yang tinggal di Riau. 

"Aku dari SMA kan sudah merantau jadi enggak kangen-kangen amat, tapi suka pengen makan sayur asem sama tempe orek buatan ibu," kata dia.

Kalau sudah begini, pegawai swasta di Jakarta itu mencari warung nasi padang. Setidaknya, menu ini masih masuk dengan lidahnya yang suka masakan Sumatera.

"Sering sih bosan sama menu yang itu-itu saja kalau di Jakarta karena lidah gue Sumatera banget. Paling ngobatin kangennya ke rumah makan Padang kalau sudah begitu," ujarnya.

Sama juga dengan Azhar (30), yang kadang kangen dengan masakan ibunya di Surabaya. "Suka (kangen) dimasakin soto kikil. Tapi enggak kangen banget. Soalnya, aku enggak deket sama ibu," ujar dia.

Lantas, apa sih sebenarnya yang membuat seorang rindu dengan masakan orang tuanya? Ternyata dari hasil penelitian psikolog asal Inggris Christy Fergusson tercatat, kalau masakan yang dibuat dengan cinta, rasanya bakal berbeda. 

Penelitian itu menyebut, presepsi emosional terhadap sebuah rasa masakan bisa ditingkatkan dengan tiga faktor. Yaitu waktu memasak, cinta, dan kepedulian saat memasak. Inilah yang menyebabkan kenapa masakan ibu terasa begitu enak saat dimakan. Sebab, ibu bisa menghadirkan tiga faktor itu ketika memasak.

"Kita menyiapkan bukti yang menunjukkan bahwa masakan yang dibuat dengan penuh cinta terasa lebih enak dan bagaimana kekuatan intuisi berpengaruh besar pada presepsi orang-orang dalam menikmati makanan," ungkap Christy seperti dilansir Times of India.

Sedangkan untuk penjelasan ilmiahnya, melansir jurnal yang diterbitkan Indiana Public Media, enzim amilase yang membuat anak cenderung menyukai masakan ibu. 

Enzim ini punya peranan penting dalam sistem pencernaan, yaitu mengekstrak karbohidrat kompleks berupa amilum jadi karbohidrat yang lebih sederhana. Kadar enzim amilase satu orang dengan yang lain biasanya berbeda. Nah, karena inilah sering ada perbedaan ukuran makanan enak antara setiap orang. 

Tapi  enzim asimilase ini akan sama antara satu keluarga. Biasanya, kadar amilase antara seorang ibu dengan anaknya punya banyak persamaan. Inilah yang menyebabkan seorang anak biasanya cocok dengan masakan ibunya. 

Tag: keluarga berencana

Bagikan: