Ironi Polusi Udara: Picu Risiko Bunuh Diri pada Anak

Tim Editor

Ilustrasi polusi udara (Pixabay)

Jakarta, era.id - Polusi udara dewasa ini telah menjadi musuh serius bersama. Tak hanya menyebabkan gangguan kesehatan. Miris, polusi udara kini memicu risiko bunuh diri pada anak.

Dalam jurnal Environmental Health Perspectives disebutkan bahwa dampak polusi udara dalam jangka pendek dapat berkontribusi terhadap kecemasan dan meningkatkan risiko bunuh diri.

"Hubungan antara tingkat polusi udara harian di luar ruangan dan peningkatan gejala gangguan kejiwaan, seperti kecemasan hingga bunuh diri pada anak-anak," ujar Cole Brokamp, penulis utama studi dan peneliti di Cincinnati Childern's Hospital MEdical Center, dikutip dari Medical Daily.

Baca Juga: Cegah Risiko Penyakit Jantung dengan Konsumsi Makanan Berserat

Peneliti mengungkapkan bahwa anak-anak mulai mengalami perubahan dalam kesehatan mental mereka setelah satu atau dua hari terpapar udara yang kotor. Kesehatan mental anak-anak yang tinggal di lingkungan kurang beruntung sangat dipengaruhi oleh kualitas udara yang buruk.

Bukan tanpa alasan lingkungan berpotensi berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan kejiwaan. Temuan ini didukung oleh dua penelitian yang juga meneliti efek polusi udara pada anak-anak, demikian pernyataan Brokamp.

Studi pertama dalam jurnal Enviromental Research menunjukkan bahwa anak-anak mengalami kecemasan usai terkena polusi udara karena lalu lintas yang padat. Para peniliti menggunakan neuroimaging untuk menganalisis paparan udara, gangguan metabolisme di otak partisipan, dan gejala kecemasan.

Baca Juga: Jangan Sepelekan Sakit Kepala, Bisa Jadi Tanda Kanker Otak

Anak-anak yang terpapar udara kotor memiliki konsentrasi myo-inositol yang tinggi di otak mereka --sebuah penanda respons neuro-inflamasi terhadap polusi udara. Hal penelitian lain dalam Enviromental Research memperluas pemahaman para peniliti bahwa polusi udara akibat lalu lintas dapat mempengaruhi kesehatan menal anak sejak dini dan akan berlanjut hingga dewasa.

Poin dalam studi ini menunjukkan bahwa paparan polusi udara selama awal kehidupan dan masa kanak-kanak selama awal kehidupan dan masa kanak-kanak dapat berkontribusi pada depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya saat di masa remaja bahkan dewasa, demikian menurut Patrick Ryan, penulis studi dan peneliti di Cincinnati Childern's.

Kendati demikian, peneliti mencatat butuh lebih banyak penelitian untuk mengkonfirmasi temuan mereka dan menentukan bagaimana polusi udara berkontribusi langsung terhadap gangguan kejiwaan.
 

Bagikan: