Mengenal Rupa dan Cerita Bangsa Lewat Pameran Museum

Tim Editor

Pameran museum di Kota Tua (Foto-Foto: Mery/era.id)

Jakarta, era.id - Dalam rangka memeringati Hari Museum Indonesia, Kemendikbud bersama dengan Pemprov DKI Jakarta menyelenggarakan pameran museum yang diikuti 60 peserta dari seluruh Indonesia.

Panitia dari Kemendikbud, Putri mengatakan acara ini sudah belangsung dari hari Jumat hingga Minggu malam nanti. Tujuannya, untuk mengedukasi masyarakat, meningkatkan minat mereka mengunjungi museum.

"Sampai Minggu malam. Pameran ini mengangkat tema 'Beda Rupa, Banyak Cerita'," katanya, saat ditemui di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (13/11/2019).

Pameran museum ini diselenggarakan di Taman Fatahillah. Saat mengelilingi stand pameran, ada yang unik dan menjadi pusat perhatian pengunjung yakni photo booth hukuman mati pada masa kejayaan VOC. Hal itu menjadi daya tarik Museum Sejarah Jakarta.


Replika fasilitas hukum gantung VOC


"Di sini, di Museum Sejarah selain untuk memamerkan benda-benda, juga menjelaskan apa yang dahulu pernah terjadi. Nah ini salah satunya hukuman gantung. Ini juga bisa digunakan pengunjung untuk berfoto. Jadi kami ingin mengedukasi dengan cara yang asyik," ujar Asep Saefudin Pemandu Museum Sejarah, kepada era.id.

Tak hanya itu, di stand ini juga memamerkan alat musik khas Betawi yaitu Tanjidor. Kesenian ini pertama kali masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-18 yang saat itu dimainkan untuk mengiringi atau mengarak pengantin.

Musik tanjidor sendiri mendapatkan pengaruh kuat dari musik Eropa. Dalam kesenian tanjidor terdapat beberapa alat musik seperti trombone, terompet, klarinet, piston, drum, dan simbal.

Sedangkan, sejarah nama tanjidor berasal dari kata dalam bahasa Portugis 'tangedor' yang memiliki arti alat-alat musik berdawai (stringed instrumens). Saat ini, di Portugal sendiri tanjidor masih digunakan untuk mengikuti pawai-pawai keagamaan seperti pesta Santo Gregorius.

Asep menjelaskan, kesenian Betawi yang satu ini sudah mulai jarang ditemukan. Keberadaannya hanya bisa kita lihat pada hajatan-hajatan besar warga Betawi di Jakarta.


Tanjidor dipamerkan


Museum lain

Tidak hanya Museum Sejarah, ada juga stand lain, di antaranya, Museum Maritim, Museum Cagar Budaya, Museum Kehutanan Kementerian LHK, Museum Olahraga, Museum Pendidikan, Museum Komodo, Musuem KPBMI, Museun Basoeki Abdullah, Museum Bank Indonesia hingga Museum Tiktok.

Di museum Bank Indonesia pengunjung yang datang dapat mencoba mengangkat replika emas batangan seberat 13,5 kilogram. Stand ini juga paling banyak dikunjungi karena umumnya pengunjung yang datang penasaran ingin mencoba seberat apa emas batangan tersebut.


Pameran emas batangan


Salah seorang pengunjung Rina mengatakan, ini kali pertama dirinya melihat replika emas batangan dan memegangnya secara langsung. "Aku kira enteng. Ternyata beratnya kaya mengangkat gas elpiji," ucapnya seraya tersenyum.

Museum Tiktok juga ramai dikunjungi, apalagi saat pemain musik Tanjidor datang berkunjung. Mereka diminta untuk bermain musik, kemudian direkam dengan aplikasi TikTok.


Pameran di stand TikTok


Di Indonesia, TikTok sendiri sudah bekerja sama dengan beberapa museum, di antaranya Wayang, Seni Rupa dan Keramik, Tekstil Jakarta dan dinas kebudayaan dan pariwisata Jakarta. Kerja sama ini berupa promosi koleksi yang ada di museum tersebut dan kampanye. Tak hanya di Indonesia, di luar negeri, TikTok berkerjasama dengan Metropolitan Museum of Arts Amerika Serikat.

Tag: wisata sejarah

Bagikan: