Pharrell Akui Menyesal Membuat Blurred Lines

Tim Editor

Pharrell Williams (Foto: Twitter @Pharrell)

Jakarta, era.id - Blurred Lines menjadi lagu yang terngiang bagi pendengarnya. Dirilis di tahun 2013, lagu yang dinyanyikan Robin Thicke bersama rapper T.I. dan Pharrell Williams ini sukses langsung masuk ke no 1 tangga musik Billboard Amerika Serikat. Video musiknya juga langsung mendapat jutaan views saat itu. Bersamaan dengan itu, album yang diberi judul sama ini juga meraih kesuksesan yang sama.

Tapi, sayangnya Pharrell Williams selaku produser baru-baru ini mengakui menyesal memproduksi lagu semacam Blurred Lines. Melalui wawancara untuk GQ Magazine edisi terbaru, Pharrell menceritakan beberapa produksi yang ia refleksikan, salah satunya adalah Blurred Lines.

Jika kamu belum tahu, video musik Blurred Lines sempat menjadi kontroversi saat perilisannya. Video klip yang menampilkan perempuan yang tidak mengenakan pakaian dan mengeliling ketiga penyanyi dianggap menormalisasi pelecehan seksual dan terdengar seperti “rapey”. 
 


Kritikus Tricia Romano dari The Daily Beast menuliskan, lagu Blurred Lines adalah bagian dari mempromosikan budaya pemerkosaan. Di dalam video musik itu, Robin sebagai penyanyi utama terlihat digoda dan diajak berjoget dengan model-model perempuan dalam musik video tersebut. Salah satu model video klip, Emily Ratajkowski menerima turning-point dalam kariernya setelah menjadi model video klip tersebut.

Tidak berhenti di dalam musik video, lirik lagu Blurred Lines yang berbunyi “I know you want it” mendorong ide bahwa “tidak bukan berarti tidak.” dalam pemerkosaan. Seakan-akan membuat ide bahwa seorang perempuan ingin melakukannya bersama sang pria tetapi ia malu-malu mengakuinya. Hal ini membuat lagu tersebut dilarang pemutarannya di lebih dari 20 universitas di Britania Raya, Inggris.

“Ada beberapa lagu lama saya, yang saya tidak akan pernah menulis atau menyanyikannya hari ini. Saya merasa malu dengan itu. Butuh beberapa waktu untuk menyadari hal tersebut. Saya pikir Blurred Lines membuka mata saya."

"Saya melihat banyak wanita kulit putih yang bersikap ketika mendengar lagunya dan bereaksi dengan beda. Mereka berlaku dengan cara yang mengejutkan. Jadi, ketika ada masalah dengan liriknya, aku ingin bertanya.. Apa yang anda bicarakan?” Lanjut Pharrell dengan GQ. Pharrell merasa banyak wanita yang menyukai lagu tersebut— bahkan menyanyikannya setiap saat. Jadi seperti apa “rapey” yang anda maksud? Tanya Pharrell.

Kontroversi lagu tersebut menyadarkan Pharrell sebagai seniman betapa halusnya kebencian terhadap seorang wanita dan titik buta dirinya sebagai artis.

"Dan saya sadar ketika ada laki-laki yang menggunakan kalimat yang sama kepada seorang wanita, dan saya tidak peduli karena itu bukan kelakuan saya. Atau ketika saya berpikir tentang sesuatu. Yang penting bagaimana itu mempengaruhi seorang wanita, dan saya pun merasa saya mengerti. Cool. Saya mengerti. Pikiran saya terbuka tentang apa yang sebuah lagu katakan dan bagaimana itu membuat seseorang merasakan sesuatu. Meskipun tidak secara mayoritas, itu tidak masalah. Saya peduli dengan apa yang mereka rasakan, juga. Saya sadar kita hidup dalam budaya chauvinis di negeri kita. Tidak menyadari itu. Tidak menyadari beberapa lagu saya memenuhi hal tersebut. Jadi itu membuat saya tersentak."

Tanpa sadar, percakapan dan diskusi mengenai lagu Blurred Lines menyadarkan Pharrell tentang kesalahan di dalam lagu tersebut. Berbanding terbalik dengan kolaboratornya Robin Thicke yang sempat dirundung kontroversi karena membuat candaan merendahkan wanita dalam lagu Blurred Lines adalah kesenangan karena dilakukan oleh para laki-laki yang sudah menikah. Robin juga menganggap dirinya selalu menghormati wanita. Meskipun disampaikan dengan nada bercanda, pernyataan ini tetap mengundang respon negatif dari warganet.

Tag: album musik

Bagikan: