Jangan Bikin Otak Beloon karena Ngefly dengan Lem Aibon

Tim Editor

Lem Aibon (Twitter/@butoable)

Jakarta, era.id - Lem serba guna Aibon sedang menjadi topik perbincangan di media sosial. Bukan karena penyalahgunaan, lem ini menjadi tren karena kontroversi dokumen di website Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2020 DKI Jakarta (apbd.jakarta.go.id).

Dalam dalam dokumen tersebut, pemerintahan Gubernur Anies Baswedan memasukkan anggara Rp82 miliar untuk membeli lem Aibon untuk keperluan pendidikan. Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengklaim ada kesalahan dalam pengetikan anggaran tersebut. Tapi publik kadung mengetahui hal itu.

Biasanya, lem ini muncul di media karena efeknya yang bisa memabukkan orang. Kegiatan mengonsumsi lem Aibon -- atau dikenal dengan 'ngelem', bagi sebagian orang membuat efek nikmat. Lem Aibon dapat menimbulkan sensasi mabuk. Menghirup bahan kimia Aibon menjadi pilihan untuk mabuk karena harga dan aksesnya yang terjangkau.

Tapi zat kimia dalam kandungan Aibon memiliki bahaya serius. Dilansir dari healthline.com, ngelem dapat menimbulkan masalah kesehatan, salah satunya, kerusakan otak. Sebab, lem Aibon mengandung zat toluena dan naftalena. Dua zat ini berdampak buruk pada selubung mielin yang berfungsi membuat sel-sel saraf berkomunikasi dengan cepat.

Toluena berbentuk cairan bening tak berwarna yang tak larut dalam air dengan aroma seperti pengencer cat dan berbau harum. Sedangkan naftalena, merupakan senyawa berbentuk kristal padat berwarna putih dengan bau yang khas dan terdeteksi indra penciuman pada konsentrasi rendah.

Selubung mielin adalah lapisan tipis di sekitar serabut saraf otak. Kerusakan selubung mielin dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada fungsi otak dan menyebabkan masalah neurologis yang mirip dengan multiple sclerosis (MS).

MS adalah penyakit autoimun dan peradangan sistem saraf pusat yang memengaruhi sel saraf dalam otak dan tulang belakang. Penyakit ini mengakibatkan otak menjadi sulit mengirim sinyal ke seluruh tubuh.

Dua penyakit yang mirip dengan MS adalah Relapsing-Remitting Multiple Sclerosis (RRMS) dan Clinically Isolated Syndrome (CIS). Keduanya berkaitan dengan kerusakan selubung mielin.

Baca Juga : Aibon Berbahaya, BNN Kaji Larangan Ngelem

RRMS ditandai dengan fase relaps (kambuh) dan fase remisi (gejala mereda). Fase relaps terjadi akibat peradangan pada selubung mielin. Ketika selubung mielin rusak, saraf tidak dapat berfungsi dengan baik.

Sementara fase remisi ditandai dengan hilangnya sebagian atau seluruh gejala. Sebagian pengidap penyakit ini bisa menggunakan seluruh fungsi sarafnya kembali, tapi sebagian lainnya kerap mengalami kambuh.

Berbeda dengan RRMS, penderita CIS sebenarnya belum memenuhi kriteria untuk didiagnosa mengidap MS. Tapi penyakit CIS juga menimbulkan gejala gangguan saraf karena adanya peradangan pada sistem saraf pusat dan kerusakan selubung mielin.

Selain kerusakan otak, kegiatan menghirup lem aibon juga bisa berakibat gagal pernapasan akut, kejang-kejang, kerusakan hati, dan kerusakan ginjal.

Tag: megapolitan kesehatan

Bagikan: