Mitos dan Sejarah Sumur Tua di Kota Bandung

Tim Editor

Sumur Bandung (Humas Pemkot Bandung)

Bandung, era.id – Pemerintah Kota Bandung berencana merevitalisasi lahan eks Palaguna Alun-alun Kota Bandung menjadi destinasi wisata baru. Di lahan yang luasnya hampir menyamai lapangan sepak bola itu, terdapat sumur atau sumber mata air bersejarah yang menentukan cikal bakal Kota Bandung.

Sumur di lahan tengah pusat kota tersebut dinamai Sumur Bandung. Selain memiliki nilai sejarah, sumber mata air ini juga diliputi mitos yang masih melekat hingga kini.

Menurut pegiat sejarah Bandung, Ariyono Wahyu Widjajadi, dalam artikel Takdir Tujuh Sumur di laman komunitas pemerhati sejarah Aleut, mengaku keberadaan sumber mata air menjadi pertimbangan orang tua dahulu dalam menentukan permukiman. Sumber mata air tersebut disebut juga paguyangan badak putih atau tempat berkubangnya badak putih.

Pencarian sumber mata air berlaku juga dalam menentukan lokasi suatu ibu kota di sejumlah daerah yang ada di Tatar Priangan, tak terkecuali di Bandung.

“Pencarian keberadaan kubangan badak putih (mata air) sebagai faktor penting dalam pemilihan lokasi ibukota kabupaten, terjadi pula saat Kabupaten Bandung –berdasarkan surat keputusan (besluit) Gubernur Jenderal Daendels tertanggal 25 September 1810– diminta untuk memindahkan ibu kotanya dari Dayeuhkolot ke lokasi dekat Jalan Raya Pos,” terang Ariyono Wahyu Widjajadi, dikutip pada Rabu (8/7/20) kemarin.

Perlu diketahui, Jalan Raya Pos merupakan jalan strategis yang dibangun di masa kolonial Belanda. Kilometer nol jalan ini terletak di Jalan Asia-Afrika sekarang.


Gedung Sate Bandung, sekitar tahun 1930. (Foto: Istimewa)

Ariyono menambahkan, pemindahan ibu kota Bandung terjadi di masa Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah II, tokoh kharismatik dan legendaris Bandung, pada tahun 1809. Saat itu, sang Bupati menemukan beberapa tempat sebelum menetapkan pusat kota di sekitar Jalan Raya Pos atau Grote Postweg.

Singkat cerita, Bupati Wiranatakusumah II memlih lokasi ibukota kabupaten lebih ke selatan, tepatnya di sebelah barat sungai Cikapundung. “Dengan mempertimbangkan keberadaan beberapa sumber mata air berupa sumur yang konon jumlahnya tujuh buah, atau bahkan lebih,” kata Ariyono.

Adanya sumber mata air atau kubangan badak putih yang menjadi lahan di sekitar Sungai Cikapundung tersebut akhirnya dinilai cocok dijadikan pusat ibukota baru Kabupaten Bandung. Lahan ini berdekatan dengan Jalan Raya Pos dan disetujui Gubernur Jenderal Daendels.

Ada beberapa pemandian badak putih di sekitar Jalan Raya Pos. Menurut Ariyono, pemandian yang paling dikeramatkan berada di sudut timur laut Alun-alun, kini di halaman belakang Kantor PLN.  Sumur ini tak jauh dari sumur yang berada di lahan eks Palaguna yang sekarang akan dibikin destinasi wisata baru oleh Pemkot Bandung.

Ariyono bilang, sebelum menjadi lokasi eks Palaguna sekarang, lahan ini dulunya bernama halaman belakang Vorkink. “Setelah Kemerdekaan, nama Vorkink kemudian berganti menjadi Percetakan Sumur Bandung. Nama baru ini menggambarkan keberadaan sumber mata air di lahan tersebut. Bekas lokasi Vorkink kini menjadi lahan kosong di belakang Palaguna,” terangnya.

Mitos yang meliputi sumur Bandung, khususnya yang terletak di PLN, hingga kini masih berkembang. Ariyono menyebut, ada kepercayaan masyarakat bahwa sumur tersebut dihuni dan dijaga oleh penguasa alam gaib di kawasan Bandung, yaitu Kentring Manik atau Nyi Ken Buniwangi.

Ariyono bilang, dalam majalah Mooi Bandoeng tahun 1937, W.H. Hoogland menulis bahwa Kentring Manik adalah Dewi penguasa mata air (Bron-godin).



Dalam artikelnya, Ariyono juga menyebut ada beberapa sumur tua yang posisinya tak jauh dari kedua sumur tersebut. Namun sebagian sumur ‘keramat’ itu telah hilang, beberapa di antaranya ditimbun untuk kepentingan pembangunan. Penimbunan terjadi di masa lalu yang konon harus melalui ritual sebagai bentuk permohonan izin kepada penguasa sumur. Ritual ini diwarnai selamatan dengan memotong beberapa ekor kerbau.

Akhirnya, setelah proses sejarah panjang, kemarin, sumur Bandung dikunjungi Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, Selasa (7/7/2020). Dari kunjungan ini muncul rencana membangun destinasi wisata baru.

Menurut Yana, situs sumur Bandung memiliki nilai sejarah tinggi. Sumur ini tonggak berdirinya Kota Bandung. "Mudah-mudahan sumur ini bisa menjadi tujuan wisata. Karena memang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi untuk Kota Bandung," katanya saat peninjauan sumur.

Ia bilang, pihak terkait seperti PT Jaswita Jabar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung akan berinovasi untuk membangun wisata di ruang terbuka. Salah satunya sumur tersebut.

"Pemkot Bandung dan pihak terkait akan mengaktivasi tujuan wisata outdoor. Insyaallah aman meski di tengah pandemi," katanya

Disebutkan pula bahwa di Bandung ada 7 Sumur Bandung, yaitu di bangunan bank tertua di Kota Bandung yang sekarang menjadi gedung Bank Mandiri, Masjid Cipaganti, Gedung PLN Cikapundung.

Dua lainnya berada di lahan De Vries dan Gedung De Zon. Sumur Bandung yang ada di Gedung De Zon tidak diketahui nasibnya setelah gedung tersebut dibongkar.

Tag: rabbit town bandung

Bagikan: