Seluruh infografis oleh Mia Kurniawati
Jakarta, era.id - Bulan Ramadan tiba. Celakalah kalian wahai pecandu hubungan sosial, pikir Aristo, pemuda 28 tahun yang masih berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Jakarta Selatan. Aristo memang dikenal agak antisosial (ansos) dan enggak terlalu asyik. Kebanyakan main game online bikin lingkaran pergaulan Aristo segitu-gitu aja. Tapi, di saat-saat seperti ini, Aristo justru merasa bersyukur.
Sebab, dia enggak perlu repot-repot cari alasan sana-sini untuk tutup tambal jadwal buka bersama (bukber) yang sering banget tumpuk-tumpukan. Dan yang paling penting, Aristo enggak perlu keluar duit banyak buat memenuhi syarat pertemanan itu.
Coba tengok Aprilia, mahasiswi perguruan tinggi negeri di Kota Malang berusia 24 tahun. Kepada era.id, April bercerita bagaimana repotnya dia membagi waktu untuk mengikuti jadwal buka bersama yang padatnya cukup bikin dia kebingungan.
Aprilia bilang, setiap satu bulan Ramadan, dia bisa ikut dalam tujuh sampai sepuluh jadwal buka bersama. “Kalau pas di Malang, aku bisa bukber tujuh atau lebih sih, tergantung ajakan teman ... Kalau balik ke Banyuwangi, ketemu lagi sama teman sekolahan, kurang lebih tiga kali bukber disana," tutur Aprilia.
Soal motif mengikuti buka bersama, Putri (23) mengungkap, alasannya mengikuti buka bersama kadang sederhana: pingin tahu kabar teman. Masuk akal sih, sebab Putri bilang, semenjak masuk dunia kerja, waktu luangnya sungguh enggak banyak. Jadi, buka bersama memang terlihat seperti solusi baginya.
"Lebih pingin tau aja kabar teman gua, misalkan sudah pada menikah atau bagaimana. Soalnya kan memang gua ketemu mereka fulltime ya pas bukber," kata Putri.
The power of research
Sudut pandang tiga muda-mudi di atas tentu bisa jadi gambaran kecil dari fenomena bukber ini. Tapi, lebih dari itu, kami ingin fenomena ini didalami lebih jauh. Karenanya, tim riset kami yang budiman melempar survei ini sejak satu pekan lalu, tepat di hari pertama Ramadan, Kamis (17/5).
Dalam periode itu, kami berhasil menjaring 312 responden di wilayah Pulau Jawa, dengan rincian 193 responden (61,9%) berdomisili Jabodetabek, 32 responden (10,3%) dari Jawa Barat, dan 17 responden (5,4%) dari Banten. Sisanya, dari Provinsi Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), responden terpecah dalam jumlah sama, masing-masing 35 responden (11,2%).
Terkait pengelompokan jenis kelamin, responden didominasi oleh perempuan dengan jumlah 183 responden, dengan persentase 58,6 persen. Sisanya, responden laki-laki terdiri dari 129 orang atau 41,4 persen.
Bukber dan lingkaran pergaulan
Satu hal penting dari survei ini adalah kami bisa betul-betul membuktikan adanya keterkaitan kuat antara intensitas bukber dengan lingkar pergaulan seseorang, terutama pergaulan semasa sekolah. Makin luas pergaulan seseorang semasa sekolah, maka akan makin sering pula dia mondar-mandir memenuhi undangan bukber.
Terbukti, mayoritas responden kami, yakni 138 responden (44,1%) memilih rentang frekuensi bukber satu hingga tiga kali dalam satu kali Ramadan. Jumlah tersebut cocok dengan variabel terkait bentuk relasi bukber. Pada variabel tersebut, mayoritas responden, yakni 258 orang (82,4%) memilih relasi teman sekolah atau ikatan alumni sebagai bentuk relasi yang paling banyak mengundang bukber.
Nah terkait variabel relasi itu, pilihan terbanyak responden kami, yakni 203 responden (64%) memilih kelompok komunitas atau pertemanan. Beriringan dengan hal itu, variabel yang sama menunjukkan hasil bahwa ikatan kekeluargaan ada di bawah ikatan pertemanan atau pergaulan dengan hanya dipilih 157 responden (50,2%).
Berapa banyak uang yang dihabiskan?
Nah, ini juga penting. Survei yang kami lakukan berhasil mengungkap tingkat konsumerisme seseorang dalam tradisi bukber ini.
Dalam survei ini, mayoritas responden, yakni 133 orang (42,6%) rata-rata menghabiskan biaya Rp50.000 hingga Rp100.000 untuk setiap kali bukber.
Belum sampai di situ. Kami juga menghitung rata-rata keseluruhan uang yang dihabiskan setiap orang untuk mengikuti satu kali bukber.
Dengan menjumlahkan rata-rata batas bawah biaya, yakni Rp57.000 dengan nilai rata-rata batas tertinggi Rp126.000 untuk kemudian dibagi dua, maka kami mendapatkan angka Rp91.500 sebagai biaya rata-rata yang dihabiskan setiap orang dalam satu kali bukber.