Sudahkah Kita Berlaku Adil pada Film Bumi Manusia?

Tim Editor

    Sedang memuat podcast...

    Iqbal Ramadhan, pemeran Minke dalam Bumi Manusia (Sumber: Falconpictures)

    Jakarta, era.id - Adaptasi novel Bumi Manusia karya sastrawan kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer ke layar lebar memicu perdebatan. Sejumlah pihak yang kebanyakan penggemar Pram khawatir adaptasi Bumi Manusia ke dalam medium film akan menodai kesakralan kisah yang diangkat Pram.

    Memang, Bumi Manusia adalah karya yang sakral. Bumi Manusia merupakan karya pertama dari tetralogi buru, empat novel yang ditulis Pram semasa dirinya ditahan di Pulau Buru. Selain Bumi Manusia, ada tiga novel lain yang jadi bagian dari tetralogi buru: Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

    Tapi, sungguh perdebatan yang terjadi mulai terasa klasik. Kita seperti enggak sadar apa yang sebenarnya terjadi dalam proses adaptasi sebuah novel menjadi film. Mau dibedah? Bisa!

    Menghilangkan berbagai unsur cerita

    Begini, perdebatan pertama adalah terkait kekhawatiran sejumlah pihak, bahwa film Bumi Manusia nantinya hanya akan mengangkat sisi roman picisan dari karya Pram, sehingga keseluruhan cerita yang dibangun Pram dalam novelnya akan hilang, seakan-akan enggak pernah jadi bagian dari Bumi Manusia itu sendiri.

    Sejatinya, pandangan ini sungguh klasik. Sebab, kalau mau dipahami, setiap karya film yang mengadaptasi cerita novel hampir pasti hanya mengangkat sebagian isi dari novel tersebut.

    Coba saja, seapik-apiknya --dengan mempertimbangkan kesesuaian plot dan substansi cerita-- pengolahan franchise delapan film Harry Potter yang diadaptasi dari karya tulis J.K. Rowling, toh kita tetap enggak bisa menemukan Dumbledore yang gay, sebagaimana diceritakan dalam novel.

    Itu Harry Potter, yang harus memecah tujuh seri novel J.K Rowling ke dalam delapan seri film --memperhitungkan seri ketujuh yang dipecah jadi dua bagian. Mungkin, perkara Bumi Manusia ini bukan hal yang persis sama dengan adaptasi Harry Potter. 

    Tapi, seenggaknya hal itulah yang harus dipahami setiap penikmat karya seni, bahwa setiap medium memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga penyesuaian menjadi hal yang memang enggak bisa dihindari. Sederhananya, memang begitu hukumnya.

    Ini bukan sekadar kesotoyan kami. Sosiolog sekaligus guru besar dari The Australian National University, Australia, Ariel Heryanto pun turut memberi pencerahan serupa. Memang, sebagai penggemar Pram, Ariel pun merasa khawatir. Ariel bahkan menyebut proyek ini sebagai hal yang kejam.

    "Bumi Manusia di-filmkan. Medium film 2 jam harus memilih sebagian kecil dari novel panjang. Ini sulit dan kejam," tulis Ariel dalam akun Twitter pribadinya, @ariel_heryanto.

    "Perasaan saya campur-aduk sedih/gembira. Sesedih ayah kehilangan putri kesayangannya karena akan menikah. Gembira menyaksikan ia punya kehidupan baru dan lebih panjang, walau tidak terjamin semuanya akan OK," tambahnya.

    Komersialisasi

    Meski penggemar Pram, Ariel menyebut dirinya enggak berhak untuk ikut-ikutan merasa memiliki karya tersebut. Namun, sebagai penggemar juga, Ariel mengatakan dirinya harus siap merasa kecewa. Sebab, Ariel yakin betul, kepentingan komersial bicara begitu banyak dalam proyek ini.

    Kekhawatiran Ariel ini nyatanya turut disuarakan oleh begitu banyak penggemar Pram yang lain. Mereka khawatir, nilai-nilai penting dari Bumi Manusia akan hilang ketika dikomersialisasi dan disesuaikan dengan selera pasar. Sebagai penggemar, keresahan itu sejatinya juga manusiawi. Sangat bisa ditangkap nalar. Tapi, bijaksanakah terus-terusan bersikap seperti itu?

    Mungkin boleh juga jika persoalan itu kita serahkan sepenuhnya kepada sang sutradara film, Hanung Bramantyo yang memang sedang hobi-hobinya mengangkat film-film bertemakan sejarah. Semoga saja, Soekarno: Indonesia Merdeka (2013) dan Sang Pencerah (2011), dua film sejarah yang belakangan digarap, mematangkan Hanung. Sebab, jelas, tanggung jawab yang dipikul Hanung sungguh enggak ringan.

    Atau, jika ingin melihat realitas yang ada, sejatinya kondisi ini bisa dilihat dari sudut pandang positif dan negatif. Positifnya, gencarnya produksi film sejatinya didorong oleh meningkatnya keinginan pasar film lokal yang muncul sebagai efek dari kemajuan industri film lokal itu sendiri. Sungguh, ini adalah hal yang patut disyukuri.

    Namun, besarnya permintaan pasar banyak menjerumuskan para sutradara dan penulis film ke jalan-jalan pintas. Adaptasi karya seni dari medium lain ini adalah bagian di antaranya. Dengan kata lain, entah enggak sempat atau memang malas, para sineas potensial ini akhirnya emoh menulis dan menggarap karya film yang orisinil.

    Lanjut pada perdebatan Bumi dan Manusia, kekhawatiran terkait komersialisasi ini pun disuarakan oleh Fiersa Besari, seniman muda serba bisa yang juga dikenal lewat dua bukunya yang berjudul "Garis Waktu" dan "Konspirasi Alam Semesta".

    Di lama Twitter pribadinya, Fiersa memandang komersialisasi sebagai hal yang enggak bisa dihindari dalam industri. Karenanya, Fiersa bilang dia atau kita semua hanya bisa berdoa, semoga film ini tetap bisa dinikmati. 

    "Perusahaan film melihat peluang bisnis, dan mengambil peluang tersebut. Setelah ini, kita hanya bisa berdoa, semoga Bumi Manusia menjadi film yang meskipun bukan diciptakan untuk memenangkan festival film, setidaknya bisa dinikmati banyak orang," tulis Fiersa.

    Keraguan pada Iqbaal

    Dari sekian banyak kritik dan keresahan yang disampaikan para netizen, hal ini jadi kritikan yang paling enggak produktif. Bayangkan, belum apa-apa, kehadiran Iqbaal Ramadhan (Cowboy Junior) sebagai pemeran Minke langsung dikritik.

    Entah berlandaskan apa, para netizen ramai-ramai menyebut Iqbaal sama sekali bukan sosok yang pantas untuk mewarisi segala keluhuran Minke ke dalam perannya. Netizen seperti lupa, bahwa film adalah karya yang dihidupkan lewat akting.

    Artinya, siapapun Iqbaal di kehidupan nyata, selama Iqbaal bisa betul-betul memainkan perannya dengan baik, maka harusnya enggak ada masalah. Dan, bagaimana mungkin menilai kepantasan seseorang memerankan sebuah karakter sebelum karya film itu selesai dan betul-betul disajikan di layar bioskop.

    Lagipula, kalau mau diingat, ini bukan pertama kalinya Iqbaal diremehkan. Saat diumumkan sebagai pemeran Dilan dalam Dilan 1990, Iqbaal juga sempat dihujat oleh penggemar novel karya Pidi Baiq itu. Alasannya sama-sama enggak produktif: Iqbaal enggak cocok, bodo amat apa alasannya, pokoknya enggak cocok.

    Tapi, akhirnya apa? Iqbaal nyatanya bisa menjawab keraguan mereka yang sebelumnya menganggap remeh. Coba ingat-ingat timeline media sosialmu pada minggu-minggu itu, periode ketika Dilan 1990 masih berkeliling di bioskop-bioskop nasional. Atau, kalau memungkinkan, coba cari keyword Dilan, Milea, atau baper di timeline media sosialmu saat itu.

    Atau, cukup dengan Iqbaal. Buat kamu yang belum tahu siapa dan seperti apa sosok Minke yang digambarkan dalam Bumi Manusia, kami akan beri sedikit gambarannya.

    Minke adalah tokoh rekaan dari Bapak Pers Nasional, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918). Dalam tetraloginya, Pram mengangkat cerita kehidupan tokoh kelahiran Blora, Jawa Tengah ini. Meski terlahir sebagai putra seorang bangsawan jawa, sosok Minke digambarkan Pram sebagai pribadi yang begitu membumi, rela merangkak dari bawah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya di hadapan penjajah Belanda.

    Diawal ceritanya, Minke dikisahkan sebagai seorang anak bangsawan dari tanah Blora. Minke adalah seorang pribumi yang bersekolah di HBS, sekolah khusus yang diisi anak-anak bangsawan dan bule-bule Eropa. Pada masa itu, pribumi dianggap rendah di tanah airnya sendiri. Oleh sebab itu, banyak pribumi yang enggan mengakui ke-pribumui-an mereka. 

    Pada Bumi Manusia, Pram menggambarkan awal kisah cinta dramatis Minke dengan Annelies, Bunga Akhir Abad, seorang peranakan Belanda dan pribumi bernama Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ontosoroh. Sosok Nyai Ontosoroh yang tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda kemudian menjadi guru panutan Minke di kemudian hari. 

    Setelah menamatkan sekolah di HBS, Minke melanjutkan sekolahnya di sekolah kedokteran cikal bakal Universitas Indonesia saat ini, STOVIA, Batavia. Semenjak saat itu, Minke memulai kisah cintanya dengan dunia tulis-menulis. Dari situlah Minke mulai mengabdikan dirinya, mengajar kaum pribumi untuk meningkatkan derajat mereka lewat pendidikan.

    Berbagai kesulitan dan tantangan dilalui Minke dengan begitu cakap. Hal itu membuat sosok Minke dikagumi, enggak cuma oleh bangsanya sendiri, tapi juga oleh orang Belanda. Sebab, meskipun disegani dan dipuji lawan, Minke tetap melawan para penjajah dengan cara melontarkan seruan-seruan yang membangkitkan kesadaran para pribumi tentang pentingnya menjadi bangsa yang besar.

    Di akhir artikel ini, kami akan mengutip sebuah seruan Minke yang begitu menggugah.

    "Kita semua harus menerima kenyataan. Tapi, menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka 'kemajuan' sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia."

    Tag: film indonesia bumi manusia hari film nasional 2018

    Bagikan :