Mengenal Sosok di Sampul Belakang Iqra

Tim Editor

Ilustrasi (Abid Farhan Jihandoyo/era.id)

Jakarta, era.id - Malam sehabis isya beberapa hari lalu jadi satu momen paling memorial di hidup saya. Malam itu, di hadapan pacar baru dan ayahnya yang guru ngaji, saya dipertemukan kembali dengan Alquran.

Iya, momen itu jadi memorial, sebab ketika itu juga saya teringat bagaimana kali pertama belajar mengenal huruf-huruf Arab. Dan seperti anak-anak muslim kebanyakan, enam jilid buku Iqra jadi instrumen paling penting yang memperkenalkan saya dengan huruf hijaiyah, rangkaian, dan tanda bacanya.

Enggak cuma memorial, malam itu juga jadi eureka momen buat saya. Malam itu, pertanyaan lama soal siapa sosok laki-laki tua yang tergambar di belakang buku Iqra kembali muncul di kepala. Kamu tahu enggak? Itu, lho, bapak-bapak yang gambarnya dijadikan background sampul belakang buku yang merinci sepuluh sifat buku Iqra.

Gambar laki-laki tua itu memang menarik. Menggunakan tongkat, mengenakan kacamata, peci, serta setelan jas yang lengkap dengan dasi, laki-laki tua itu selalu muncul di setiap jilid buku Iqra. 

Iya, terus siapa beliau? 

Kiai Haji As'ad Humam namanya. Ia adalah pelopor metode baca Iqra. Dilansir dari Nahdlatululama.id, perjalanan As'ad menemukan metode baca Alquran dimulai dari pertemuannya dengan Kiai Haji Dachlan Zarkasyi, ulama asal Semarang yang ketika itu telah menciptakan metode Qiro'ati (membaca).

Namun, saat itu, metode milik Dachlan dianggap masih terlalu sulit oleh As'ad. Ia pun mengajukan metode membaca yang lebih baik kepada Dachlan. Sempat terjadi perdebatan antara kedua ulama ketika itu. Dachlan menganggap enggak perlu ada perubahan apapun dari metodenya.

Akibat penolakan itu, As'ad dan muridnya yang tergabung dalam Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (Team Tadarus "AMM") Yogyakarta akhirnya menyusun sendiri metode cepat belajar membaca Alquran melalui metode Iqra.

Setelah cukup mantap dengan formulasi pembelajaran yang disusunnya, As'ad dan para muridnya pun mulai menyebarkan metode tersebut, dimulai dari pendirian Taman Kanak-kanak AMM Yogyakarta dan TPA Alquran pada 23 April 1989.

Efektivitas dari metode baca Iqra pun telah dibuktikan oleh sejumlah peneliti. Berbagai kisah dan capaian pun tercatat. Para siswa TKA AMM usia empat sampai enam tahun misalnya, yang hanya membutuhkan waktu 6-18 bulan untuk menguasai kemampuan baca Alquran dengan presentase angka 90 persen.

Penelitian lain menyebut, dengan metode Iqra As'ad, anak-anak SD (usia 7-9 tahun) nyatanya berhasil menguasai kemampuan baca Alquran dalam waktu yang bahkan lebih cepat, yakni dalam waktu 12 bulan. Berkat metode Iqra, sebanyak 84,31 persen dari anak-anak itu diketahui telah lancar membaca Alquran.

Hasil itu dianggap lebih cepat dibandingkan dengan metode kaidah Baghdadiyah atau pun Quro'ati yang memerlukan waktu dua sampai lima tahun.

Penghormatan

Secara keilmuan akademik, barangkali As'ad bukan orang yang terlalu istimewa. Pendidikan terakhir yang ditempuh pria kelahiran Yogyakarta 1993 itu bahkan cuma kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah, sebuah sekolah islam setingkat SMP di Yogyakarta.

Tapi, jasa As'ad buat begitu banyak umat Islam di Indonesia dan Asia sungguh besar. As'ad yang saat itu terkena penyakit pengapuran tulang akut tetap berhasil mengembangkan metode Iqra yang memudahkan seseorang untuk menguasai kemampuan baca Alquran.

Atas jasa dan kerja kerasnya, As'ad diberikan sejumlah pengakuan dan penghargaan dari negara. Di tahun 1991, Kiai Haji Munawir Sjadzali, menteri agama saat itu menjadikan lembaga pendidikan As'ad sebagai balai penelitian dan pengembangan (litbang) LPTQ Nasional.

Enggak cuma dari pemerintah di dalam negeri, pemerintah di berbagai negara Asia pun memberikan pengakuan dan penghargaan buat As'ad. Bahkan, Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam kini telah menggunakan metode Iqra sebagai metode unggulan. Bahkan Malaysia telah memasukkan metode Iqro sebagai bagian dari kurikulum pendidikan baca Alquran di negara mereka.

Tag: eramadan

Bagikan: