ERA.id - Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, mengungkap sejumlah kendala untuk mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan kereta rangkaian listrik (KRL) Cummuterline dan Kereta Diesel (KRD) jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, kemarin malam.
"Pada saat kita cek menggunakan MAMBIS, identitasnya tidak langsung keluar. Ini menjadi salah satu kendala yang saat ini masih kami dalami," kata Kepala RS Polri Kramat Jati, Prima Heru Yulihartono saat konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026) dikutip Antara.
Prima menjelaskan kendala tersebut terutama terkait hasil pemeriksaan awal menggunakan alat identifikasi biometrik.
Mobile Automated Multi-Biometric Identification System atau MAMBIS merupakan alat portabel canggih yang biasa digunakan tim Inafis Polri untuk mengidentifikasi korban kecelakaan maupun jenazah tanpa identitas.
Namun dalam kasus ini, tidak semua data biometrik korban dapat langsung terbaca oleh sistem tersebut.
Selain kendala teknologi, kondisi fisik jenazah juga turut memengaruhi proses identifikasi. Meski sebagian besar jenazah dalam kondisi relatif utuh, terdapat beberapa korban yang mengalami kerusakan pada bagian kepala.
"Kami menemukan ada beberapa jenazah dengan kerusakan di bagian kepala, sehingga identifikasi wajah menjadi tidak maksimal," jelas Prima.
Kondisi tersebut membuat tim DVI harus mengandalkan metode lain, seperti pemeriksaan sidik jari, rekam medis gigi, hingga uji DNA guna memastikan identitas korban secara akurat.
Meski dihadapkan pada sejumlah kendala, kata Prima, RS Polri memastikan proses identifikasi tetap dilakukan secara maksimal dan secepat mungkin. Hal ini penting agar jenazah dapat segera diserahkan kepada pihak keluarga.
"Kami upayakan secepatnya, karena kondisi jenazah tidak seperti korban kebakaran yang umumnya lebih sulit diidentifikasi," ucap Prima.
Saat ini, proses identifikasi masih terus berlangsung. RS Polri juga mengimbau keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa tersebut untuk segera melapor dan memberikan data pembanding guna mempercepat proses pencocokan identitas.
Adapun Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati telah menerima sebanyak 10 kantong jenazah sejak Selasa pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Sebanyak tujuh keluarga korban kecelakaan kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur telah melapor ke posko identifikasi korban (Disaster Victim Identification/DVI).
Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyebutkan korban meninggal dunia atas insiden tabrakan antara kereta Commuterline dan kereta jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam, bertambah menjadi 14 orang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan berdasarkan data terbaru hingga pukul 08.45 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia.
Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, 84 korban luka telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan.