Perburuan Kapten Lukas Kustaryo di Balik Pembantaian Rawagede

Tim Editor

    Pembantaian Rawagede (Dok.LIPI)

    Jakarta, era.id - Pembantaian Rawagede sudah lama jadi jadi pembahasan yang menarik baik di Indonesia maupun di Belanda. Bagi Indonesia, pembantaian massal yang dilakukan serdadu Belanda yang terjadi 9 Desember 1947 itu menjadi perdebatan. Lalu apakah peristiwa itu termasuk pembantaian atau hanya kontak tembak yang memakan korban saja?

    Saat Indonesia menyatakan proklamasi pada 17 Agustus 1945, seteru Indonesia dengan Belanda belumlah berkahir, pihak Sekutu dibantu oleh Belanda masih terus mengintervensi kemerdekaan Indonesia, salah satunya melalu serangan Agresi Militer Belanda satu dan dua. Maka, membicarakan dan menelaah pembantaian Rawagede, sudah seharusnya dikaitkan dalam suatu proses besar usaha Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

    72 tahun silam, pada tanggal 9 Desember pukul 04:00 WIB, ada 300 pasukan belanda yang menggeledah rumah warga, di Desa Rawagede, Karawang, Jawa Barat, dibawah pimpinan Mayor Alphons Wijman. Mereka memburu seorang tokoh perlawanan rakyat saat itu, yakni Kapten Lukas Kustaryo. Ia kerap melakukan serangan ke basis militer Belanda.

    Perburuan Lukas yang kerap menyerang Belanda di sepanjang jalur Karawang-Bekasi sampai ke Rawagede. Saat itu, penjajah mendapat informasi basis pasukan pimpinan Lukas berada di wilayah sekitar Karawang. Skenario penyergapan pun dilakukan pasukan Belanda di Karawang-Bekasi. Bahkan karena dianggap sebagai orang yang paling berbahaya, Pasukan Belanda juga mengerahkan pasukan dari Jakarta. Pasukan yang datang ke Rawagede bersenjatakan lengkap. Mereka sebagian besar berasal dari pos pasukan Belanda yang ada di Jakarta. Bahkan Pasukan Belanda sampai-sampai mengerahkan tank untuk mengakhiri perjuangan Kapten Lukas saat itu.

    Seluruh rumah di desa tersebut digeledah, karena yang dicari tak ditemukan, maka pasukan Mayor Wijman memerintahkan para laki-laki di desa itu berkumpul di lapangan luas untuk diinterogasi terkait keberadaan Lukas. Namun penduduk tidak ada yang mau membuka suara, sehingga para warga yang diinterogasi langsug di eksekusi.


    Monumen Rawagede (Dok. Info Budaya Jawa Barat)

    Dikutip dari Tempo, salah satu saksi kejadian itu mengatakan para tentara bertindak brutal, “Lalu terdengar tekdung, tekdung, bunyi senapan dikokang, kemudian ditembakkan.” tutur Lasmi, ia melihat suaminya tewas menjadi korban keganasan itu. Sementara pengakuan Wijman, 12 mortir yang pasukannya lontarkan, membakar 8-10 rumah. Wijman berkilah, ia hanya membawa 90 personel pasukan sat itu.

    Serangan yang berlangsung sejak pukul 04:00 WIB hingga 13:00 WIB ini, menurut data Yayasan Rawagede, pembantaian Belanda memakan 431 korban. Tapi klaim Belanda mereka hanya menembak mati 150 orang. Selama tiga hari pasca kejadian, peristiwa pembantaian di desa itu membuat para wanita mencari jasad suami atau anak lelaki mereka yang tewas, warga bergotong royong menggotong dan mengubur jenazah-jenazah dengan alat seadanya agar korban dapat dikebumikan dengan layak.

    Upaya mencari keadilan para korban sudah pernah dilakukan sejak tahun 1948, bahkan Dewan Keamanan PBB sebagai sebuah kekejaman, namun Belanda mengabaikan semuanya dan tak pernah membahas kasus ini ke Majelis Umum PBB. Tak sampai situ, masalah ini kembali terkuak pada 1968 ketika sebuah dokumen menyebutkan bahwa pemerintah Belanda memang mengakui adanya pembantaian massal di Rawagede.

    Banyak program dokumenter yang kembali mengangkat kesaksian orang-orang yang selamat. Pada tahun 1995 pemerintah Belanda mengakui tindak kekerasan di Rawagede tapi mereka beralasan kasus tersebut sudah kadaluwarsa dan sulit untuk dihadapkan ke pengadilan. Belanda akhirnya melunak ketika Menteri Luar Negeri Belanda yaitu Ben Bot menyampaikan penyesalan atas insiden tersebut pada 2005 dan pada September 2011.

    Pihak Belanda bersedia meminta maaf kepada para korban dan bersedia memberikan ganti rugi kepada keluarga korban pembantaian, masing-masing 20.000 euro (atau sekitar Rp243 juta), atas putusan pengadilan banding di Den Haag memutuskan bahwa pemerintah Belanda bertanggung jawab atas pembantaian tidak kurang dari 430 orang di Rawagede pada Desember 1947.
     

    Tag: sejarah nusantara

    Bagikan :