Kembangkan Destinasi Wisata Alam dan Budaya Tanah Air, Kemenparekraf Tekankan Prinsip Konservasi

| 27 Aug 2022 13:35
Alam bawah laut (Dok. Kemenparekraf)

ERA.id - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menekankan pentingnya prinsip konservasi dalam mengembangkan destinasi wisata alam dan budaya yang ada di Tanah Air.

Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf Ni Wayan Giri Adnyani saat memberikan sambutan dalam acara “Sustainable Tourism Development Forum (STDev) Forum Seri-2 secara virtual, Kamis (25/8/2022) menjelaskan sektor pariwisata menjadi sektor yang bergantung pada sumber daya alam, budaya, lingkungan, dan masyarakat sebagai daya tarik utama sekaligus menjadi sistem pendukung pembangunan sektor parekraf.

“Prinsip konservasi menjadi hal utama untuk membangun ekosistem pariwisata di Indonesia. Terlebih pembangunan kepariwisataan di era post pandemi harus mempertimbangkan _multiple crisis_ yang sedang dihadapi oleh manusia antara lain krisis lingkungan, krisis kesehatan, hingga krisis akibat perubahan iklim yang mengancam sumber daya alam, lingkungan, budaya, dan masyarakat,” ujarnya.

Sesmenparekraf juga mengatakan, prinsip-prinsip konservasi menjadi nilai-nilai yang menjadi acuan bagi Kemenparekraf dalam mengembangkan destinasi alam dan budaya guna menjaga kualitas dan keberlanjutan.

“Strategi konservasi yang dinamis akan menjadi semakin penting terutama sebagai sarana untuk memfasilitasi adaptasi terhadap perubahan iklim dan variabilitas serta ekstrem yang menyertainya, seperti kekeringan yang berkepanjangan,” katanya.

Kemenparekraf sendiri, lanjut Ni Wayan Giri Adnyani memiliki lima cakupan _flagship_ pariwisata berkelanjutan yang terdiri dari Sustainable Tourism Destination (STD), Sustainable Tourism Observatory (STO), Sustainable Tourism Certification (STC), Sustainable Tourism Industry (STI), dan Sustainbale Tourism Management & Marketing. Selain juga mengembangkan, memperkuat, serta memberlakukan skema Perhitungan Jejak Karbon.

“Sementara pada destinasi disertai dengan aksi pengimbangan karbon, menerapkan kebijakan terkait _carrying capacity_ dan _visitor management_ pada destinasi alam dan budaya, serta mengadakan festival dan _event_ budaya daerah dan nasional,” ujarnya.

Rekomendasi