Keajaiban di Gua Tham Luang Thailand

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Evakuasi korban terjebak Gua Tham Luang (Sumber: Pinterest)

Jakarta, era.id - Tim gabungan berhasil menyelamatkan seluruh korban yang terjebak di dalam Gua Tham Luang yang terletak di Provinsi Chiang Rai, Thailand, pada Selasa (10/7). Lewat proses evakuasi yang luar biasa menantang, tim berhasil menyelamatkan 12 anak anggota tim sepak bola Wild Boar dan satu pelatih mereka.

Keberhasilan dari proses evakuasi mulai terlihat pada Minggu (8/7), setelah rangkaian panjang perencanaan yang dilakukan. Dalam proses evakuasi hari itu, tim berhasil menyelamatkan empat orang anak dari dalam gua. Melihat hasil baik dari proses evakuasi sebelumnya, tim kembali melakukan evakuasi pada Senin (9/7) dan berhasil keluar bersama empat orang anak lainnya.

Terakhir, melalui proses evakuasi yang sama, tim berhasil mengeluarkan lima orang terakhir dari dalam gua. Lalu, bagaimana proses evakuasi dilakukan?

Sebelumnya, kamu perlu tahu bahwa proses evakuasi ini melibatkan begitu banyak pihak. Seenggaknya, sebelas pakar operasi penyelamatan dari China, 32 tentara Amerika Serikat, seorang pakar gua dari Inggris, dan 19 penyelam dari berbagai negara, serta jumlah enggak terhitung Polisi Federal Australia, tim penyelamat gabungan dari Myanmar dan Laos plus puluhan Angkatan Laut Thailand terlibat dalam operasi penyelamatan ini.

Dilansir Business Insider, proses evakuasi dilakukan para penyelam dengan bertaruh nyawa menembus serangkaian celah sempit tak teratur sepanjang empat kilometer. Saat berhasil menemui para korban, tim penyelam terlebih dahulu memberi pembekalan praktis soal teknik penyelaman kepada para korban.

Skenarionya, setiap korban yang didampingi dua penyelam diharuskan melakukan penyelaman menyusuri tali --sebagai penunjuk jalan keluar-- yang dipasang di sepanjang badan hingga mulut gua. Tantangannya, mereka harus melewati sejumlah celah sempit yang enggak mungkin dilalui seseorang dengan tabung oksigen di punggungnya.



Karena itu, di setiap celah sempit yang dilalui, para penyelam akan mencopot tabung udara para korban dan menyelinapkan tubuh korban dan tabung oksigen mereka secara bergantian. Ketika tahap itu dilakukan, para remaja akan diberikan masker wajah yang lebih ramah buat penyelam pemula, meski hanya bisa digunakan dalam jangka waktu yang pendek.

Keterbatasan kapasitas oksigen memang jadi risiko besar dalam proses evakuasi. Karenanya, di sepanjang badan gua, tim penyelamat menyiapkan ratusan tabung oksigen yang siap digunakan para penyelam dan korban dalam proses penyelaman mereka.

Enggak cuma celah sempit dan keterbatasan oksigen. Para penyelam dan korban nyatanya juga berkejaran dengan waktu, sekalian berharap hujan enggak turun di luar gua. Sebab, hujan bisa berbuntut pada banjir yang sangat mungkin membawa banyak puing ke dalam badan gua. Di luar gua, anggota tim lain terus memompa keluar air yang menggenangi badan gua untuk mempermudah proses evakuasi.

Banyak pihak menyebut proses evakuasi ini adalah hal yang gila dan sangat berbahaya. Bayangkan, untuk satu perjalanan masuk dan keluar, para penyelam membutuhkan waktu seenggaknya sebelas jam. Perkara bahaya itu memang terbukti. Dengan seluruh rasa hormat, seorang penyelam yang merupakan anggota Angkatan Laut Thailand tewas kehabisan oksigen dalam percobaan evakuasi pertama pada (6/7).

Selamatnya seluruh korban, bisa dibilang adalah sebuah keajaiban. Martin Grass, Ketua Kelompok Penyelam bahkan mengakui besarnya risiko yang dilalui seluruh penyelam dan korban dalam proses evakuasi ini. Kuncinya, kata Martin adalah memenangi pertarungan melawan ketakutan dan kepanikan di dalam diri sendiri. 

Martin bahkan menyebut, sejak awal, proses evakuasi dirancang dengan ketenangan tingkat tinggi. Maksudnya, dalam proses evakuasi, para penyelam harus memastikan para korban terjebak ikut menyelam dalam kondisi tenang, tanpa menahan napas dan membiarkan mereka bernapas dengan rileks melalui tabung oksigen.

Dan kata Martin, darah muda para korban barangkali juga jadi kemungkinan lain yang menyelamatkan mereka. "Bisa jadi bonus bahwa para remaja itu masih muda. Sebab ketika seseorang masih muda, mereka cenderung merasa jagoan dan melihatnya sebagai sebuah petualangan," ujar Martin.

Dan syukurlah, dengan kerja keras tim penyelamat doa begitu banyak masyarakat dunia serta berbagai kemungkinan yang disebut Martin di atas, seluruh korban akhirnya berhasil diselamatkan.


Situasi di dalam gua Tham Luang, Thailand (Foto Facebook Thai NavySEAL)


Keajaiban

Soal keajaiban ini, saya serius. Selain berbagai risiko yang ditempuh dalam proses evakuasi ini, nyatanya kemampuan bertahan hidup para korban ini memang gila. Bayangkan, sejak (23/6), atau lebih dari dua pekan mereka terjebak di dalam gua yang jelas minim oksigen, minim cahaya dan persediaan makanan yang entah seberapa terbatas, ya meski belakangan pasokan makanan dan peralatan pendukung lain dikirim dari luar gua.

Kamu bayangkan saja, apa yang mungkin terjadi pada seseorang yang terjebak dalam kondisi semacam itu? Eh, atau kamu enggak perlu membayangkan, sebab sebuah percobaan terkait ini sejatinya pernah dilakukan oleh seorang ahli geologi Prancis, Michel Siffre pada tahun 1962. Seperti ditulis Kompas.com pada (10/7), kala itu Siffre mengurung dirinya selama dua bulan di dalam glasier bawah tanah di sekitar Kota Nice.

Tanpa pencahayaan yang dan petunjuk waktu, entah itu kalender atau pun jam, Siffre membiarkan perilakunya didikte secara alami oleh tubuhnya. Siffre membuat catatan terkait aktivitasnya. Ia juga menelepon tim yang memantaunya di luar glasier setiap kali bangun tidur dan beberapa saat sebelum tidur. Dalam komunikasi itu, mereka enggak pernah sekalipun membahas perkara waktu.

Akhirnya, setelah dua bulan, Siffre dan timnya mulai membahas perkara waktu. Menariknya, persepsi Siffre kabur, ia yakin betul baru menjalani satu bulan pengurungan di dalam glasier. Kegelapan yang konstan adalah pemicu dari kaburnya persepsi psikologis Siffre.

Hal ini nyatanya cocok dengan apa yang dialami para korban yang terjebak dalam Gua Tham Luang, yang dalam komunikasi pertama dengan tim penyelamat langsung menanyakan, sudah berapa lama mereka terjebak.

Selain berubahnya persepsi psikologis terkait waktu, peristiwa tersebut tentu dapat menimbulkan trauma bagi para korban. Enggak adanya cahaya juga bisa memengaruhi bagaimana indera mereka bekerja. Hal-hal tersebut dapat memicu depresi, insomnia, hingga gangguan metabolisme. 

Kini, kondisi para korban diperkirakan baik, secara fisik maupun mental. Terakhir, tim medis menyatakan para korban dalam kondisi sehat, baik fisik atau pun mental. Meski begitu, tim tetap bersiaga mengantisipasi adanya gangguan kesehatan yang dialami para korban, terutama dua anak yang diduga mengalami infeksi paru-paru.

Jadi, selamat buat kita semua. Enggak lebay rasanya menyebut keberhasilan ini sebagai bekerjanya lingkaran aksi kemanusiaan, yaitu seorang penyelam yang menukar nyawanya untuk orang lain, 19 penyelam yang mempertaruhkan nyawanya untuk para korban, seluruh anggota tim penyelamat, pemerintah negara-negara yang terlibat dalam proses penyelamatan, hingga warga dunia yang sungguh-sungguh berdoa di dalam hati, bahkan untuk jemari netizen yang terus mengetik pesan penyeru semangat. Selamat!

Tag: terjebak di gua thailand gua tham luang viral anak nonton porno

Bagikan: