Wahai 10 Orang Utan, Selamat Bermain di Alam Liar

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Palangkaraya, era.id - Bulan Agustus punya makna spesial bagi orang utan. Bagi pelaku konservasi orang utan, mereka akan memperingati hari orang utan sedunia setiap 19 Agustus.

Bertepatan dengan itu, Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS) pada bulan ini kembali melepasliarkan 10 ekor orang utan di Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). Rencananya, orang utan yang akan dilepasliarkan terdiri dari tiga jantan dan tujuh betina.

"Ke-10 orang utan yang akan dilepasliarkan kali ini terdiri dari tiga jantan dan tujuh betina dalam rentang usia 13-16 tahun. Mereka akan dibawa dalam perjalanan menempuh jalur darat dan sungai yang memakan waktu kurang lebih 10 hingga 12 jam dari Nyaru Menteng ke titik-titik yang telah ditentukan di TNBBBR," kata CEO BOSF Nyaru Menteng, Jamartin Sihite di Palangka Raya seperti dilansir Antara, Selasa (14/8/2018).

Hal ini bukanlah aksi lepasliar yang pertama. Sebelumnya, BOS Foundation juga pernah melakukan hal serupa dua tahun lalu. Jadi, 10 orang utan yang dilepasliarkan ini akan menambah jumlah mereka di kawasan taman nasional itu menjadi 102 ekor.


Orangutan (Sumber: Pixabay)

Ada alasan khusus bagi mereka kenapa melakukan lepasliar pada bulan Agustus. Selain memperingati hari orang utan sedunia, ternyata mereka juga ingin mendedikasikan bulan ini sebagai bulan kebebasan dan kemerdekaan bagi orang utan.

"Bulan Agustus punya makna khusus bagi kami. Bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan setiap tanggal 17. Sementara, pelaku konservasi juga merayakan hari orang utan di bulan yang sama. Jadi kami ingin mendedikasikan bulan ini sebagai bulan kebebasan dan kemerdekaan bagi orang utan," ungkapnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Adib Gunawan bilang kalau kerja konservasi adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu panjang dan partisipasi dari semua pihak terkait. Sehingga, BKSDA Kalimantan Tengah terus melakukan kerja sama dengan Balai TNBBBR, USAID LESTARI, dan Yayasan BOS untuk melepasliarkan orang utan yang merupakan hasil rehabilitasi.

"Pelepasliaran yang kesebelas kalinya di hutan TNBBBR di Kabupaten Katingan ini akan menjadikan jumlah populasi orang utan di hutan tersebut menjadi 102, sebuah angka yang luar biasa hasil kerja keras banyak pihak selama dua tahun penuh," jelas Adib.

Ia juga meminta agar masyarakat bisa terlibat dalam upaya konservasi sumber daya alam. Apalagi satwa liar adalah bagian dari sumber daya alam hayati yang punya peran dalam menjaga kualitas hutan. 

"Seperti contohnya orang utan, jenis kera besar satu-satunya di Asia ini sangat penting bagi konservasi habitat. Ini sebab utama mengapa kita wajib menjaga serta melindungi hutan kita juga," ujarnya.

Tak hanya itu, Adib juga mengajak agar masyarakat turut menyukseskan visi strategi dan rencana aksi konservasi orang utan di Kalimantan Tengah dengan menjamin bertambahnya populasi dan terjaganya habitat orang utan.

Tag: orang utan hewan langka

Bagikan: