Perhatikan Kesehatan Hewan Kurban Sebelum Membeli

Tim Editor

    Sapi kurban. (era.id)

    Jakarta, era.id - Hassanudin warga kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ogah membeli hewan kurban di pedagang hewan jalanan. Ia khawatir dalam tubuh hewan kurban tersebut ditemukan penyakit.

    Sebagai panitia kurban bukan tanpa alasan Hassanudin tak mau lagi membeli hewan kurban di pedagang jalanan. Berdasarkan pengalamannya saat perayaan Idul Adha tahun lalu, saat baru akan disembelih tim kesehatan hewan kurban menemukan sapi-sapi tersebut dalam keadaan sakit perut. Kemudian ketika disembelih, darahnya menghitam dan tidak deras.

    "Daripada membatalkan keafdholan berkurban, yang sekarang kami beli di Kampung Sawah, Ciputat. Dekat tempat penjagalan dan ada tim kesehatan yang memastikan sapinya sehat dan makanannya baik," ujar Hassanudin, seperti dikutip Antara, Selasa (21/8/2018).

    Tak hanya Hassanudin yang merasa dirugikan sebagai pembeli. Seorang pedagang sapi di Kelapa Dua, Depok, H.Syaefudin pun punya pengalaman yang tak kalah mengecewakan. Pada Idul Adha 2017 lalu, sekitar 30 ekor sapi miliknya mendadak secara mati.


    Pemeriksaan kesehatan sapi oleh Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Depok di Pasar Kurban milik H.Syaefudin. (era.id)

    Saat disembelih, dokter hewan yang biasa memeriksa kesehatan hewan kurban miliknya menemukan air di paru-paru sapi yang mati. Diduga sapi berjenis sapi kupang tersebut mati lantaran praktik glonggongan yang dilakukan seorang penjual.

    "Tahun kemarin saya rugi banget. Pas sapi dianter ke tempat saya malem hari, paginya udah pada mati. Pas diperiksa enggak tahunya ada air di paru-parunya. Tapi ada juga yang mati karena sakit. Makanya sekarang hewan kurban saya dipantau dokter hewan terus biar terjaga kesehatannya," jelas H.Syaefudin kepada era.id, Selasa (21/8/2018).

    Istilah glonggongan sering dikaitkan dengan produk daging--biasanya sapi-- yang dijual setelah melalui proses yang tidak wajar. Beberapa jam sebelum penyembelihan, hewan potong diminumkan air secara paksa dalam jumlah besar, dengan maksud meningkatkan massa daging.

    Hasilnya, setelah hewan dipotong bobot dagingnya akan lebih tinggi. Dengan demikian, harga jualnya lebih tinggi. Dalam waktu yang cukup singkat, namun cukup lama untuk penjualan, bobot daging akan menyusut secara drastis setelah airnya keluar. Cara penjualan curang seperti ini banyak dilaporkan di daerah Jawa Tengah. Penjualan daging glonggongan sebetulnya melanggar hukum. Selain itu daging glonggongan diduga tidak sehat untuk dikonsumsi.

    Waspada hewan kurban berpenyakit

    Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1439 H jatuh pada 22 Agustus 2018, besok. Perkiraan jumlah hewan kurban dilaporkan tahun ini mencapai 1.504.588 ekor, atau meningkat 5 persen dari tahun 2017. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berinisiatif untuk membuat standarisasi hewan kurban dengan prinsip Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap, kesadaran masyarakat akan pentingnya penjaminan kualitas hewan kurban juga meningkat. Kualitas kurban tidak saja terkait dengan hal transenden, tetapi juga terkait dengan aspek sosial. Karenanya, kesehatan hewan kurban serta keamanan dan kelayakan daging kurban (higienitas) juga ikut meningkat.

    "Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat agar membeli daging kurban yang memenuhi standar kesehatan," pinta Amran dalam keterangan tertulis yang diterima era.id di Jakarta.

    Selain menjamin hewan kurban bebas penyakit zoonosis, yang berpotensi menular dari hewan ke manusia, fokus utama Kementan lainnya adalah memastikan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban agar memenuhi persyaratan syariat Islam dan kesejahteraan hewan. Selain itu, pendistribusian daging kurban yang memenuhi persyaratan higienis dan sanitasi, serta keamanan pangan tidak luput dari perhatian.


    Daging sapi sehat. (Foto: Pixabay)

    Secara detail, peraturan tersebut juga mengatur tentang persyaratan minimal yang harus dipenuhi mulai dari tempat penjualan hewan kurban, transportasi, tempat penampungan sementara, persyaratan lokasi yang akan dijadikan tempat pemotongan hewan kurban, tata cara penyembelihan hewan kurban, serta distribusi daging sesuai aspek teknis dan syariat Islam.

    Kementan juga menyampaikan imbauan untuk peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis saat pelaksanaan hewan kurban kepada seluruh dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di seluruh provinsi/kabupaten/kota. 

    "Tahun ini, kita kerahkan tim terdiri dari 2.698 orang petugas dari Pusat sampai daerah se Jabodetabek yang terdiri dari berbagai unsur, Pemerintah, organisasi profesi dan mahasiswa serta petugas kementerian agama," papar Amran.

    Tag: mari berkurban hari raya idul adha kesehatan

    Bagikan :