Jadi Miskin, Novanto Jual Aset dan Tagih Piutang untuk Uang Pengganti

| 18 Sep 2018 16:22
Terpidana kasus e-KTP, Setya Novanto (Fitria/era.id)
Jakarta, era.id - KPK menyebut terpidana dalam kasus korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto menjual aset miliknya untuk melunasi uang pengganti. Aset yang dijual tersebut adalah tanah dan bangunan yang berada di kawasan Cipete, Jakarta Selatan.

"Tanah dan bangunan di daerah Cipete, Jakarta Selatan akan dijual oleh keluarga SN dan uang hasil penjualan akan disetor ke rekening KPK sebagai bagian dari cicilan pembayaran uang pengganti," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Selasa (18/9/2018).

Selain akan menjual tanah dan bangunan, keluarga Setya Novanto juga telah memberikan surat kuasa kepada jaksa eksekusi KPK untuk menerima uang ganti rugi terkait tanah milik mantan Ketua DPR RI yang terimbas jalur kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Jaksa eksekusi KPK juga diberikan kuasa untuk menerima uang ganti rugi untuk tanah yang berlokasi di Jati Waringin terkait dengan pembebasan lahan untuk pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang melewati tanah Setya Novanto," jelas Febri.

"Total estimasi nilai tanah di Jatiwaringin dan tanah dan banginan di Cipete adalah sekitar Rp13 miliar," tambah dia.

Tagih piutang demi lunasi uang pengganti

Tak hanya menjual sejumlah aset, pria yang pernah menjabat sebagai ketua umum Partai Golkar itu mengaku menagih sejumlah piutang kepada rekan-rekannya untuk dapat membayar uang pengganti dalam perkara kasus korupsi e-KTP.

Saat ini, kata Novanto, dirinya hanya seorang rakyat biasa, tidak seperti beberapa bulan lalu saat dirinya masih menduduki jabatan strategis di parlemen dan partai.

Baca Juga : Kalapas Sukamiskin Akui Ada Sel Khusus untuk Novanto

"Sekarang kan saya sudah rakyat biasa. Dulu kalau ketua DPR tentu mudah untuk bisa bicara. Kalau sekarang, saya tagih uang ke teman-teman kita. Ada juga beberapa aset yang saya tagihkan, kita coba lagi maksimal ke teman-teman, karena kita lagi susah, ya kita harapkan kembalikanlah hal-hal yang memang harus," kata Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, seperti dikutip Antara, Selasa (18/9/2018).


(Infografis/era.id)

Istri Novanto, Deisti Astriani Tagor pada hari ini juga datang ke KPK untuk berkoordinasi terkait pembayaran uang pengganti tersebut.

Baca Juga : Sel Mewah jadi Bukti Susahnya Koruptor Tinggalkan Kemewahan

"Ibu tadi kan mencocokan masalah ya, niat kita untuk bisa bantu pemerintah, bantu KPK, masalah yang berkaitan penggantian uang penganti. Jadi ada beberapa aset yang perlu diambil dan juga melihat perkembangan supaya semua bisa terlaksana dengan baik," tambah Novanto.

Bila ia tidak dapat menarik piutang kepada rekan-rekannya maka Novanto berencana menjual sejumlah aset miliknya. "Kalau tidak ya kita juallah aset-aset yang bisa kita lakukan, tapi yang berutang pada lari, pada meninggalkan, jadi saya kaget juga begitu ya," ungkap Novanto.

Setelah putusan inkrah atau berkekuatan hukum tetap, Novanto wajib membayar uang pengganti sesuai amar putusan hakim. Mengacu ke Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, jika tidak dibayar maka dapat dilakukan penyitaan aset dan dilelang untuk negara.

Supaya kamu tahu, jaksa eksekusi pada Unit Kerja Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi (Labuksi) KPK melakukan pemindahan aset terpidana kasus korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yaitu Setya Novanto.

Baca Juga : Mencari Aset Novanto untuk Tutupi Uang Pengganti Korupsi

Adapun uang yang dipindahkan dari rekening Bank Mandiri milik mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mencapai Rp1.116.624.197. Pemindahan tersebut dilakukan setelah KPK mendapatkan surat kuasa dari mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Supaya kalian ingat, mantan Ketua Umum Partai Golkar ini telah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dengan denda sebesar Rp500 juta subsider tiga bulan penjara. Tak hanya itu, terpidana yang kini tengah menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat ini juga dikenakan pidana tambahan.

Adapun pidana tambahan yang dijatuhkan terhadap Setya Novanto adalah ia diwajibkan membayar uang pengganti sebesar 7,3 juta dolar AS dikurangi uang yang sudah dikembalikan sebesar Rp5 miliar dan pengembalian sebesar 100.000 dolar AS.

Baca Juga : Istri-istri Para Koruptor dalam Pusaran Kasus

Selain itu, bila merujuk ketentuan Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999, Setya Novanto punya waktu hingga 30 hari terhitung setelah vonisnya dinyatakan berkekuatan hukum tetap. Apabila tak sanggup membayar uang pengganti, maka aset miliknya akan disita dan kemudian dilelang.


(Infografis/era.id)
Rekomendasi