Kesaksian Sukitman, Penemu Jasad 7 Pahlawan Revolusi

Tim Editor

Penemu jasad tujuh pahlawan revolusi, AKBP Sukitman. (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Malam itu jadi malam yang panjang bagi Sukitman. Agen Polisi II itu jadi saksi dikuburkannya tujuh jenazah perwira tinggi militer Indonesia ke dalam sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Polisi kelahiran Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, 30 Maret 1943 itu mungkin tak pernah membayangkan bisa menyaksikan peristiwa tragis G30S/PKI. Malam itu, tepat saat peristiwa penculikan tujuh jenderal terjadi, Sukitman lagi jaga di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI, Jalan Iskandarsyah, Jakarta.

Sukitman berjaga bersama rekannya, Sutarso yang kebetulan berpangkat sama dengan dirinya. Lokasi jaga kedua polisi itu memang tak jauh dari kediaman Mayjen Donald Isaac (D.I) Panjaitan, salah satu korban kebiadaban PKI, yang saat itu mengatasnamakan sebagai pasukan Cakrabirawa (sekarang Paspampres). 

Saat itu, Sukitman mendengar rentetan tembakan dari arah kediaman D.I Panjaitan, di pagi buta pada 1 Oktober 1965. Karena penasaran, pria bekumis ini lantas bergegas menghampiri suara tembakan itu dan meninggalkan rekannya yang tetap di pos jaga.

Baca Juga : Peringatan 20 Tahun Reformasi: Kerusuhan Hingga Operasi Tim Mawar


Sepeda kumbang yang dikendarai Sukitman. (Foto: Istimewa)

Dengan mengendarai sepeda kumbang, Sukitman terus mengayuh mendekati sumber suara. Sialnya, di tengah perjalanan Sukitman diberhentikan beberapa oknum berseragam loreng lengkap dengan baret merah di kepala. Di bawah ancaman senjata laras panjang, Sukitman diturunkan dari sepeda. Ia kemudian diseret dan dilemparkan masuk ke dalam truk dalam keadaan tangan terikat dan mata tertutup. 

Ya, saat itu Sukitman ikut dibawa ke Lubang Buaya bersama ketujuh jenderal, yakni Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI R. Suprapto, Mayjen TNI M.T. Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI D.I Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, Perwira TNI Lettu Pierre Tendean--Ajudan A.H Nasution. Sukitman bahkan mengaku sempat disiksa oleh pasukan yang membawanya. 

Dikutip dari buku 'Kesaksian Sukitman, Penemu Sumur Lubang Buaya', dari jarak sekitar 10 meter Sukitman melihat dengan jelas orang-orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, "Ganyang kabir, ganyang kabir! (Ganyang jenderal)"

Baca Juga : Sikap Politik Soeharto Pilih Tempat Makam Bung Karno

Di dalam sumur itu dimasukkan jasad tujuh pahlawan revolusi--entah dari mana–yang langsung disusul oleh berondongan peluru pasukan Cakrabirawa. Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempat dirinya ditawan.

Saat itu Sukitman merasa sangat pusing. Ia kemudian masuk ke kolong sebuah truk di dekat lokasi sumur untuk berbaring. Dari kolong truk, Sukitman sempat beberapa kali suara tembakan, namun ia tak menghiraukan dan tetap tidur. 


Tujuh pahlawan revolusi. (Foto: Istimewa)

Hingga keesokan harinya yakni pada 1 Oktober 1965, Sukitman mendapati dirinya tengah terbaring sendirian tak jauh dari sumur tua. Tak ada aktifitas apapun di tempat itu. Para pasukan baret merah yang semula di lokasi pun tak nampak satu orang pun.

Mengetahui itu, Sukitman langsung bergegas melarikan diri dan melapor ke markas Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Pada 3 Oktober ia dipertemukan dengan Kolonel Sarwo Edi Wibowo. Sukitman diminta membuat denah tempat pembuangan mayat para jenderal, untuk dijadikan petunjuk pasukan RPKAD menuju lokasi tersebut. 

Saat menjadi pemandu, Sukitman yang didampingi Mayor CI Santoso dan ajudan Letjen Ahmad Yani, Kapten CPM Subarti, nyaris tak bisa menemukan lubang yang dimaksud, lantaran tertimbun sampah. Para pelaku pembantaian tujuh jenderal itu memang sengaja menyembunyikan sumur tua itu dengan menanamkan pohon pisang di atasnya.

Beruntung setelah beberapa waktu mencari, pada 4 Oktober 1965 akhirnya sumur tua tempat dijebloskannya jasad ketujuh pahlawan revolusi itu bisa ditemukan.


Proses evakuasi jenazah tujuh pahlawan revolusi di Lubang Buaya, Jakarta Timur. (Foto: Istimewa)

Atas jasanya menemukan sumur tua dan menjadi saksi pembantaian perwira tinggi militer itu, nama Sukitman kian dikenal. Kariernya pun melejit, ia menerima penghargaan berupa kenaikan pangkat menjadi Agen Polisi Satu. Dia mendapatkan kenaikan pangkat dari AKP (Ajun Komisaris Polisi) menjadi AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). 

Baca Juga : Tommy Soeharto Mungkin Lupa dengan Reformasi 1998

Tak hanya itu, Bintang Satria Tamtama diperolehnya bertepatan dengan Hari Kepolisian, 1 Juli 1966, dan Bintang Satya Penegak diberikan oleh Presiden Soeharto, tepat pada Hari ABRI, 5 Oktober 1966.

Sukitman yang wafat di usia 64 tahun di Rumah Sakit Bakti Yudha Depok pada 13 Agustus 2007, dihormati dengan upacara kemiliteran ketika disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan.

Tag: pki

Bagikan: