Menjadi 'Telinga' untuk Keluarga Korban Lion Air JT 610

Tim Editor

Mala Sari, saat memberikan psiko-edukasi kepada keluarga korban (Foto: Istimewa)

Jakarta, era.id - Meski hari sudah sore, seakan tak merasa lelah para keluarga korban terus menunggu kabar perkembangan evakuasi pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang. Harapan mereka sama, ingin keluarganya ditemukan. 

Sembari menunggu kabar terbaru dari RS Polri, Kramat Jati , Jakarta Timur soal keluarga mereka yang jadi korban pesawat nahas ini, mereka saling menghibur satu sama lain. Berlindung di bawah tenda putih dengan suasana mendung tapi tak hujan, sangat kontras dengan kondisi mereka yang mencoba kuat di tengah kenyataan pahit harus kehilangan sanak saudara ataupun anak yang dikasihi. 

Toh, meski sebagian kuat, nyatanya cukup banyak keluarga korban yang harus datang ke Posko DVI RS Polri Kramat Jati dengan derai air mata dan kebingungan.

Sadar akan kebutuhan pendampingan psikologi atas keluarga korban, lima wanita yang ditugaskan sebagai relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) pun bersedia menemani keluarga korban agar diberikan kekuatan menerima kenyataan.



Suasana Posko DVI RS Polri Kramat Jati (Foto: Istimewa)

Salah satunya, Mala Sari. Wanita yang tergabung di PMI cabang DKI Jakarta ini sudah sejak Senin kemarin bertugas untuk memberikan dukungan psikososial atau bentuk pencegahan terhadap hal traumatik. Mala bersama beberapa rekannya, bertugas menjadi pendengar bagi keluarga korban.

“Kami memberikan bantuan kepada keluarga penyintas, atau keluarga korban secara psikologi. Pendekatannya melalui komunikasi,” ujar Mala saat ditemui di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (31/10/2018).

Tim era.id berkesempatan mendengar cerita Mala. Salah satu ceritanya tentang sepasang orang tua yang kehilangan anak bungsunya. 

“Jadi, si bungsu ini ternyata tak pernah menggunakan maskapai (Lion Air) ini. Tapi si bapak bilang, mungkin karena kehendak Tuhan, akhirnya naik maskapai ini. Kemudian mereka bercerita kalau mereka tak percaya (kecelakaan) ini terjadi, mereka tak bisa tidur dan (terus) berharap. Mereka juga mencoba menghubungi anaknya dengan harapan teleponnya diangkat,” cerita Mala.

“Ayahnya berharap anaknya masih ada, sementara si ibu tidak berhenti menangis dan terdiam. Ayahnya juga sesekali mengusap air mata,” imbuhnya.

Setelah menjadi pendengar yang baik untuk para keluarga korban, Mala akan memberikan psiko-edukasi dan menjelaskan bahwa apa yang dirasakan oleh para keluarga korban adalah sesuatu yang wajar. 

“Kami berikan informasi kalau misalnya saat ini, sepekan ini dia tidak bergairah untuk berkomunikasi dengan orang lain kami tidak akan paksa. Tapi karena keluarga penyintas mau bercerita maka kami teruskan sampai dia minta kami berhenti dan tidak bertanya lagi,” jelas Mala.


Mala Sari, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta (Foto: Istimewa)

Wanita berhijab ini mengatakan, banyak keluarga korban yang terbuka dengan program psikososial yang disediakan PMI ini. Sebab, program ini bisa menjadi penghilang kejenuhan dan kebingungan yang melanda keluarga korban.

Tapi, ada juga keluarga korban yang lebih nyaman bercerita kepada kolega terdekatnya. Kalau sudah begini, Mala tak akan mendekat atau sekadar untuk memberikan dukungan moral. 

Karenanya, Mala punya target siapa saja yang butuh diberikan pendampingan secara psikososial.

“Pada saat kami melihat sesorang datang sendiri, contoh anak kehilangan orang tuanya tapi dia datang sendiri atau pun siapapun ketika ia tampak kebingungan dan sendirian maka akan kami hampiri. Tapi kalau sudah dikelilingi keluarganya kami tidak boleh masuk di dalamnya,” ucap Mala.

“Jadi, kami utamakan mereka yang datang sendiri ataupun yang sedang melamun,” tutupnya sore itu.

Baca Juga : RS Polri Belum Bisa Identifikasi Korban Lion Air JT 610


Mala Sari, saat memberikan psiko-edukasi kepada keluarga korban (Foto: Istimewa)

Tag: lion air jatuh

Bagikan: