Jetlag Setelah Libur, Rupiah Tidak Bersemangat

Tim Editor

Ilustrasi Rupiah (Pixabay)

Jakarta, era.id - Setelah hari libur kejepit (Harpitnas) kemarin, rupiah kembali membuka perdagangannya dengan posisi yang sedikit lesu dan tidak bersemangat. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka pada kisaran Rp14.615 pagi ini.

Mengutip data perdagangan Reuters, Rabu (21/11/2018) pukul 09.20 WIB, rupiah dibuka pada level Rp14.585 per dolar AS. Rupiah sedikit melemah 0,21 persen dibandingkan posisi penutupan pasar awal pekan ini. 



Jika ditarik dalam 5 hari ke belakang, setelah lengser dari Rp15 ribu, dolar AS terpantau bergerak cukup stabil di kisaran Rp14.500-an hingga Rp14.600-an. Namun, sehari setelah libur Maulid Nabi Muhammad SAW, rupiah mengalami jetlag dan berpotensi melemah karena keperkasaan dolar AS yang menaklukkan Asia dan dunia. 

Sementara di sejumlah bank nasional, dolar AS terpantau dijual dengan harga terendah Rp14.611 (Bank BCA) pada pukul 09.39 WIB. Sedangkan harga tertinggi, dijual oleh Bank Mandiri Rp14.670 per dolar AS.



Analisa

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, mengatakan munculnya penilaian sejumlah kalangan analis bahwa the Fed tidak akan agresif menaikan suku bunga menjadi faktor yang membuat fluktuasi mata uang negara berkembang terjaga, termasuk rupiah.

"Pelaku pasar menilai ulang laju kenaikan suku bunga AS di masa yang akan datang. Perlambatan ekonomi dunia dapat menahan agresifitas the Fed terhadap suku bunganya," katanya seperti dikutip Antara.

Ditambahkannya pelaku pasar juga mulai kembali melirik instrumen investasi di negara berkembang mengingat kurs dolar AS telah menguat cukup tinggi pada tahun ini akibat pengetatan suku bunga Fed.

"Apalagi, situasi di dalam negeri juga cukup positif sentimennya," katanya.

Ia mengemukakan, kebijakan Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan yang bertujuan untuk menyelamatkan defisit transaksi berjalan masih direspon positif pelaku pasar uang di dalam negeri.

 

Tag: nilai tukar rupiah dolar as

Bagikan: