Empat Unicorn dan Gelimang Uang di Belakangnya

Tim Editor

Ilustrasi (Wicky Firdaus)

Jakarta, era.id - Gelar debat capres malam kemarin meninggalkan gema untuk satu kata: unicorn. Bukan, bukan hewan mitologi berbentuk kuda bertanduk, apalagi merek obat kuat. Unicorn adalah yang "online-online itu." Halah, bagaimana menjelaskannya, ya. Yang jelas, banyak kesalahpahaman soal unicorn tadi malam.

Jadi, dalam sesi tanya jawab antardua capres, Jokowi melontarkan pertanyaan kepada Prabowo soal bagaimana strategi Prabowo mengelola ekonomi digital sekaligus memberdayakan unicorn-unicorn Tanah Air. Sejenak, Prabowo nampak kebingungan, hingga ia melontarkan pertanyan balik untuk Jokowi: Yang Bapak maksud unicorn? Maksudnya yang online-online itu, iya, kan?

Kubu lawan, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin langsung mengkritisi ketidaktahuan Prabowo soal unicorn. Wakil Direktur Komunikasi Politik TKN, Ipang Wahid bahkan menyebut ketidaktahuan Prabowo soal unicorn sebagai hal yang fatal, tal, tal.

"Ketidakpahaman Pak Prabowo terhadap unicorn membuat saya khawatir, jangan-jangan beliau tidak paham perkembangan ekonomi digital. Ini fatal," kata Ipang dalam siaran pers, Senin (18/2/2019).

Kami sih tak ingin berburuk sangka juga terhadap Prabowo. Siapa yang tahu jika Prabowo sejatinya paham apa itu unicorn, pegasus, centaur, phoenix atau pun mermaid. Tapi kan memang enggak semua orang bisa menjelaskan dengan baik hal-hal yang sejatinya ia pahami. Azeeek~

Jadi, unicorn adalah predikat yang diperuntukkan kepada perusahaan startup yang valuasinya telah melebihi angka 1 miliar dolar AS. Apa itu valuasi? Valuasi adalah nilai dari suatu startup, dihitung dari modal awal hingga suntikan investasi dari pemodal yang terlibat dalam pengembangan startup.

Sederhananya, misal kamu adalah perintis sebuah startup yang punya modal Rp5 miliar. Lalu di tengah perjalanan bisnis, kamu dapat suntikan dana Rp5 miliar dari investor, maka valuasi startup-mu adalah Rp10 miliar.

Nah, di Tanah Air tercinta ini, ada empat startup yang sudah mendapat predikat unicorn. Mereka adalah Bukalapak, Tokopedia, Go-Jek, dan Traveloka. Perusahaan-perusahaan rintisan ini nih yang jadi citra kesuksesan startup di Tanah Air.


Jokowi dan Prabowo dalam debat (Istimewa)


Uang unicorn ke mana?

Kembali dalam konteks debat, nih. Memang, Prabowo menyatakan dukungan pada pengembangan ekonomi digital Tanah Air. Namun, di ujung pernyataannya, Prabowo justru dinilai menyinggung hal yang kontradiktif dengan pernyataan dukungan yang ia sampaikan di awal pernyataan.

Prabowo bilang, bangsa ini enggak boleh terbuai dengan antusiasme perkembangan teknologi, termasuk soal berkembangnya startup-startup berbasis teknologi ini. Katanya, perkembangan ini justru membuka peluang lebih besar untuk negara luar menyedot uang-uang di dalam negeri.

"Jadi kalau ada unicorn-unicorn. Ada teknologi hebat, saya khawatir mempercepat uang kita lari ke luar negeri. Kalau kita tidak hati-hati dengan antusiasme untuk internet, e-commerce, e ini, e itu, saya khawatir ini bisa mempercepat uang lari dari dalam negeri ke luar negeri," tutur Prabowo dalam debat di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2).

Nah, pernyataan Prabowo ini nyatanya mengundang banyak kritikan juga, nih. Kalau Ipang Wahid sih bilang, pernyataan tersebut menandakan Prabowo enggak memahami konsep dasar ekonomi digital.

Soal unicorn yang membuka peluang larinya uang-uang ke luar negeri, misalnya. Kata Ipang, ada kesalahpahaman soal ini. Ipang bilang, berkembangnya startup enggak berkaitan dengan larinya uang ke luar negeri. Justru sebaliknya. Kata Ipang, startup unicorn ini justru menarik investasi dari luar negeri.

"Justru startup unicorn ini menarik investasi dari 'venture capital' di luar negeri untuk masuk ke Indonesia. Pak Prabowo sepertinya tidak tahu apa itu unicorn," tutur Ipang.

Tapi, barangkali Prabowo juga enggak sepenuhnya salah. Sebab, dengan konsep investasi, maka sejatinya perputaran uang memang akan melibatkan dua pihak, yakni perusahaan startup dan para investornya. Nah, sekarang tinggal kita lihat, empat startup unicorn lokal ini investornya berasal darimana saja.


Ilustrasi (Wicky Firdaus)


Bukalapak

Berdasar penelusuran tim riset kami, Bukalapak memiliki empat investor, yaitu Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, GIC, Emtek Group, dan Ant Financial. Dari keempat investor itu, hanya Emtek yang terdaftar sebagai investor dalam negeri Bukalapak.

Bahkan, merujuk situs Crunchbase, investor utama Bukalapak adalah Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, yakni perusahaan joint venture (investasi bersama) asal Seoul Korea Selatan. Nilai investasi yang digelontorkan termasuk dalam golongan series D, mencapai 50 juta dolar AS (sekitar Rp709 miliar). 

Tokopedia

Masih merujuk pada situs Crunchbase, Tokopedia disokong pendanaan dari Softbank, Alibaba Group, Sequoia Capital India, CyberAgent, East Ventures, serta Beenos Partners.

Nah, investor utama mereka adalah Softbank dan Alibaba. Softbank merupakan perusahaan investor asal Tokyo, Jepang yang dikabarkan baru menyuntikkan dananya ke Tokopedia bersama dengan perusahaan investor lainnya --termasuk Alibaba-- senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp14,5 triliun. Seperti diketahui, Alibaba adalah perusahaan multicommerce asal China. 

Go-Jek

Go-Jek sendiri sudah didanai oleh 23 investor. Yang terbaru, mereka mendapat pendanaan dari raksasa teknologi asal Amrik, Google, serta raksasa e-commerce asal China, Tencent Holdings. Menurut Techcrunch, pendanaan terbaru yang berhasil digalang Go-Jek dari Google, JD.com dan Tencent kabarnya mencapai 1 miliar dolar AS. 

Traveloka

Kemudian unicorn Traveloka sampai saat ini sudah disuntik dana oleh enam perusahaan investasi. Dari keenam perusahaan tersebut, tak satupun dari Indonesia. Pemodal utama Traveloka sendiri di antaranya adalah Expedia, perusahaan travel agency asal Washington, Amrik; Hillhpuse Capital Group, perusahaan investasi asal Beijing, China; dan JD.com, perusahaan e-commerce yang berbasis di Beijing China juga.


 

Tag: serunya debat capres unicorn startup pertumbuhan ekonomi

Bagikan: