Harus Seperti Apa Guru Mengajar di Sekolah?

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Akhir-akhir ini kita acap kali menemukan peristiwa siswa bersikap kurang ajar terhadap gurunya. Mulai dari tindakan verbal sampai aksi fisik. Main sikat main embat guru yang lewat.

Tak ayal peristiwa pertikaian murid terhadap guru seolah menjadi sebuah drama fenomena di media sosial. Di mana murid mengisi peran antagonis dan guru menjadi sebaliknya. Sebagian orang melihat ini adalah sebuah fenomena krisis prilaku murid. 

Sebelum cari tau akar masalahnya dimana, kita sedikit recall kejadian yang baru-baru terjadi tentang peristiwa pertikaian guru dengan murid. Yang paling baru dari kasus ini adalah dengan murid terjadi lima hari lalu (20/2), tempatnya di di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Yogyakarta. Dalam video yang viral di sosial media terlihat seorang murid laki-laki mendorong gurunya karena ponsel miliknya disita.

Dalam video berdurasi 30 detik itu sang guru Sujiyanto (55) terlihat didorong oleh murid OS (17). Dalam pemberitaan, Sujiyanto membantah persitiwa itu disebut sebagai perkelahian. Namun ia juga mengakui bahwa tindakan muridnya itu tidak pantas untuk dilakukan.

Masih di awal 2019, kejadian serupa juga terjadi di SMP PGRI Wringinanom, Gresik. Modelnya sama, video yang menunjukan seorang pelajar yang kurang ajar terhadap gurunya viral. 

Mulanya, seorang guru honorer bernama Nur Khalim menegur pelajar yang hendak membolos untuk kembali ke kelas, namun ada satu pelajar yang emosi. Siswa itu kedapati merokok di dalam kelas kemudian setelah ditegur dirinya malah menantang sang guru berkelahi. Peristiwa itu lantas menarik reaksi simpatik publik untuk kesabaran Khalim yang mampu menahan diri tetap sabar dan tidak terprovokasi.



Ketinggalan Zaman

Dari rangkaian peristiwa tersebut, menyulut perdebatan di ruang publik tentang sikap murid yang dianggap sudah tidak menaruh hormat kepada guru. Padahal, perilaku murid yang seperti itu bukan sepenuhnya salah mereka. 

Pengamat pendidikan Mohammad Abduhzen menjelaskan bahwa sekolah dan guru-guru, serta orang tua dalam sikap dan pemikirannya ketinggalan zaman terhadap mendidik murid. 

"Dalam sikap dan pemikirannya terhadap murid dan guru tidak cepat berubah mengikuti perkembangan budaya," katanya kepada era.id, Senin (26/2/2019).
 
Rangkaian peristiwa seperti disebutkan di awal tulisan memang menunjukan bahwa telah terjadi perubahan perilaku murid terhadap guru seiring perkembangan teknologi dan budaya. Sayangnya, pihak sekolah, guru-guru, serta peran orang tua tidak cepat tanggap dalam mengikuti perkembangan budaya. 

Lebih jauh Abduhzen menjelaskan bahwa dalam hubungan murid-guru ada kesenjangan. Maksudnya para pelajar saat ini yang tergolong sebagai anak millenial tidak menyukai cara-cara lama dalam pembelajaran. 

"Millenial tak suka cara-cara pembelajaran lama yang membosankan. Duduk lama-lama, diceramahi, nulis, diem," urainya. Selain itu, Abduhzen menambahkan pendekatan dan metode yang diajarkan para guru belum banyak berubah. 
 
 

Murid kucrut. Itu diliatin sama ibu gurumu.

Sebuah kiriman dibagikan oleh ???? ???? ???? ???? ???? ???? _???? ???? (@riweuh_id) pada



Pendidikan Indonesia Memprihatinkan

Apa yang Abduhzen bilang soal metode dan pendekatan yang guru lakukan masih ketinggalan zaman sejalan dengan masih rendahnya kualitas guru Indonesia. Misalnya coba kita lihat data Uji Kompetensi Guru (UKG) dari Kemdikbud. Data itu menunjukan bahwa hasil UKG guru Indonesia baru mencapai nilai rata-rata 53,02 masih berada di bawah standar kompetensi minimal yang ditetapkan sebesar 55,0. 

Sementara itu, dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, baru tujuh provinsi yang mencapai di atas standar nilai UKG yakni Bali, Kep. Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta. 

Bukan hanya soal kualitas guru, dunia pendidikan juga masih terbentur masalah standar pelayanan minimal pendidikan. Bekas Menteri Pendidikan Anies Baswedan dalam lembar pemaparannya (pdf) menjelaskan menurut data pemetaan Kemendikbud terhadap 40.000 sekolah pada tahun 2012 mengungkap sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia tidak memenuhi standar layanan minimal pendidikan tersebut.

Jangan sedih dulu melihat indikator-indikator yang menunjukan masih buruknya kualitas pendidikan Indonesia, karena apabila melihat data peringkat secara Internasional, Indonesia masih berada di posisi belakang juga. Menurut laporan Program for International Student Assesment (PISA) pada 2015, kemampuan akademik pelajar Indonesia ada di posisi 62 dari 72 negara yang diteliti.

Oleh karena itu, para pemangku kebijakan dan semua elemen yang terlibat tidak bisa berpangku tangan melihat keadaan ini. Terlebih soal metode mengajar yang seharusnya bisa dikembangkan oleh setiap guru masing-masing. Apalagi di era millenial ini, diperlukan metode berbeda agar kegiatan belajar-mengajar jadi lebih efektif. 

Abduhzen mengatakan cara yang paling sesuai untuk melakukan pendekatan dengan millenial yakni dengan menggunakan cara yang mengedepankan dialog. Misalnya "menggunakan infografis, tugas bersama, online sistem, dan lainnya," pungkasnya.

Tag: riwayat pendidikan tri mumpuni masuk sekolah pelajar indonesia

Bagikan: