Ketika Chernobyl Meledak

Tim Editor

Foto Wendelin Jacober via Pixabay

Jakarta, era.id - Pagi itu, 26 April 1986, Oleksiy Breus, salah seorang operator di ruangan pengontrol Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl belum ngeh apa yang telah terjadi selepas tengah malam tadi. Seperti hari-hari kerja biasanya, ia berangkat dari tempat tinggalnya di Pripyat dengan menggunakan bus.  

Setelah sampai lokasi, ia baru sadar ledakan telah terjadi. Tempat kerjanya luluh lantak. Sampai detik ini ledakan tersebut diketahui sebagai salah satu ledakan nuklir terparah di dunia. 

"Sepertinya itu akan menjadi kuburan massal. Saya yakin bahwa seluruh shift malam telah mati di sana," kata Breus kepada Sky News.

Sebelumnya, pada pukul setengah dua dini hari, sebuah alarm berbunyi di PLTN yang terletak di Pripiyat, Uni Soviet (sekarang Ukraina). Waktu itu para petugas sedang melakukan pengujian. Sesaat kemudian, panel kontrol menandakan adanya krisis besar di reaktor nomor empat. 

Terjadi lonjakan energi tiba-tiba yang membuat reaktor terlampau panas dan akhirnya meledak. Konon ledakan itu setara dengan 500 bom nuklir. 

Breus menyaksikan dari dalam bus, bagaimana bangunan-bangunan pembangkit listrik itu hancur. Bagian atas reaktor dan tong pemisah terbuka. Di bagian bawah reaktor, terlihat sistem pendingin daruratnya hancur lebur. Lempengan-lempengan reaktor itu bercampur dengan runtuhan beton. 

"Bulu kuduk saya berdiri ketika melihat itu," saksinya. 


Foto Sergiiasvn via Pixabay 


Sembari melangkahi gumpalan grafit --mineral karbon-- Breus dan rekan kerjanya harus menyelamatkan mereka yang terluka akibat kebakaran, puing-puing, air panas, uap, dan radiasi. "Kami harus menemukan mereka, membawa mereka keluar dan mengirim ke tenaga medis dan mencari orang lain," kata Breus. 

Saat melakukan upaya penyelamatan, ancaman tidak hanya datang dari radiasi nuklir, lempengan beton yang bergelayutan pada bangunan yang hancur siap menghantam kapan pun yang berada di bawahnya. Breus menceritakan bagaimana rekannya berhasil selamat dari hantaman beton pada saat itu. 

"Ketika dia mendengar ledakan itu, dia melihat ke atas dan melihat lempengan beton jatuh padanya. Dia mulai berlari dan lempengan itu jatuh di belakangnya. Dan ketika dia melarikan diri dari aula, sekitar lima lempengan jatuh di belakangnya seperti kartu domino. Dia selamat , tapi dia tidak bisa lari dari penyakit radiasi," kisahnya.

Bencana serius

Sementara itu ketika peristiwa itu terjadi, Kepala pemerintahan Soviet Nokolai Ryzhkov --orang yang memimpin satuan tugas untuk membersihkan akibat mengerikan dari kecelakaan tersebut-- tidak berpikir kalau peristiwa tersebut adalah hal yang teramat serius. Soalnya, sebelum itu, sudah pernah terjadi kecelakaan seperti generator dan turbin rusak.

Namun setelah dirinya mengetahui bahwa yang meledak adalah unit energinya, "Saya segera mengambil langkah," katanya kepada Russia Beyond. 

Atap reaktor yang meledak itu memuntahkan debu partikel radioaktif ke atmosfer. Sementara hujan beracun merusak tanaman dan menyebabkan mutasi hewan di sana.  

Seperti diketahui, di kota Pripyat --lokasi meledaknya PLTN--, ada 50 ribu orang yang tinggal. Makanya, beberapa waktu setelah mendapatkan kabar itu, Ryzhkov segera memerintahkan evakuasi. Proses evakuasi berlangsung kurang lebih selama 24 jam. Mereka yang sudah dievakuasi tidak diperkenankan untuk kembali ke rumahnya. 

Radius radiasi terus meluas, melihat National Geographic, sekitar 18 mil dari reaktor Chernobyl ditetapkan sebagai “Zona Eksklusif”. Akses ke zona ini diperbolehkan apabila mendapat izin dari pemerintah Ukraina. Dan hanya boleh berada di sana selama 12 jam. 

Efek radioaktif kemudian dirasakan terus meluas hingga ke negara Skandinavia, Swiss, Yunani, Italia, Prancis, dan Inggris. Seperti diketahui, menurut beberapa media jumlah radiasi dari bencana ini 100 kali bahkan ada yang menyebut 400 kali lebih luas dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima sementara ada juga yang bilang 400 kali lipat.

Sementara itu untuk jumlah pasti korban meninggal dari bencana tersebut sebenarnya masih abu-abu karena ada yang menilai data kematian disembunyikan oleh Pihak Uni Soviet. Menurut National Geographic, laporan itu hilang ketika negara tersebut bubar. 

Tapi sebelumnya, Express.co.uk mengabarkan bahwa catatan resmi Soviet menyebutkan angka 31 untuk jumlah korban meninggal. Namun jumlah sebenarnya diperkirakan mencapai ribuan orang. 

Apabila merujuk Union of Concerned Scientists diperkirakan korban meninggal ada sekitar 4.000 hingga 27.000. Sedangkan menurut Greenpeace memperkirakan antara 93.000-200.000 orang tewas akibat bencana tersebut.
 


Infografik oleh Ilham/era.id



 

Tag: bencana alam

Bagikan: