Menghadapi Cuaca Ekstrem Dingin di Bandung

Tim Editor

Ilustrasi (Pixabay)

Bandung, era.id - Belakangan ini, suhu di Bandung dan sejumlah daerah di Jawa Barat menunjukkan hal yang tidak biasanya. Bahkan, di daerah Lembang, suhu mencapai 13 celsius.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, suhu dingin ini merupakan fenomena yang wajar yang menandakan datangnya periode musim kemarau. Untuk Jawa Barat, musim kemarau datang pada bulan Juni di wilayah pantura, lalu bergerak ke selatan.

Peneliti Cuaca dan Iklim BMKG Provinsi Jawa Barat Muhamad Iid Mujtahiddin mengatakan, pada saat musim kemarau, angin yang melewati Jawa Barat adalah angin pasat tenggara atau angin timuran dari arah Benua Australia. Sementara, di Australia, pada Juli, Agustus, serta September, sedang mengalami puncak musim dingin. Ini yang membuat suhu lebih dingin dibandingkam biasanya.

"Kondisi saat ini dipengaruhi juga dengan masih adanya kelembapan pada ketinggian permukaan hingga 1,5 kilometer di atas permukaan laut relatif lembap, sehingga pada sore hari masih terlihat adanya pembentukan awan," kata Iid dalam keterangan tertulisnya, Bandung, Jumat (19/7/2019). 

"Akan tetapi pada ketinggian 3 kilometer di atas permukaan laut yang relatif kering sehingga potensi awan yang terbentuk untuk terjadi hujan relatif kecil dan dampaknya kondisi kelembapan pada malam hingga pagi hari menambah kondisi suhu udara menjadi dingin," lanjutnya.

Berdasarkan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung, selama bulan Juli 2019, angka terendah tercatat sebesar 16,4 derajat celsius pada 12 Juli. Sedangkan, di lokasi dengan elevasi yang semakin tinggi seperti di pos observasi geofisika Lembang dengan ketinggian 1.241 meter, tercatat 13 derajat celsius pada 16 Juli.

Sementara pada 17 Juli, suhu minimum dicatat oleh Stasiun Geofisika Bandung mencapai 15 derajat celsius. Bahkan di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung Jawa Barat suhu mencapai dibawah 10 derajat celsius. Sayangnya kejadian itu tidak diketahui oleh BMKG.

"Belum ada laporan yang masuk. Tapi semakin naik ketinggiannya, semakin rendah suhunya atau setiap kenaikan elevasi 100 meter suhu akan turun 0,6 derajat celsius," tambah Iid.

Puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus-September dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering. Dengan karakteristik cuaca seperti ini, masyarakat dihimbau untuk tetap menjaga kondisi badan supaya tetap fit.

Dinas Kesehatan Jawa Barat menerbitkan imbuan kepada masyarakat pada saat memasuki cuaca ekstrim saat ini. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani meminta masyarakat mempersiapkan peralatan penangkal dingin saat beraktifitas di luar ruangan.

Di antaranya, pakaian yang tebal, dan banyak minum air putih agar tak dehidrasi, serta mengonsumsi buah dan sayuran yang banyak.

"Untuk bayi diminta agar tidak putus diberikan air susu ibunya. Karena suhu air susu ibu akan hangat yang berasal dari tubuh, seperti inkubator menjaga suhu tubuh bayi," katanya.

"Jangan lupa menggunakan pakaian hangat saat keluar ruangan biar tidak hypotermia. Sedangkan bagi lansia, harus tetap diingatkan untuk tetap mengonsumsi air," tambah Berli.

Tag: cuaca ekstrem

Bagikan: