Negara Tetangga Apresiasi Usaha Indonesia Kurangai Asap

Tim Editor

Satgas KLHK dalam Pertemuan penanganan asap di Singapura (dok istimewa)

Jakarta, era.id - Pemerintah Indonesia terus berupaya mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang kerap muncul di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Upaya ini dilakukan agar penyebaran kabut asap tidak sampai ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.

Dalam keterangan tertulisnya, Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Raffles B  Panjaitan mengatakan negara-negara tetangga mengapresiasi upaya pemerintah dalam menangani Karhutla. 

"Kita jelaskan upaya-upaya konkrit yang terus dilakukan di lapangan, meski harus diakui kebakaran di lahan gambut memang sangat sulit dipadamkan," kata Raffles, Rabu (7/8/2019).

Saat ini kata Raffles, Satgas Terpadu Karhutla yang terdiri dari Manggala Agni, Polisi, TNI, BNPB, Pemda (BPBD), Kepala Desa, Regu Dalkar Swasta (Perkebunan, HTI, dan Ijin usaha lain), Brigade Karhut Taman Nasional dan BKSDAE serta MPA, terus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan titik api yang bermunculan di daerah-daerah rawan.

Hingga 6 Agustus 2019, sekitar 38 unit helikopter dan pesawat terlibat dalam kegiatan patroli maupun pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Diantaranya 19 unit di Provinsi Riau, 4 unit di Sumatera Selatan,  6 unit di Kalbar, 5 unit di Kalteng, 2 unit di Kalsel, dan 1 unit di Provinsi Jambi.



Selain itu, tim Satgas Terpadu juga telah melakukan 24.660 kali water boombing untuk memadamkan api di titik-titik yang sulit dijangkau tim darat. Selain itu juga dilakukan modifikasi cuaca hujan buatan, dengan fokus pada daerah-daerah rawan seperti Kabupaten Bengkalis, Siak, Inhil, Kampar, Pelalawan, Ogan Ilir, Kep. Meranti dan Kota Dumai (Riau). 

"Jadi upaya pengendalian tanpa henti terus kita lakukan. Tentu kita sangat berharap peran aktif Pemda untuk terus mengingatkan, mengawasi dan mengedukasi masyarakatnya agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," Jelas Raffles. 
 
Tak hanya upaya pemadaman, KLHK juga melakukan solusi pemanfaatan kayu di lahan-lahan masyarakat agar bisa menjadikan cuka kayu sebagai pupuk cair. Sehingga tidak perlu lagi membakar hutan untuk membuka lahan. 

Uji coba pupuk cair dari cuka kayu sudah dilakukan untuk tanaman jagung, kopi dan nanas. Kualitas hasilnya hampir sama dengan lahan yang diberi pupuk kimia.

"Kalau bisa alat ini discale up oleh BPPT akan sangat baik. Masyarakat diberikan secara cuma-cuma, sehingga kayu tidak dibakar sia-sia, bahkan harga perliter cuka kayu ini di Kalimantan Barat mencapai Rp10.000/liter. Ini bisa jadi alternatif ekonomi daripada membakar lahan yang merugikan kita semua," kata Rafles.

Perlu diketahui, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia membuat pemerintah Singapura mulai waspada. Badan meteorologi Singapura (NEA) menerbitkan peringatan bakal diterpa kabut asap dalam beberapa hari ke depan pada pekan ini.

Seperti dilansir The Straits Times, Selasa (6/8), NEA menyatakan mereka saat ini terus memantau jumlah titik api di Sumatera dan Kalimantan serta arah angin. Mereka khawatir angin bakal bertiup ke arah tenggara dan selatan dan akan membawa kabut asap.

Hal serupa juga dilakukan Kementerian Kesehatan Malaysia juga menerbitkan imbauan kepada masyarakat di pantai barat semenanjung dan Negara Bagian Sarawak bersiap menghadapi kabut asap. Kondisi itu disebabkan oleh meluasnya titik api dan wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera.

Tag: kebakaran hutan klhk

Bagikan: