'Ekspor' Kabut Asap Bikin Resah Negara Tetangga

Tim Editor

Kabut asap akibat kebakaran lahan di Kalimantan dan Sumatera bergerak hingga ke Malaysia. (Twitter @GreenpeaceID)

Jakarta, era.id - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera mulai berarak ke negara tetangga. Malaysia dan Singapura salah satu negara yang terkena langsung dampaknya.

Perdana Menteri Mahathir Mohamad bahkan berencana menyurati Presiden Joko Widodo soal kabut asap yang membuat kualitas udara di negaranya memburuk. 

"Saya berbicara dengan Perdana Menteri dan ia sepakat untuk menulis surat kepada Presiden Jokowi, untuk perhatiannya pada isu kabut asap yang melintasi perbatasan," kata Menteri Energi Malaysia Yeo Bee Yin, seperti dikutip Straits Times.

Data yang ditunjukkan Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) mengungkapkan sejumlah wilayah di Malaysia terkena kabut asap yang berasal dari Indonesia. Dalam laman resminya, ASMC menunjukkan gambar dari satelit NOAA-20 telah menunjukkan sejumlah titik panas di Sumatera dan Kalimantan sejak 29 Agustus dan 12 September.

Titik panas meluas di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera selatan dan tengah. Selain itu, titik panas juga terdeteksi di Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Sabah pada beberapa hari.
 

"Kami berharap Indonesia dapat bertanggung jawab atas kebakaran di negara mereka sendiri," tutup Menteri Energi Malaysia.

Sejak 1997, metode slash and burn --metode pertanian di mana vegetasi yang ada ditebang dan dibakar sebelum bibit baru ditanam-- sudah digunakan untuk membersihkan lahan hutan untuk pertanian. Cara itu memang menimbulkan kabut asap yang bergerak hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan wilayah sekitarnya. . 

Dilansir The Star, kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Malaysia, membuat pemerintah setempat menghentikan aktivitas belajar mengajar di 400 sekolah. Alasannya karena dikhawatirkan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Sementara itu, Singapura yang ikut terkena imbas kebakaran hutan di Indonesia juga mengalami hal serupa. Data dari National Environment Agency (NEA) yang dipublikasi Reuters pada 14 September mengungkapkan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kualitas udara di Singapura berada dalam kategori tidak sehat. 
 
 

Setiap musim kemarau, asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berdampak sangat luas yang menimbulkan kekhawatiran kesehatan, penerbangan, bahkan sektor pariwisata. Banyak orang yang memilih untuk tinggal di dalam ruangan usai kabut melintasi perbatasan.

Indonesia digugat kelompok profesional Malaysia

Sekelompok profesional Malaysia juga mengusulkan pusat administrasi Malaysia atau Putrajaya untuk menuntut pemerintah Indonesia 1 ringgit Malaysia atau ganti rugi sebesar Rp3.352 untuk kabut asap lintas batas. Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera ini terjadi hampir setiap tahunnya. 

"Gugatan RM1 adalah salah satu opsi kebijakan yang layak untuk Malaysia," ucap salah seorang anggota profesional Malaysia, seperti dikutip Malaymail.



Jumlah RM1 dipilih karena sangat sulit untuk menghitung kerusakan yang diakibatkan oleh kabut asap. Kelompok profesional yang terdiri dari dokter, pengacara, akademisi, aktivis sosial, dan ekonom itu bilang, langkah tersebut menuntut komitmen Indonesia untuk memadamkan kebakaran saat ini dan mencegah kebakaran di masa mendatang.

Ada tiga faktor yang mereka sampaikan dalam surat terbuka, yakni bantuan keuangan, pemadaman kebakaran oleh Malaysia untuk Indonesia; tindakan hukum terhadap perusahaan Malaysia yang bersalah atas kebakaran di Indoensia; dan kerja sama antara masyarakat sipil kedua negara.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh anggota senior Universitas Malaya, Dr. Khor Swee Kheng, mantan kepala departemen pediatri di Ipoh Hospital Datu Dr. Amar Singh-HSS dan analis Institut Penang Darshan Joshi.

Tag: kebakaran hutan

Bagikan: