Deparpolisasi di Era Milenial

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

(foto: Fitria/era.id)

Jakarta, era.id - Dunia politik tanah air yang kerap dikotori praktik korupsi ditengarai menjadi pemicu menipisnya kepercayaan publik terhadap suksesi partai. Jumlah generasi milenial yang terjun langsung ke politik seolah dapat dihitung dengan jari. 

Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Agus Herlambang memprediksi, pemilihan umum (pemilu) di era milenial ini bakal terjadi deparpolisasi alias pengurangan jumlah partai politik (parpol). 

Sebab apa? karena ada ketakutan anak muda untuk masuk ke dalam parpol, katanya. Keadaan ini juga dilatarbelakangi dari sistem kaderisasi partai yang belum terbuka. Menurut dia, ada sistem oligarki yang menyebabkan anak muda malas terjun ke politik.

Agus menyarankan, sebaiknya parpol melakukan sistem kaderisasi yang terbuka dan memberi ruang pada anak-anak muda untuk menjadikan mereka sebagai subjek. 

"Jaman dulu kalau mau jadi orang yang berhasil itu mahasiswa ingin masuk parpol, tapi sekarang mahasiswa tidak mau lagi karena merasa dijadikan objek bukan subjek," kata Agus, Jumat (19/1/2018).



Nah, masih ingat dengan Tina Toon? Artis cilik yang kini merambah ke dunia politik ini juga bilang, generasi muda yang terjun ke politik saat ini sangat minim. Generasi milenial lebih cuek dengan politik, karena parpol identik dengan segala sesuatu yang negatif yaitu korupsi dan kekuasaan, katanya.

Itu yang menjadi tantangan Tina yang tak ingin terlalu mainstream dengan pemikiran generasi milenial saat ini. Artis berpipi tembam ini justru tertarik untuk menjajal langsung dunia politik. 

Kini mantan penyanyi cilik yang dikenal dengan 'Bolo-bolo' itu tercatat sebagai anggota Taruna Merah Putih (TMP). Tina ingin belajar politik.

"Dengan masuk ke politik itu nggak perlu muluk-muluk, apa yg bisa kita lakukan dulu aja, misal mau mengkritisi pemerintah, setidaknya aku ada pendidikan dasar dengan gabung ke partai," kata dia.

Saat ini suara publik juga didominasi oleh suara milenial, katanya, karena terbentangnya jalur komunikasi lewat sosial media yang juga dikuasai generasi muda. Kata dia, sosial media bahkan saat ini dapat digunakan oleh anak muda sebagai wadah mengkritisi pemerintah.

"Tren-nya dulu protes aksi di jalan, sekarang lewat sosmed aja bisa. Ini bisa jadi positif bisa jadi negatif. Jadi, inilah waktunya anak muda, sekarang udah ada sosmed yang bisa kritik langsung," imbuhnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyarankan supaya Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggunakan cara kreatif untuk menggandeng anak muda terjun ke politik.

Caranya bisa dilakukan lewat pergelaran acara terkait hobi, olahraga maupun seni, yang di dalamnya diselipkan tema pentingnya ambil peran menentukan kepala daerah.

Tag: pemilu 2019 pilkada 2018

Bagikan: