Melihat Praktik Animal Testing pada Laboratorium di Jerman

Tim Editor

Monyet yang menjadi bahan percobaan. (Cruelty Free International)

Jakarta, era.id - Dulu eksperimen yang dilakukan dengan menggunakan mahkluk hidup sebagai percobaan mungkin sudah banyak ditinggalkan. Namun lini masa kembali ramai membicarakan sebuah video viral yang memperlihatkan penyiksaan terhadap makhluk hidup atau animal testing.

Dalam sebuah cuplikan video viral yang direkam secara diam-diam oleh organisasi Soko Tierschutz and Cruelty Free International (CFI), memperlihatkan animal testing di dalam laboratorium untuk pengujian obat kimia. Fasilitas itu kini dipaksa berhenti usai aktivis Carolin Iding membuat petisi online untuk menutup perusahaan itu. Sejak dirilis pada 11 Oktober lalu, petisi ini telah ditandatangani oleh lebih dari 41 ribu orang.

Dalam sebuah ruangan yang didominasi dengan keramik berwarna putih terlihat mereka yang menjadi bahan percobaan di pasung dengan sebuah batang besi. Leher dan tangan mereka terikat. Untuk menengok saja rasanya tak mungkin. Wajah mereka pasrah, badan mereka kurus, tapi mereka tak mengeluarkan suara. Masing-masing dari mereka memliki kode tertentu yang dituliskan di salah satu bagian tubuh.

Barulah ketika memasuki ke ruangan yang lebih sempit. Kabel-kabel berwarna cerah mulai dipasangkan ke bagian tertentu tubuh. Mereka menjerit kesakitan, tak jarang mereka bahkan mengeluarkan cairan kuning dari dalam mulutnya. Mereka adalah para monyet yang menjadi animal testing oleh Laboratory of Phramacology and Toxicology (LPT) yang berlokasi di Hamburg, Jerman.

Baca Juga: Tak Perlu Panik, Begini Cara Atasi Gigitan Hewan Rabies
 
 

Untuk diiketahui, animal testing atau percobaan terhadap hewan adalah penelitian yang menggunakan satwa sebagai objek penderita. Beberapa istilah yang berkaitan dengan animal testing antara lain animal experimentation, animal research, in vivo testing, dan vivisection. Semua ini mengacu pada penggunaan satwa dalam proses penelitian. Tujuan animal testing yang banyak dikemukakan adalah untuk kesehatan, pangan, dan kosmetik.

Menurut kelompok aktivis, monyet, kucing, dan anjing di laboratorium itu dibiarkan berdarah dan sekarat setelah pengujian toksisitas di laboratorium Mienenbuttel, dekat Hamburg. Friedrich Mulln dari Soko Tierschutz mengatakan "Hewan-hewan itu bahkan masih mengibas-ngibaskan ekor mereka ketika dibawa untuk dibunuh. Anjing-anjing sudah putus asa untuk melakukan kontak dengan manusia", demikian dikutip The Sun, Rabu (16/10/2019).

"Eksperimen terburuk dilakukan pada monyet. Monyet kecil yang relatif ringan sering digunakan untuk animal testing di LPT," tambahnya. Menurutnya, hewan-hewan itu disimpan dalam kandang kecil yang membuat beberapa hewan memiliki kecenderungan komplusif dan sering berputar-putar. "Hewan diperlakukan dengan kejam oleh para pekerja. Kucing misalnya, mereka menerima suntikan sebanyak 13 kali dalam sehari," katanya.

Respons praktek animal testing


Monyet yang menjadi bahan percobaan. Cruelty Free International (CFI)

Para aktivis mengklaim undang-undang di Jerman yang melindungi hewan dari eksperimen tidak cukup ketat dan menyerukan agar hukum diperketat. Video ini juga membuat marah karena tidak pencegahan tidak dilakukan seminimal mungkin seperti yang diisyaratkan di berbagai negara.

Kate Willett dari Humane Society Internasional mengatakan, penggunaan hewan sebagai percobaan adalah tindakan biadab dan menggambarkan kondisi hewan yang disimpan sangat mengerikan. "Perlakuan semacam ini secara etika tak dapat didukung dan sangat mungkin ilegal. Setiap negara mengembangkan pedoman perawatan hewan sendiri, tetapi anjing yang ditempatkan dalam kondisi yang mengerikan seperti ini tidak akan memenuhi standar AS atau Inggris, dan memiliki konsekuensi serius untuk kualitas hasil ilmiah". Setiap data yang dikumpulkan dari hewan akan hampir tidak berguna, katanya, karena fisiologi mereka akan diubah oleh tekanan yang mereka alami.

Viralnya video ini membuat sejumlah pihak melaporkan kasus ini ke kepolisian setempat dan sedang dilakukan penyelidikan. Sejak 2015, sembilan inspeksi telah dilakukan di fasilitas itu, tujuh di antaranya tak diumumkan, demikian dikutip The Guardian. Para pengawas inspeksi saat itu mengamati bahwa 44 monyet disimpan di kandang yang terlalu kecil dan melaporkan bahaya jangka panjang dan penderitaan yang cukup besar.
Namun, monyet-monyet itu tidak digunakan dalam tes selama inspeksi berlangsung.

Baca Juga: Mencari Solusi Tangani Kucing dan Anjing Liar di Jakarta

Menurut surat kabar Süddeutsche Zeitung, fasilitas itu pernah didenda 260 poundsterling karena memperkenalkan anjing baru tanpa ijin. Cruelty Free International mengatakan kondisi itu jelas melanggar persyaratan kesejahteraan hewan minimum Uni Eropa dan menyerukan penutupan fasilitas.

"Gagal untuk mengadopsi metode yang dapat mengurangi penderitaan dan stres yang dialami oleh monyet, anjing, dan kucing, LPT gagal memenuhi 3R (penggantian, pengurangan, dan penyempurnaan) wajib di bawah undang-undang Uni Eropa dan Jerman," kata seorang juru bicara.

Menteri pertanian Jerman Julia Klöckner, mengatakan kepada Neue Osnabrücker Zeitung tahun lalu bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengadaptasi hukum Jerman untuk memastikan kepatuhan terhadap arahan UE dan menurunkan jumlah hewan yang digunakan. "Saya ingin jumlah percobaan pada hewan terus dikurangi," kata Klöckner. "Hewan adalah sesama makhluk dan mereka pantas mendapatkan simpati kita."

LPT yang mengoperasikan fasilitas pengujian di Mienenbuttel adalah salah satu laboratorium swasta terbesar di Jerman yang mempekerjakan sekitar 175 orang. Dalam laman resminya, ia mengklaim telah bekerja selama lebih dari 50 tahun sesuai dengan pedoman nasional dan internasional. 

Fasilitas ini berfungsi salah satunya untuk melakukan uji toksisitas atas nama perusahaan farmasi untuk mengukur dosis obat yang aman bagi manusia. Namun, laboratorium ini telah lama menghadapi protes dari para aktivis hewan. Rencananya pada Sabtu mendatang, demo akan dilakukan fasilitas kesehatan itu. Hingga berita ini diturunkan, LPT belum memberikan komentar terkait kasus ini.

Tag: penyiksaan hewan

Bagikan: