Mengenang Mereka yang Gugur Tanpa Nama

Tim Editor

    Makam pahlawan tak dikenal di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. (Gabriella Thesa/era.id)

    Jakarta, era.id - Tepat pukul 08:15 WIB pagi, suara sirene berbunyi selama 30 detik di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Sirene itu memang sengaja dibunyikan untuk pengingat bahwa hari ini merupakan Hari Pahlawan 10 November. Mereka yang gugur sebagai bahadur memang selayaknya dikenang dalam doa sepanjang hayat.

    Acara pagi itu terasa bergitu sakral dan khidmat, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang telah tiba sedari tadi langsung tampil memimpin jalannya upacara penghormatan kepada pahlawan yang gugur. Suasana TMP Kalibata pun tak seperti hari biasa. Para peziarah berbondong-bondong melawat pusara para hero.


    Presiden Jokowi menjadi Inspektur Upacara pada Upacara Ziarah Nasioal dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan. (Foto: setkab.go.id)

    Satu per satu di antara mereka mendatangi peristirahatan terakhir para tokoh, di antaranya makam Jenderal Ahmad Yani, Rangkajo H. Rasuna Sa'id, R.E Martadinata, Presiden RI ke 3 B.J Habibie beserta istri Hasti Ainun Besari Habibie, dan istri Presiden RI Ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono yaitu Kristiani Herrawati Yudhoyono.

    Dari ribuan pusara di TMP Kalibata, pusara milik mendiang pasangan B.J Habibie-Aninun Habibie, Kristiani Herrawati Yudhoyono, dan pahlawan revolusi menjadi tempat favorit para peziarah. Taburan dan karangan bunga tampak menghiasi pusara mereka.

    Namun, pandangan kami justru tertancap pada deretan makam di belakang pusara Jenderal Ahmad Yani, tak jauh dari pintu masuk area TMP Kalibata. Makam-makam itu tampak kontras. Tak banyak para peziarah yang melawat. Pusara mereka tampak kelompang dari bunga-bunga dan guyuran air mawar.

    Pada nisan makam-makam itu terukir sebuah kalimat: Pahlawan Tak Dikenal. Para pahlawan tanpa nama itu diketahui meninggal pada tahun 1945 saat Indonesia merdeka. Salah satu pusara dari pahlawan tak dikenal yang paling menarik perhatian adalah pusara milik pahlawan Kapal Tudjuh. Dibanding pusara lainnya, pusara ini memiliki ukuran sedikit lebih besar.


    Pusara pahlawan Kapal Tudjuh di TMP Kalibata, Jakarta Selatan. (Gabriella Thesa/era.id)

    Adapun Kapal Tudjuh merupakan peristiwa sejarah penting bagi Indonesia yang kini lebih dikenal dengan peristiwa Pemberontakan 'Kapal Tujuh Provinsi'. Di pusara mereka terdapat pelakat bertuliskan "Pahlawan Nusa Gugur Sebagai Kusuma Bangsa Indonesia".

    Diketahui mereka gugur saat pemberontakan dan perebutan kapal perang De Zeven Provincien dari angkatan laut Belanda pada tanggal 10 Februari 1933. Pemberontakan ini dipicu oleh pemotongan gaji secara tidak adil oleh Hindia Belanda kepada pekerja pribumi.

    Akibatnya, para pelaut Indonesia melakukan aksi mogok kerja dan bergojolak hingga terjadi pemberontakan di atas Kapal Tujuh Provinsi. Sayangnya, pemberontokan mereka berhasil digagalkan dengan adanya serangan dari pasukan Belanda.

    Sebanyak 20 orang awak pribumi dan 3 awak Belanda juga dinyatakan tewas akibat serangan itu. Di antara yang gugur adalah Sagino, Amir, Said Bini, Miskam, Gosal, Rumambi, Koliot, Kasueng, Ketutu Kramas, Mohammad Basir, dan Simon.

    Penjaga makam TMP Kalibata, Suroso mengatakan pusara pahlawan tak dikenal memang selalu sepi dari para peziarah, tak terkecuali saat peringatan Hari Pahlawan. Ia mengaku tidak pernah ada satu pun orang yang mengaku sebagai keluarga ataupun ahli waris dari mereka yang gugur tanpa nama.

    "Wah enggak ada yang datangin memang. Namanya saja pahlawan tak dikenal, jadi ya sepi-sepi saja, kembang saja tidak ada," ujar Suroso.

    Ditemui terpisah, Widya guru SDN Kalibata 04 mengaku sengaja mengajak siswanya berkeliling TMP Kalibata, khususnya ke pusara tokoh-tokoh nasional termasuk pusara pahlawan tak dikenal.



    Ia mengatakan, ziarah ini selain karena SDN Kalibata 04 diundang oleh Kementerian Pendidikan untuk mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan, sekaligus untuk menanamkan semangat nasionalisme di hati para muridnya.

    "Ini sekaligus untuk menanamkan jiwa nasionalis, cinta tanah air kemudian mengenal para pahlawan. Pahlawan revolusi, pahlawan nasional, maupun pahwalan-pahlawan sebelum kemerdekaan," ucap Widya.

    Salah seorang murid SDN Kalibata 04, Keysira mengaku senang dan mendapat banyak pelajaran yang tak ia dapatkan di bangku kelas. Dengan mengunjungi TMP Kalibata, kata Keysira, ia menjadi lebih tahu perjuangan para pahlawan tanah air.



    Saat ditanya siapa tokoh yang menjadi favoritnya, ia dengan semangat menyebutkan nama B.J Habibie. Menurutnya, Presiden ke-3 RI itu memiliki jasa yang luar biasa besar bagi kemajuan Indonesia.

    "Pak Habibie yang paling berjasa menurut aku. Karena dia yang bikin pesawat, kan kita jadi bisa pergi ke mana-mana lebih gampang," kata Keysira.

    Tag: peringatan hari pahlawan pahlawan nasional

    Bagikan :