Airlangga Merusak Marwah Ketua Umum

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. (Bagas/era.id)

Jakarta, era.id – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto kini masing anteng rangkap jabatan sebagai Menteri Perindustrian. Padahal rangkap jabatan dinilai merusak marwah atau muruahnya sebagai ketua umum.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, mengatakan, Airlangga sulit menempatkan diri karena rangkap jabatan. Rangkap jabatan juga mengurangi kehormatan Airlangga sebagai ketua umum partai politik yang bisa memberi masukan dan mengkritik saat ada kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

“Itu kesalahannya, rangkap jabatan. Jadi ketika dia menjadi pembantu Presiden ya harus hormat, wong pembantu kok. Padahal ketua umum harusnya equal,” kata Siti, kepada era.id, Jumat (26/1/2018).


Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat menyalami Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Rabu (10/1/2018). (istimewa)

Sebagai pembantu Presiden, Airlangga nampak membungkuk saat bertemu Jokowi dalam HUT ke-45 PDI Perjuangan di Senayan, Jakarta, 10 Januari 2018. Selain Jokowi, di atas panggung juga ada Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Gestur Airlangga itu dinilai Siti menunjukkan sikapnya sebagai pembantu presiden. Padahal saat itu adalah acara partai dan dihadiri juga oleh ketua umum partai lainnya.

“Karena rangkap jabatan itu membuat rancu, kabur, enggak jelas standingnya. Tapi lebih dominan jadi pembantu presiden karena membungkuk,” ujarnya.

Terkait rangkap jabatan Airlangga, Jokowi sudah banyak mendulang kritik karena dinilai tidak konsisten. Adapun Jokowi beralasan tetap mempertahankan Airlangga karena dibutuhkan untuk membantu pemerintah mencapai target kerja yang ditetapkan. Airlangga juga tidak mengundurkan diri karena menyerahkan keputusannya pada prerogatif Presiden.

 

Tag: jokowi

Bagikan: