Hukum Zakat Online dan Berapa Biaya yang Harus Dikeluarkan

Tim Editor

Ilustrasi ShopeePay (ANTARA/Arindra Meodia)

Jakarta, era.id - Layanan dompet dan uang elektronik, ShopeePay, menghadirkan fitur pembayaran zakat online. Kendati program ini bekerja sama dengan instansi penyedia jasa zakat fitrah dan donasi seperti Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, dan BAZNAS. Namun, beberapa orang masih mempertanyakan hukum zakat online ini. Apakah sah?

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Muhammad Syamsudin menjelaskan zakat merupakan praktik ibadah sosial yang mewajibkan adanya akad ijab dan kabul. Hal ini berbeda dengan praktik muamalah lainnya seperti jual beli yang dalam beberapa segi, akad ijab dan kabul dapat dilakukan menurut 'urf (tradisi) yang berlaku. 

Dikutip dari NU Online, e-zakat atau zakat online bisa tidak sah jika disalurkan oleh pihak yang tidak memahami seluk beluk zakat; Penyalurannya tidak sebagaimana keharusan syara; dan zakat tersebut disalurkan di luar wilayah tempat muzakki (orang yang mengeluarkan zakat) tinggal.

Zakat online sebetulnya sudah diperkenalkan sejak tahun 2016, Syamsudin mengingatkan penting ada sebuah regulasi khusus yang mengatur mekanisme zakat online, mengingat zakat merupakan muamalah yang spesial. Kesalahan dalam satu alur dapat berakibat pada sah atau tidak sahnya zakat. Jika tidak sah, maka kewajiban provider adalah mengganti zakatnya muzakki.

Pandangan lain soal hukum zakat online diungkapkan oleh Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif. Menurut pendakwah yang akrab disapa Buya Yahya itu hukum zakat online boleh.


Transaksi zakat fitrah. (Nurul/era.id)

"Boleh kita mentransfernya (uang zakat), boleh dengan niat saya akan membayar zakat fitrah ke tempat itu, boleh ke mana saja," ujarnya melalui channel YouTube Al-Bahjah TV, Senin (18/5/2020).

Namun, Buya Yahya mengingatkan penyedia layanan zakat online harus amanah. Selain itu, kita sebagai muzzaki harus tahu dan mengenal lembaga penyalurnya, serta adil dalam membagikannya. Oleh pihak amil uang yang dibayarkan biasanya dibelikan beras baru disampaikan kepada pihak penerima zakat.

Meski zakat online diperbolehkan, Buya Yahya menekankan sebaiknya zakat dibagikan kepada orang-orang di sekitar yang berhak menerima. Sebab esensi dari zakat sendiri adalah diperuntukan bagi lingkungan terdekat. 

Menurut mazhab Imam Syafii zakat harus menggunakan bahan makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh orang yang memberikannya. Misalnya di Indonesia yang mayoritas makanan pokoknya adalah beras, maka wajib mengeluarkan zakat dengan beras.

Menurut Buya Yahya, jumhur ulama (mayoritas ulama) mengatakan zakat fitrah adalah dengan makanan pokok yang dimakan oleh muzakki. "Lalu bolehkah dengan uang? Maka kita boleh ikut mazhab Ibnu Hanafiah. Keluarkan dengan uang, dengan nilainya beras dan jangan dilebihkan," tutur Buya Yahya.

Direktur Badan Amil Zakat Nasional Irfan Syauqi Beik termasuk salah satu tokoh yang membolehkan membayar zakat secara online. Dilansir suara.com, dalam konteks transaksi komersial, ijab dan qabul menjadi suatu keharusan, namun pelaksanaannya sangat kontekstual. Pembayaran zakat tidak harus tatap muka, bisa dilakukan melalui media lainnya.


Ilustrasi beras untuk zakat fitrah. (white kim dari Pixabay)

Hal terpenting dari media transaksi adalah masing-masing pihak memahami dengan baik konsekuensi transaksi. Transaksi dalam zakat merupakan transaksi sosial yang tidak mengharuskan adanya ijab dan kabul seperti dalam transaksi komersial. Ijab dan qabul bukan menjadi penentu sah atau tidaknya zakat.

Jikalau dianjurkan adanya ijab dan kabul, pembayaran zakat online sudah ada layanan khusus berupa notifikasi email dan lainnya berisi bukti pembayaran zakat, niat zakat, dan sebagainya. Ini menjadi model transaksi ijab dan kabul yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pembayaran zakat fitrah sendiri dilakukan ketika memasuki bulan Ramadan dan batas waktunya adalah akhir Ramadan atau sebelum Salat Idulfitri dimulai. Zakat fitrah juga biasanya dikeluarkan dengan nilai yang setara dengan 3,5 liter beras atau 2,5 kilogram makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh muzzaki.

Lebih detail, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut: 

1. Yang terbaik dalam menunaikan zakat fitrah adalah pembayaran dengan beras. Adapun satu sha’ versi Imam Nawawi adalah bobot seberat 2,7 kg atau 3,5 liter. Sedangkan ulama lain mengatakan, satu sha’ seberat 2,5 kg. 

2. Masyarakat diperbolehkan pula membayar zakat fitrah dengan menggunakan uang sesuai harga beras 2,7 kg atau 3,5 liter atau 2,5 kg sesuai kualitas beras layak konsumsi oleh masyarakat setempat. 

3. Segenap panitia zakat yang ada di masyarakat baik di musala maupun di masjid dianjurkan untuk berkoordinasi dengan LAZISNU terdekat.

Tag: zakat aplikasi bisma

Bagikan: