Demam Gowes Sepeda Juga Menjangkiti India

Tim Editor

    Seorang pria mengendarai sepeda di depan mural gedung Lodhi Colony di New Delhi (Twitter, Rahul Singh)

    Jakarta, era.id - Menyusul diterapkannya lockdown secara nasional di India, demam gowes menjangkiti publik di kota-kota seperti Kolkata, India. Banyak orang memilih bersepeda daripada duduk di tengah alat transportasi publik yang padat dan rentan menjadi pusat penularan COVID-19.

    Meski sektor bisnis India menderita sejak lockdown skala nasional mulai diterapkan per Maret 2020, angka penjualan sepeda di negara itu justru meningkat. Hal ini bisa dilihat dari penuturan Tarun Gupta, seorang pemilik toko sepeda, yang berbicara dengan kantor berita DW.

    "Setiap tahun, kami melihat puncak penjualan di periode Maret hingga Juni. Namun, selama dua bulan terakhir, penjualan telah meningkat hingga lima kali lipat," katanya. "Keuntungan yang kami dapat sudah bisa mencukupi kami hingga akhir tahun."

    Di tengah pandemi korona, pesepeda terus datang ke toko Gupta hingga melebihi jam operasional biasa. Ia mengaku menyambut 50-60 pengunjung setiap harinya, yang beberapa di antaranya mau menggelontorkan uang hingga 800 euro (Rp13,3 juta) untuk membeli sepeda. Biasanya, sepeda murah biasa dijual dengan harga 60 euro saja, atau setara Rp998 ribu.
     

    Sementara itu, klub-klub pesepeda mulai bermunculan di kota-kota seperti New Delhi atau Kolkata. Satu grup sepeda bisa terdiri dari 90 anggota, di mana setengah di antaranya belum pernah bersepeda sebelumnya. Mereka memanfaatkan aktivitas bersepeda bersama untuk lepas dari ritme monoton akibat pandemi korona. "Tak pernah ada rekreasi ke luar ruangan atau berolahraga," kata Gurpreet Singh Kharbanda, seorang warga New Delhi yang menciptakan sebuah grup gowes.

    Jika di New Delhi para pesepeda memanfaatkan waktu senggang di akhir pekan dan berkumpul di spot terkenal seperti di depan istana presiden Rashtrapati Bhavan, grup pesepeda di Kolkata berkumpul dan melobi pemerintah agar ada lebih banyak jalur pesepeda di kota itu.

    "Yang terjadi di Kolkata adalah bahwa demam gowes ini di satu sisi sangat spontan, namun di sisi lain merupakan sebuah upaya serius dari kami para pesepeda," kata Shiladitya Sinha, seorang penyelenggara klub gowes yang juga mendorong "budaya gowes" di kota tersebut.

     
    Petualangan dua orang pesepeda di area utara India (Youtube)

    Satu tantangan yang dihadapi para pebisnis sepeda di India adalah bagaimana menjaga stok sepeda agar tetap memadai. Sektor bisnis sepeda tergopoh-gopoh dalam memenuhi permintaan sepeda yang meroket.

    "Bisnisku agak loyo selama 4-5 hari terakhir. Beberapa pelanggan harus kutolak karena aku kehabisan stok sepeda," kata Gupta.

    Ia juga sudah ancang-ancang untuk menghadapi kerugian di beberapa bulan ke depan. Situasi konflik di perbatasan India-China bakal mempersulit proses pengadaan sepeda karena importir terus-terusan dipersulit dan barang-barang seperti suku cadang, yang kebanyakan masih didapat dari China atau Taiwan, tidak lolos dari pos bea cukai. "Kami sudah menunggu datangnya stok baru sejak 20-25 hari yang lalu," kata Gupta.

    Selain itu, tidak ada yang tahu juga kapan demam gowes ini akan berakhir. "Banyak pelanggan saya yang mengatakan bahwa setelah 1 atau 2 bulan, mereka mungkin sudah tidak akan bersepeda lagi," kata Gupta.

    Tag: balap sepeda downhill

    Bagikan :