Kekuatan Ekonomi Digital dan Pilpres

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Mark Zuckerberg (Facebook: Mark Zuckerberg)

Jakarta, era.id - Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mungkin tak menyangka bisa sesukses ini. Malah dia sempat diisukan menjadi bakal calon presiden Amerika Serikat pada Pemilu 2020. Isu Mark menjadi capres AS berembus saat dia dan istrinya, Priscilla Chan, mendirikan yayasan Chan Zuckerberg Initiative (CZI) pada 2015.

Lewat CZI, Mark dan istrinya ingin meningkatkan fasilitas di bidang pendidikan, kesehatan, dan sistem keadilan. Awal 2017, CZI menyumbangkan 3 juta dolar AS untuk layanan periksa mata gratis serta kacamata bagi pelajar di AS.

Ambisi besar CZI untuk kemanusiaan terlihat dari rencananya dalam satu dekade ke depan yang ingin menggelontorkan 3 miliar dolar AS untuk layanan kesehatan. Mark dan Chan berkomitmen menggunakan 99 persen keuntungan Facebook demi menyukseskan rencana tersebut. Bahkan berembus kabar Mark mulai menjual sahamnya di Facebook untuk pembiayaannya.

Untuk informasi, dari beberapa yayasan terbesar di dunia, CZI bisa menjadi yayasan termakmur dengan total aset 62,5 miliar dolar AS. Posisi yayasan termakmur sebelumnya dipegang Bill & Melinda Gates Foundation dengan total aset 40,4 miliar dolar AS. Niat baik itu membuat nama Mark masuk dalam bursa pencalonan Presiden Amerika Serikat 2020.

Mark dinilai potensial jadi capres AS karena Facebook yang dia dirikan menjadi salah satu perusahaan paling sukses di dunia. Pendapatannya 40,7 miliar dolar AS dan perolehan laba bersih 15,9 miliar dolar AS pada 2017. Hingga Desember 2017, Facebook telah menyerap 25.105 tenaga kerja. Berkat Facebook, nama Mark melambung dan menjadi idola baru, khususnya bagi anak-anak muda.

Di AS, Facebook memiliki 223,1 juta pengguna. 39,4 juta pengguna di antaranya berada pada rentang usia 18-24 tahun, 58,3 juta pengguna berusia 25-34 tahun, 42,4 juta (35-44 tahun), 35,4 (45-54), 26,5 juta (55-64), hingga 21,1 juta pengguna berusia lanjut, 65 tahun ke atas.

Pada Pilpres AS 2016, Facebook berperan dalam kemenangan Donald Trump. Setelah pilpres usai, seorang remaja yang berasal dari Veles, kota kecil di Makedonia, mengaku memproduksi banyak berita palsu pro-Trump menjelang bergulirnya Pilpres AS. Remaja tersebut mengatakan ada ratusan pekerja yang mengambil keuntungan dengan membuat berita palsu pro-Trump. Dia mengaku mendapat uang tunai 200 ribu dolar AS atau sekitar Rp2,6 miliar dari pekerjaan tersebut.



Mark Zuckerberg pernah melakukan perjalanan yang disebut sebagai 'listening tour'. Dalam perjalanan ini, Mark mengunjungi 50 negara bagian AS, bertemu dengan setiap pemimpin dan konstituen. Dia juga membawa Charles Ommanney untuk mengabadikan setiap momen perjalanannya.

Mark makin diisukan menjadi capres AS setelah dia merekrut ketua tim pemenangan dari Partai Demokrat, Joel Benenson, yang pernah menjadi penasihat Presiden Barack Obama dan kepala strategi tim pemenangan Hillary Clinton pada Pilpres 2016. Selain itu, juru kampanye Obama pada Pilpres AS 2008, David Plouffe, dan tim kampanye Bush pada Pilpres AS 2004, Amy Dudley, juga direkrut masuk ke dalam CZI. Sebelum lupa, Charles Ommanney adalah fotografer Bush dan Obama pada masa kampanye Pilpres AS.

Zuckerberg for president?

Mungkin saja bukan hal sulit bagi Mark untuk menjadi capres AS berikutnya. Mari kita menghitung-hitung segala kemungkinan. Jumlah pemilih tetap Pilpres AS 2016 sebanyak 230 juta jiwa, dari 323,1 juta penduduk AS,130 juta jiwa di antaranya menggunakan hak pilihnya. Dari 230 juta pemilih tetap di AS, sebanyak 223,1 juta di antaranya menggunakan Facebook.

Jika para pengguna Facebook dengan rentang usia 18-34 tahun sebanyak 100,7 juta pengguna (berdasarkan data statista.com), maka jumlahnya setara dengan 77,4 persen jumlah pemilih tetap pada Pilpres AS 2016.

Pengajar psikologi sosial dan politik dari Universitas Tarumanagara, Bonar Hutapea, mengatakan, orang seperti Mark sudah memiliki modal diidolakan dan tidak akan sulit mengonversinya menjadi dukungan serta memilihnya jika maju menjadi capres. Menurut Bonar, hal itu sesuai teori modeling Albert Bandura.

"Anak muda yang memiliki sosok idola yang sampai tingkat tertentu mampu memengaruhi kepribadian, tindakan, keputusan, dan pilihan-pilihan mereka melalui proses modeling," kata Bonar kepada era.id.

Melalui teori modeling, saat seseorang mengidolakan sosok tertentu, ada kecenderungan dia ingin tampil sama atau mengikuti kebiasaan yang dilakukan idolanya. 

"Ini adalah belajar lewat pengalaman seseorang. Misalnya belajar dari pengalaman sang tokoh yang diidolakan atau dijadikan panutan,” ungkap Bonar. 

Bagaimana soal kekuatan dananya? Sepertinya bukan masalah. Dari data The Centre for Responsive Politics, Hillary Clinton menghabiskan biaya kampanye sebesar 768 juta dolar AS, sedangkan Donald Trump hanya menghabiskan 398 juta dolar AS.

Selain itu, biaya yang dihabiskan untuk melaksanakan Pemilu AS 2016 lalu sebesar 6,5 miliar dolar AS. Jumlahnya jauh lebih kecil dari kekayaan Mark Zuckerberg, orang terkaya nomor 4 di dunia, yang kekayaannya mencapai 75,6 miliar dolar AS. Tapi kabar ini sendiri dibantah Zuckerberg.

"Tidak," katanya sebagaimana dilansir StraitsTimes.

Isu pencalonan Mark Zuckerberg sebagai presiden mendapat respons beragam dari masyarakat AS kala itu. Ada yang menolak dan mempertanyakan hasrat politik Zuckerberg. Namun, ada juga yang menyatakan siap mendukung Zuckerberg andai langkah politik itu betul-betul diambilnya.

Fenomena kekuatan anak muda menarik untuk dicermati. Di Amerika Serikat saja, anak muda dengan kekuatan ekonomi digitalnya, bisa masuk radar calon pemimpin negeri. Lalu, bagaimana di Indonesia?

Indonesia punya segudang anak-anak muda sukses yang sanggup bikin perubahan. Mulai dari Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, Achmad Zaky dan masih banyak nama-nama lain. Hampir mirip-mirip Mark Zuckerberg, mereka pun punya pengaruh kuat di kalangan anak muda. Adakah peluang buat mereka? Atau jangan-jangan mereka yang harus dipilih para capres untuk bisa meningkatkan elektabilitasnya? Simak semua beritanya hanya di era.id.

Tag: muda beda dan berbahaya

Bagikan: