Sampah, Mangrove dan Upaya Rehabilitasi

| 18 Mar 2018 07:27
Sampah, Mangrove dan Upaya Rehabilitasi
Sampah Muara Angke (Foto: Diah/era.id)
Jakarta, era.id - Kawasan Hutan Bakau Ecomarine Tourism Mangrove di Muara Angke, Kali Adem, Jakarta Utara ditumpuki sampah yang mengalir dari 13 sungai di sekitar Jakarta, Bogor hingga Tangerang. Jumlah sampahnya tak main-main. 1.000 meter kubik, dengan ketebalan 1,5 meter di atas permukaan laut.

"Ini dari 13 aliran sungai, bermuara ke laut. (Asalnya dari sungai) di Jakarta dan Bogor. Tangerang juga salah satunya," ungkap Ketua Komunitas Mangrove, Muara Angke, Risnandar, Sabtu (17/3).

Seperti biasa, sampah yang menumpuk didominasi oleh plastik, kayu, dan sejumlah sampah rumah tangga lain. Menurut Kepala Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yusen Hardiman, sampah mulai menumpuk sejak awal Februari 2018.

Selain dari sungai, sampah di kawasan ini juga berasal dari air rob yang beberapa kali merangsek masuk ke kawasan wisata yang dikembangkan dengan pendampingan PT PJB Muara Karang sejak 2010 ini.

"Semula, ini adalah tempat pembibitan ikan bandeng oleh komunitas masyarakat penggiat lingkungan Taman Mangrove Muara Angke. Namun tiba-tiba ada rob yang berasal dari angin barat," sebut Yusen di lokasi, Sabtu (17/3).

Menurut Yusen, selama satu bulan belakangan, ombak yang menggulung dari laut sebelah utara Jakarta membawa begitu banyak sampah dan menyeretnya hingga kawasan mangrove. Ya, namanya alam. Siapa juga yang bisa lawan.

"Saat anak buah saya mau tempur (membersihkan pada Februari), kapal tidak bisa sandar karena cuaca. Kalau cuaca besar kapal tidak bisa sandar, kalau surut pun kapal tidak bisa sandar juga," kata Yusen.

Hingga siang kemarin, petugas gabungan masih melakukan pembersihan sampah. Seluruh pembersihan ditargetkan selesai dalam waktu satu pekan ke depan.

Selain perkara alam, pembersihan sungai juga menemui kendala teknis. Menurut Yusen, 80 petugas kesulitan karena harus mengangkut sampah-sampah secara manual dengan menggunakan keranjang. Sampah-sampah itu kemudian diangkut ke dalam empat kapal fiber yang selanjutnya  secara bergantian mengangkut sampah-sampah tersebut ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang.

"Penanganan sampah ini memakan waktu kurang lebih satu pekan. Kita belum pakai alat berat karena tanahnya lunak, takutnya ambles. Kita lihat dulu sektor tanahnya," terang Yusen.

Rehabilitasi mangrove

Risnandar, sang pemimpin komunitas Mangrove mengatakan, usai pembersihan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup, kawasan ini akan kembali ditanami mangrove sebagai tahap rehabilitasi.

Namun, Risnandar mengingatkan Dinas Lingkungan Hidup untuk menyisakan sedikit sampah di kawasan ini. Kata Risnandar, tumpukan sampah dapat membantu tanaman mangrove agar tidak tenggelam.

Bibit bakau setinggi 40 cm yang akan ditanam nanti, jika tidak miliki penyangga di air maka akan cepat tenggelam dan mati.

"Tadi saya ngomong sama Pak Kasudin (agar pengerukan sampah) jangan dihabisin. Kalau dihabisin, di sana akan terlalu dalam itu. Mangrove kalau tertutup air laut terlalu lama nanti akan mati," ungkap Risnandar.

Setelah benar-benar bersih, rencananya Dinas Lingungan Hidup Kepualauan Seribu bersama Komunitas Mangrove Muara Angke akan menggencarkan edukasi untuk menanam mangrove di wilayah bekas pembibitan ikan bandeng tersebut.

"Setelah ini bersih, kami sudah berkolaborasi dengan mangrove volunteer, masyarakat penggiat lingkungan Hutan Mangrove Angke, akan dilakukan edukasi kepada masyarakat yaitu kami akan menanam mangrove di sini," kata Yusen.

Tags : sampah