Titiek jadi Pimpinan MPR, Orde Baru Bangkit?

Tim Editor

    Sedang memuat podcast...

    Titiek Soeharto (Ilustrasi/era.id)

    Jakarta, era.id - Semalam, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar sepakat menetapkan Siti Hediati Hariyadi menjadi Wakil Ketua MPR menggantikan Mahyudin. Keputusan itu disetujui dalam rapat pleno pengurus Partai Golkar.

    Keputusan Golkar menetapkan perempuan yang kerap disapa Titiek Soeharto jadi menguatkan dugaan kebangkitan Orde Baru. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya, Titiek mengatakan masyarakat rindu dengan era Orde Baru.

    Selain Titiek, tokoh lain yang dekat dengan Orde Baru saat ini sedang memegang jabatan penting. Selain Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, ada juga Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

    Prabowo adalah mantan menantu Presiden Soeharto dan mantan politikus Partai Golkar, sedangkan Tommy merupakan putra kelima orang yang pernah berkuasa 32 tahun di Indonesia tersebut.

    Baca Juga : Golkar Pilih Titiek jadi Pimpinan MPR

    Setelah tidak aktif bersama Partai Golkar, Tommy mulai membangun Partai Berkarya yang dinyatakan lolos verifikasi faktual dan menjadi peserta Pemilu 2019. Partai Berkarya merupakan fusi dari dua partai, yaitu Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik yang didirikan pada 15 Juli 2016 dan disahkan melalui SK Kemenkumham pada 17 Oktober 2016. 


    Tommy Soeharto saat mengambil nomor urut partai peserta Pemilu 2019 di Gedeng KPU, Jakarta. (era.id)

    Terkait pemilihan Titiek menjadi pimpinan MPR, Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menjelaskan, pemilihannya dilakukan dengan sepengetahuan Mahyudin. Ace menegaskan, pemilihan Titiek tidak ada kaitannya dengan balas jasa Airlangga Hartarto yang sudah terpilih jadi Ketua Umum Partai Golkar.

    "Ini hanya pergantian biasa di dalam tubuh Partai Golkar, di samping memang ada aspirasi pimpinan MPR mesti ada perempuan juga," ujar Ace. 

    Baca Juga : Apa Iya Lebih Enak Zaman Orde Baru?

    Dalam peringatan 51 tahun Supersemar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (11/3, Titiek menyinggung kondisi Indonesia pada era Orde Baru.

    Menurut Titiek, era Orde Baru lebih asyik daripada saat ini. Pemerintah zaman Orde Baru, kata dia, berhasil menjamin ketersediaan pangan dan pekerjaan sehingga selalu dirindukan masyarakat.

    Namun, Ariel Heryanto, seorang profesor dari The School of Culture, History and Language, Australian National University, menyebut Soeharto sebagai sosok yang cenderung 'cari aman'. 

    Anhar Gonggong dalam Simptom Politik 1965, PKI dalam Perspektif Pembalasan dan Pengampunan (2008) menggambarkan bagaimana masyarakat dibungkam dan diperlakukan represif oleh pemerintahan Orde Baru.

    Siapapun yang tak segendang sepenarian dengan Soeharto, menyingkirlah dia dari lantai dansa. Begitu setidaknya kondisi bangsa tercitrakan dalam tulisan Gonggong.

    Tag: orde baru

    Bagikan :