Mengidentifikasi Senyawa Jahat Tembakau Sintetis

| 23 Mar 2018 06:56
Ilustrasi (Foto: Yudhistira/era.id)
Jakarta, era.id - Polisi membongkar produksi rumahan tembakau sintetis di Denpasar, Bali. Dari penggerebekan itu, polisi menyita sebuah kardus paket FedEx berisi serbuk putih kekuningan seberat 500 gram. Polisi juga menyita 30 kilogram tembakau sintetis yang telah diracik dengan 5-floro ADB. Parahnya, barang itu siap beredar.

Produksi rumahan tembakau sintetis ini terungkap setelah polisi menangkap dua pengedarnya, KAP dan AAE. Dua pemuda 19 tahun ini ditangkap setelah polisi dan petugas Bea Cukai menelusuri paket FedEx berisi 500 gram 5-Flouro ADB berbentuk serbuk dengan tujuan pengiriman ke Denpasar. Seluruh material tersebut, diyakini polisi berasal dari China

"Serbuk 5-Flouro ADB dengan berat 500 gram, yang ditujukan kepada MA alias Michael dengan alamat di Jalan Pemuda III Nomor 23, Renon, Denpasar, Bali," terang Direktur Reserse Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Danianto, Kamis (22/3/2018).

Berbekal data yang diperoleh dari agen FedEx di Denpasar, polisi kemudian berkoordinasi dengan Direktur Reserse Narkoba Polda Bali dan Bea Cukai Bali untuk menelusuri tujuan paket kiriman di Denpasar. Selasa (20/3), pukul 16.30 WITA, kedua pelaku ditangkap.

Usai menangkap pelaku, polisi menggeledah rumah kontrakan di Jalan Tunjung Sari Perum Pesona Paramita II, Denpasar, Bali. Di lokasi, polisi menemukan berbagai barang bukti yang mengindikasikan tembakau sintetis itu diproduksi secara rumahan di lokasi. Polisi menduga, dari bisnis ini, para pelaku meraup keuntungan yang jumlahnya luar biasa besar.

"Kedua tersangka berumur 19 tahun dan tidak kuliah. Sedangkan untuk omzet dari 30 kilogram barang bukti dengan estimasi 4 atau 5 gram dijual dengan harga Rp450 ribu hingga Rp500 ribu. Maka omzet penjualnya tembus hingga Rp3 miliar," tandasnya.

Baca Juga : Melawan Narkoba Taiwan

Lalu apa itu tembakau sintetis?

"Sinte", begitu tembakau sintetis biasa disebut di kalangan penggunanya. Terkait sejumlah kalangan --termasuk polisi dan media-- yang melabeli tembakau sintetis dengan sebutan ganja sintetis atau synthetic cannabinoid atau berbagai sebutan keliru lainnya, itu persoalan lain yang sejatinya harus diluruskan.

Sebab, kenyataannya tembakau sintetis sama sekali berbeda dengan ganja. Saudara jauh pun bukan. Mau bukti?

Drug Enforcement Administration (DEA), BNN-nya Amerika Serikat, punya data. Ada 400 jenis tembakau sintetis yang beredar di pasaran. Label dalam produk tembakau sintetis mencantumkan sejumlah senyawa yang mengesankan produk ini aman untuk dikonsumsi, seperti Althea Officinalis (daun marshmallow), Calea Zacatechichi (dream herb), Matricaria Chamomilla (chamomile) hingga Leonitis Leonurus (wild dagga).

Baca Juga : 71 Narkoba Jenis Baru

DEA pun melakukan uji laboratorium terhadap berbagai produk itu. Hasilnya, salah besar! DEA tak menemukan satu pun senyawa yang tersebut di atas. Apalagi kandungan yang berkaitan dengan tanaman ganja. Yang ditemukan DEA justru sintetik tokoferol dalam jumlah besar.

Juru Bicara DEA, Barbara Carreno, dalam sebuah wawancara menjelaskan, senyawa sintetik tokoferol biasa ditemukan di India. Namun, pusatnya berada di China. Keterangan Barbara seakan mengamini kecurigaan Mabes Polri soal dari mana segala material pembuat tembakau sintetis ini berasal.

“Senyawa kimia berbentuk bubuk tersebut biasanya datang dari India, tapi yang utama berpusat di China. Ganja sintetis dikemas dalam jumlah kecil namun sangat kuat efeknya,” kata Carreno.

Bahaya tembakau sintetis

Bahaya dari barang yang satu ini tak main-main. Care Esperanza, spesialis kecanduan berlinsensi dari Pusat Ketergantungan Acadania di Lafayette, Lousiana, Amerika Serikat, lewat penelitiannya mengungkap efek tembakau sintetis lebih jahat dibanding mabuk-mabukan di bar. Selain efek melongo, konsumsi tembakau sintetis dapat menyebabkan keterlambatan respons hingga kelumpuhan sementara. Dalam jangka panjang, efek tembakau sintetis dapat menyebabkan kerusakan fungsi hati dan penurunan fungsi kognitif.

Bukan cuma efeknya yang bikin kepala melintir, tapi memang senyawa di dalam tembakau sintetis ini pada dasarnya sudah sangat berbahaya. Sherri Kacinko, seorang ahli racun dari NMS Labs di Willow Grove, Pennsylvania, Amerika Serikat pernah mengungkap gambaran soal betapa bahayanya tembakau sintetis.

"Bercanda jika Anda akan menggunakan ini (tembakau sintetis). Tolong beri tahu saya. Berikan saya contoh darah dan urine kalian, karena kami tidak diperbolehkan menguji coba senyawa ganja sintetis ini kepada tikus sekali pun,” ungkap Sherri.

Di Indonesia, kemunculan tembakau sintetis terjadi sejak beberapa tahun lalu. Diawali dengan kemunculan Tembakau Super Cap Gorilla, yang mencantumkan cengkeh, lion's tail, dan wild dagga di bagian luar kemasan. Jelas, ini produk tembakau yang enggak jelas. Sebab, lion's tail dan wild dagga adalah tumbuhan yang sama.

Selain Gorilla, tembakau sintetis juga muncul dengan sejumlah nama, mulai dari Spice, K2, No More Mr. Nice Guy, Yucatan Fire, Bliss, Blaze, Skunk, Moon Rocks, dan lain sebagainya.

Sejauh ini, pemerintah telah berupaya menumpas peredaran tembakau sintetis ini, termasuk dengan menyertakannya ke dalam jenis narkoba golongan I. Tapi, upaya itu jelas belum cukup. Tembakau sintetis terlanjur menyebar dengan sejumlah label. Dengan identitas yang kabur, para pengedar tembakau sintetis menyasar pasar yang tengah mencari narkoba alternatif.

Dan menyebut tembakau sintetis dengan embel-embel ganja, cannabinoid atau sebutan apa pun yang merelasikannya dengan ganja jelas kekeliruan. 

Karenanya, pemerintah wajib menguak senyawa apapun yang sejatinya terkandung dalam tembakau sintetis. Edukasi jelas jadi hal penting untuk membangun logika masuk akal tentang tembakau sintetis ini. Lewat edukasi, masyarakat akan terproteksi dari kontaminasi kimia jahat tak terlacak dalam tembakau sintetis ini.
Rekomendasi