Rayuan Jokowi untuk Kids Zaman Now

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi Silvanus Alvin (Yus/era.id)

Jakarta, era.id - Jangan merasa Pilpres 2019 masih jauh. Pesta demokrasi ada di ujung koridor. Pilpres tahun depan akan sedikit berbeda dari yang sebelumnya karena ditentukan para pemilih pemula. 

Dari penelusuran data yang saya lakukan, mereka yang berumur 17-24 tahun dan dapat dikategorikan sebagai pemilih pemula, persentasenya bisa mencapai 40 persen. Menurut KPU, terdapat 196 juta penduduk WNI yang punya hak pilih untuk ikut dalam pesta demokrasi mendatang. Meski angka yang disebut KPU belum final, kecil kemungkinan angkanya meleset jauh. Paling tidak pemilih pemula bisa mencapai 70 juta orang.

Bagaimana para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden mengambil hati pemilih pemula ini, dapat menentukan keberhasilan mereka. Bisa dikatakan, nasib Indonesia berada di tangan muda-mudi bangsa. Nah, menarik untuk memerhatikan strategi komunikasi politik para kandidat Pilpres 2019.

Strategi Jokowi

Walau masa kampanye belum dimulai, saya melihat sudah ada kampanye terselubung yang dilakukan. Misalnya saja, petahana Presiden Jokowi. Saya menganalisa Jokowi sudah mulai menarik perhatian dan hati pemilih pemula. Dia berusaha masuk dengan cara mengikuti apa saja yang sedang tren di kalangan anak muda. 

Saat film Dilan sedang viral, Jokowi masuk di situ. Ia menonton bersama putrinya, Kahiyang. Belum selesai sampai di situ, masih viral juga berita Jokowi mengendarai motor Royal Enfield Bullet 350 cc bergaya chopper. Dari motor hingga jaket denim yang digunakan menarik perhatian masyarakat. Sepengetahuan saya, belum ada kandidat yang mencoba down to teenagers (berusaha masuk ke ranah anak muda) seperti Jokowi. Atau, saat Jokowi sedang jalan santai, terekam di media bahwa ia sedang memakai sneakers Adidas Yeezy yang harganya belasan juta. Kultur dari sneakers ini sedang naik daun di kalangan muda.



Saya mengamati, ada sebuah strategi untuk membingkai Jokowi sebagai politisi dan di saat bersamaan juga sebagai selebriti. Istilah celebrity politician ini menurut saya melekat pada diri Jokowi. Media saat ini sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang infotainment dan news. Pokoknya, selama itu Jokowi pasti akan diberitakan. Jokowi atau mungkin penasihat politiknya, paham betul gimmick-gimmick seperti di atas (nonton Dilan, naik motor, atau memakai sneakers) memiliki makna bagi kaum muda. Seakan mantan Gubernur DKI Jakarta itu paham dengan keseharian kaum millennial itu.

Selain itu, gaya komunikasi Jokowi ini menarik untuk dikonsumsi di sosial media. Apalagi, status Jokowi sebagai celebrity politician menambah daya tarik tersendiri. Bahkan, dari beberapa riset yang sudah di-publish di jurnal internasional, menyimpulkan pemilih pemula mencari informasi politik dari sosial media, bukan dari portal berita. Mereka masih membaca media, tapi aksesnya melalui platform seperti Facebook atau Instagram. 

Hal ini bisa dikategorikan interaksi para-sosial, di mana terjadi komunikasi satu arah dari Jokowi sebagai celebrity politician ke pemilih pemula dan mereka merasa ada intimasi yang terbangun. Saya lihat langkah Jokowi itu one-step a head, apalagi belum ada rival politiknya. 

Strategi Prabowo

Memang belum ada yang deklarasi secara pasti untuk jadi capres 2019. Nama Prabowo Subianto santer terdengar dan tampaknya mantan Danjen Kopassus itu akan kembali jadi capres. Terkait Prabowo, saya mengamati belum ada strategi komunikasi politik khusus untuk Pilpres mendatang. Gayanya masih sama, yakni menampilkan sisi maskulintas pemimpin berwibawa, tegas, serta berani. 

Dari caranya berpidato, berpakaian, sampai pembentukan imej di sosial media, Prabowo masih menunjukkan representasi sebagai seorang nasionalis dan serupa seperti Bung Karno. Bila head to head dengan gaya komunikasi politik demikian, saya memprediksi Prabowo kecil peluangnya untuk menang melawan Jokowi. Menurut saya, kids zaman now tidak akan tertarik dengan gaya komunikasi kuno seperti itu. Perlu adanya perubahan strategi komunikasi.

Saya mengibaratkan strategi komunikasi bak sepatu dan proses kampanye seperti lomba lari. Jokowi sudah ‘mencuri start’ dengan mengenakan ‘sepatu barunya’ yang menarik perhatian anak muda. Sedangkan Prabowo, masih di belakang garis start dan ia terlihat mengenakan ‘sepatunya yang usang’.

Silvanus Alvin
Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Bunda Mulia
Penerima Beasiswa LPDP, Lulusan Master University of Leicester


Era ide adalah kumpulan tulisan dari para pemikir negeri ini. Kami mau era ide bisa memberikan pemahaman baru bagi pembaca media ini. Jika ada opini kamu mengenai sebuah peristiwa politik, hukum atau apa pun, silakan kirim tulisan ke [email protected]

Tag: era ide

Bagikan: