PDIP dan Imam Besar Istiqlal Bahas Sejarah Islam

| 11 Apr 2018 19:21
PDIP dan Imam Besar Istiqlal Bahas Sejarah Islam
Hasto Kristiyanto dan Nasaruddin Umar (Diah/era.id)
Jakarta, era.id- Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bersama Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) menemui Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (11/4/2018).

Pertemuan dilakukan sebagai upaya menyambung tali silaturahmi serta bertukar cerita tentang sejarah Masjid Istiqlal dan sejarah keislaman sejak zaman Presiden Sukarno.

Hasto menyebut, kedatangannya karena ditugaskan oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menyampaikan bagaimana kaderisasi PDIP yang mengajarkan tentang keislaman dan sejarah Islam.

"Bung Karno juga selalu menegaskan artinya Islam. Islam yang berkemajuan, Islam Nusantara yang berkemajuan untuk Indonesia raya," ungkap Hasto.

Dalam pertemuan itu, Hasto juga memberikan beberapa buku, salah satunya yang bertajuk Bung Karno, Islam, dan Pancasila kepada Nasaruddin sebagai bagian dari upaya pelurusan sejarah yang selama ini menyimpang. 

Di akhir pertemuan, Hasto mengundang Nasaruddin ke acara peletakan batu pertama masjid yang dibangun oleh PDIP dan mengatakan PDIP akan mengadakan pertemuan nasional dengan Ormas Iqwanul Mubaliqin yang diketuai oleh Mujib Khudori.

"Demikian juga rencana Iqwanul Mubaliqin untuk mengadakan pertemuan nasional. Di mana, Prof Rokhmin Dahuri (Ketua DPP PDIP bidang Kemaritiman) ini sebagai ketua dewan pakarnya. Tentu saja PDIP juga berkomitmen untuk memberikan dukungan sepenuhnya," kata Hasto.

"Enggak mungkin suatu negara akan maju makmur dan berdaulat tanpa persatuan dan kesatuan yang kokoh. Kita tahu keragaman di Indonesia paling besar di dunia. Karena itu, hal semacam ini, seperti Pak Sekjen katakan, akan terus dirawat PDIP," timpal Rokhmin.

Adapun Nasaruddin Umar mengaku terkejut mengetahui pengurus PDIP akan menemuinya. Dia merasa terkejut seperti saat mengetahui  ada tokoh-tokoh besar lainnya datang ke Istiqlal untuk berbincang soal Islam dan Indonesia.

"Saya enggak tahu mimpi apa ini. Wakil Paus juga pernah ke sini.

Ini contoh masjidnya Nabi, ada tokoh lintas agama. Nabi itu dekat dengan semua, dekat dengan kemanusiaan," ungkap Nasaruddin.

"Ini masjid kita bersama. Tanpa Bung Karno kita enggak mungkin punya masjid sebesar ini. Istiqlal itu menjadi simbol Indonesia," ujar Nasaruddin.

 

Tags :
Rekomendasi