Bulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2018

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Hilmi/era.id)

Jakarta, era.id - Bulu tangkis Indonesia memiliki sejarah panjang selama penyelenggaraan Asian Games. Sejak dipertandingkan pertama kalinya pada Asian Games ke-4 di Jakarta (1962), bulu tangkis selalu menjadi lumbung utama medali bagi Indonesia.

Pada awal keikutsertaan cabor bulu tangkis di Asian Games, Indonesia secara gemilang memborong medali di semua nomor yang dipertandingkan. Tan Joe Hock, Minarni, dan Retno Kustijah berhasil meraih medali emas.

Dari total 18 medali, Indonesia berhasil meraih lima emas, tiga perak dan tiga perunggu. Hasil ini membuat nama Indonesia pada cabor bulu tangkis di Asian Games semakin diperhitungkan.

Kedigdayaan Indonesia berlanjut pada Asian Games periode berikutnya (1966) di mana nomor tunggal putra berhasil mendapatkan emas melalui Mulyadi dan duet Minarni-Retno Kustijah berhasil mempertahankan medali emasnya.

Sayangnya, sejak Asian Games 1970, kedigdayaan Indonesia digeser Tiongkok yang berpartisipasi dalam gelaran olahraga multi event tersebut. Tercatat sejak 1974, Indonesia menjadi rival utama Tiongkok. 

Persaingan antara kedua negara dikenal cukup 'panas' dan merembet hingga ke berbagai kompetisi bulu tangkis elite lainnya seperti Piala Thomas, Piala Uber, Piala Soedirman dan All England.

Kendati demikian, pada Asian Games 1974, 1978, dan 1982 Indonesia tetap unggul atas Tiongkok dengan meraih medali emas pada nomor ganda putra melalui pasangan Tjun Tjun-Johan Wahjudi, Christian Hadinata-Ade Chandra dan Icuk Sugiarto serta nomor ganda campuran melalui pasangan Christian Hadinata-Regina Masli dan Ivana Lie.

Sayangnya, pada dua edisi berikutnya (1986 dan 1990) Indonesia gagal total. Medali emas baru kembali diraih Indonesia pada Asian Games di Hiroshima, 1994 melalui nomor tunggal putra atas nama Hariyanto Arbi dan nomor ganda putra; Ricky Subagja-Rexy Mainaky. Nama terakhir bahkan mampu mempertahankan gelarnya pada penyelenggaran berikutnya.

Pada Asian Games 2002 dan 2006, Taufik Hidayat berhasil merebut medali emas di nomor tunggal perseorangan. Indonesia juga meraih medali emas melalui nomor ganda putra Markis Kido-Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan-Hendra Setiawan serta ganda putri Greysia Polii-Nitya Maheswari pada dua edisi Asian Games berikutnya.

Sayangnya, untuk untuk nomor tunggal putra dan putri Indonesia tidak mampu berbicara banyak. Dominasi negara kita tergerus oleh hegemoni atlet Tiongkok.

Pada Asian Games kali ini, cabor bulu tangkis diharapkan mampu berbicara lebih banyak lagi di mana Chef de Mission (CdM) Asian Games 2018, Komjen Sjafruddin menargetkan empat medali emas. Namun PBSI mencoba realistis--melalui Kepala Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susi Susanti--dengan hanya menargetkan dua medali emas.


Ilustrasi prestasi bulu tangkis Indonesia di Asian Games (Hilmi/era.id)

Tag: asian games 2018 menjadi bangsa pemenang

Bagikan: