Soal Matematika Sulit, KPAI: Pelanggaran Hak Anak!

Tim Editor

Ilustrasi (Foto: setkab.go.id)

Jakarta, era.id - Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku menerima banyak aduan terkait sulitnya soal ujian pelajaran Matematika di tingkat SMA pada Ujian Nasional (UN) kemarin.

Selain sulit, para siswa mengeluh waktu pengerjaan yang relatif singkat dibanding rumitnya soal ujian. Para siswa juga menyebut soal ujian tidak sesuai dengan kisi-kisi.

"Siswa (yang mengadu) menyatakan hanya menyakini jawaban benar sekitar 5 sampai 10 dari 40 soal yang diuji. Siswa juga mengaku tidak pernah membayangkan soal matematika UNBK sesulit itu, padahal selama ini mereka sudah belajar keras untuk berlatih menyelesaikan soal-soal matematika dari berbagai sumber," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/4/2018).

Berdasarkan informasi yang diterima KPAI, para siswa mengaku tidak pernah mendapatkan soal jenis itu dalam proses pembelajaran dan penilaian selama tiga tahun di sekolah. 


'Sulitnya Soal Ujian Matematika' (Infografis/era.id)

Baca Juga : Ujian Nasional dengan Soal Nalar Tingkat Tinggi

Beberapa siswa yang menelepon langsung KPAI, ada yang menangis khawatir mendapat nilai buruk. Malah, kata Retno, ada yang frustasi sehingga enggan mengikuti ujian hari ketiga dan keempat. Retno menilai soal matematika UNBK SMA memang sengaja dibuat sulit, karena termasuk jenis soal higher order thinking skills

"Sederhananya bila banyak siswa menjawab dengan benar berarti soal itu mudah. Bila yang terjadi sebaliknya berarti soal itu sulit. Sementara hasil UNBK matematika SMA belum diketahui hasilnya saat itu," ujar Retno.

Silakan baca Mendikbud Akui Sulitnya Soal Ujian Nasional?

Pelanggaran Hak Anak

Dari pengaduan yang masuk, KPAI menemukan adanya indikasi masalah terkait sulitnya soal UNBK matematika SMA. Bahkan diduga ada malpraktik evaluasi, mengingat sejumlah soal terindikasi sulit dipahami oleh siswa. Retno menambahkan, menguji siswa dengan materi yang tidak pernah dipelajari di kelas merupakan ketidakadilan. 

"Bisa jadi soal itu bermasalah karena tidak memiliki daya pembeda. Artinya soal itu tidak bisa membedakan antara siswa yang ada di kelompok atas dan bawah (kemapuan diskriminasi)," ujar Retno.


Infografis Ujian Nasional (Rahmad/era.id)

"Bisa juga karena teks soal itu bersifat ambigu atau multitafsir sehingga dipahami berbeda oleh siswa satu dan siswa lainnya (masalah realibilitas soal)" tambahnya.

Berdasarkan indikasi tersebut, KPAI menemukan adanya dugaan Kemdikbud RI telah melakukan pelanggaran hak anak, karena menguji anak-anak dengan soal-soal yang materi dan jenis soalnya tidak pernah diajarkan. Hal ini, kata retno, adalah malpraktik dalam pendidikan, tepatnya dalam evaluasi. 

"Kalau malpraktik di kedokteran bisa menimbulkan kematian, maka malpraktik di pendidikan bisa merugikan para siswa dan menghambat kualitas pendidikan," tutup Retno.

Tag: ujian nasional

Bagikan: