Terjalinnya komunikasi dengan Stella membuat pikiran Kartini bak terlepas dari belenggu. Semua yang menyesakkan dadanya kala itu, ditumpahkan lewat puluhan surat yang dikirimkan untuk Stella.
"Kami anak perempuan, sejauh ini pendidikan berlangsung, terbelenggu oleh tradisi dan konvensi kuno, telah beruntung sedikit oleh hal ini. Adalah kejahatan besar terhadap adat di tanah kami jika kami harus dididik, dan terutama jika kami harus meninggalkan rumah setiap hari untuk pergi ke sekolah. Karena kebiasaan negara kami yang sangat kuat melarang gadis untuk ke luar rumah. Kami tidak pernah diperbolehkan pergi ke mana saja, walaupun begitu, jangankan ke sekolah, satu-satunya tempat pengajaran yang dibanggakan oleh kota kami, yang terbuka bagi kami, adalah sekolah dasar gratis bagi Eropa." begitu isi surat Kartini untuk Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899.
Perempuan yang punya nama lengkap Raden Adjeng Kartini itu berasal dari kalangan priyayi Jawa yang sangat menganut kekuatan adat. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih cerdas yang bertanggung jawab penuh atas sikap kritis dan kemampuan menulis ketiga anaknya dari istrinya, Ngasirah.
RA Kartini dengan orangtuanya, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya. (Foto: commons.wikimedia.org)
Kemampuan menulis dan membaca Kartini telah membuatnya mampu menjangkau lingkungan literasi yang cukup baik. Lambat laun pikiran Kartini kian terbuka. Ia semakin sadar akan tanggung jawab memajukan perempuan pribumi, yang saat itu tidak memiliki akses menuntut ilmu ataupun mendapatkan penghidupan yang layak.
Dunia literasinya makin tak terbendung, hingga pada November 1901, Kartini bertemu dengan berbagai buku yang mengubah cara pandangnya. Salah satunya karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta; Kekuatan Gaib karya Loius Coperus, hingga roman feminis Goekoop de-Jong Van Beek, yang sedikit banyaknya mengasah kemampuan berpikir perempuan Jawa itu.
Perhatian Kartini memang banyak difokuskan pada pengembangan literasi pribumi perempuan. Kartini juga yakin emansipasi wanita dapat menjadi solusi mengatasi permasalahan sosial umum. Bagi Kartini, perjuangan wanita harus mampu mencapai kemerdekaan. Perempuan harus mampu memperoleh kebebasan sekaligus akses atas persamaan hukum dan pendidikan yang sama.
Kartini dan dua saudarinya Kardinah, dan Roekmini. (Foto: Commons Wikimedia)
Harapan Kartini yang Jauh Panggang dari Api
Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres Nomor 108 Tahun 1964. Dalam Keppres itu, Bung Karno menetapkan 21 April sebagai hari lahirnya kesadaran wanita sekaligus hari lahirnya RA Kartini.
Namun dalam perjalanannya, peringatan hari Kartini semakin jauh panggang dari api. Makna kesadaran perempuan yang diharapkan sang Proklamator semakin melenceng dari makna sesungguhnya.
Dibanding mengkaji dan mengamalkan gagasan Kartini, 21 April malah sering diidentikan dengan perayaan keindahan dan kecantikan wanita. Lebih dari itu, banyak dari masyarakat Indonesia yang mempersoalkan relevansi gagasan Kartini, sesuatu yang miris apabila dikaitkan dengan perjuangannya menyadarkan emansipasi bagi perempuan Indonesia.
Konsep emansipasi perempuan buah pemikiran RA Kartini tertuang dalam sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut merupakan ide-ide Kartini dalam memperjuangan emansipasi wanita, dalam bentuk surat-surat yang dikirimkannya kepada teman-temannya yang berwarga negara Belanda.
Buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini dalam bahasa Belanda. (Foto: Istimewa)
Hampir 119 tahun berlalu sejak surat-suratnya dikirimkan, gagasan Kartini masih menggantung di kaki langit. Data dari BPS 2017 menunjukan ada sekitar 3,4 juta orang Indonesia yang masih terhitung sebagai buta huruf. Celakanya, dua pertiga dari angka tersebut adalah perempuan yakni 2.258.990.
Data BPS itu juga menunjukan mayoritas perempuan yang buta huruf memiliki tingkat pendidikan yang amat rendah, mulai dari tidak pernah bersekolah sama sekali hingga tidak tamat SD. Dari demografinya, data BPS 2017 menunjukan sebagian besar perempuan yang buta huruf berstatus sebagai ibu-ibu yang tinggal di pedesaan dan berjualan secara kecil-kecilan.
(Infografis/era.id)
Data yang dilansir dari BPS 2014 menunjukkan angka harapan sekolah (AHS) laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda. AHS laki-laki adalah 12,37 tahun atau setara dengan SMA/ Diploma 1. Untuk perempuan, AHS nya adalah 12,40 tahun yang artinya setara dengan laki-laki.
Melihat data itu, segenap elemen Indonesia belumlah 100 persen mampu menangkap apa intisari perjuangan seorang Kartini. Bagi Kartini, pendidikan adalah bagaimana memerdekakan sebuah masyarakat sekaligus membebaskan diri dari belenggu kebodohan.