Kisah Rosa, Jual Rumah Demi 'Menerangi' Papua

Tim Editor

Rosa Mian de Verstegen (Foto diambil pada 2011/era.id)

"Tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan, selain menimbulkan senyum di wajah orang lain, terutama wajah yang kita cintai," R.A Kartini.

Jakarta, era.id – Rosa Mian de Verstegen sedang duduk di kursi kayu beralas busa, tangannya ditaruh di atas meja, saat kami menemuinya pada pekan kedua Oktober 2011, di rumahnya, di Khembili, Sentani, Jayapura.

Dia langsung beranjak menyambut, meski langkahnya sudah tak begitu gesit. Wajahnya menua, tapi sorot matanya masih tajam penuh harapan.

“Terima kasih sudah mau datang,” kata perempuan kelahiran Meksiko itu, sambil menggenggam erat tangan kami dan mempersilakan duduk.

Pertemuan kami dengan Rosa tak disengaja. Seorang warga Wamena yang kami temui di Bandara Sentani dan sudah setahun menetap di Jayapura, menyarankan kami ke Rumah Agape, saat mengetahui kami datang untuk memotret buta huruf di Papua.

Rumah Agape adalah pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) yang dibangun Rosa pada 2003. Biaya operasionalnya kini berasal dari kantong pribadinya dan hasil penjualan kerajinan tangan yang dibuat warga, serta bantuan pemerintah dan swasta. Tenaga pendidiknya adalah aktivis dari berbagai daerah.

Di dalam ruang kerjanya yang berukuran 4x4 meter itu, dia menceritakan kecintaannya pada tanah Papua. Beberapa peserta didiknya ikut mendengarkan, sambil berdiri karena tidak kebagian kursi.

Baca Juga : Menjawab Surat Kartini untuk Estella Zeehandelar


Senyum anak-anak Papua (Foto: Instagram Jokowi)

Perempuan yang usianya sudah lebih dari 60 tahun itu pertama kali masuk Papua pada 1963 sebagai aktivis pendidikan yang diutus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Selain Papua, dia pernah ke negara-negara lain, tapi hatinya mengajak untuk kembali dan menetap di Bumi Cenderawasih tersebut. Awal 1970-an, dia meminta kembali ditugaskan di Papua dan bergabung dengan aktivis dari LSM berbeda yang fokus pada peningkatan akses pendidikan di Papua.

Di tengah perjuangannya membuka jalur pendidikan di pedalaman Papua, dia bertemu seorang pria yang mendukungnya dan kemudian menikahinya pada 1975. Akhir 1990-an, suaminya meninggal dunia dan sejak saat itu Rosa tak diizinkan lagi menembus pedalaman Papua. Pada bagian ini, dia bercerita dengan sudut bibir bergetar dan mata mulai berkaca.

Baca Juga : Siapakah Tri Mumpuni, Kartini Pembawa Terang Masyarakat

Karena terbentur aturan dan saat itu belum mendapat kewarganegaraan Indonesia, ruang gerak Rosa dibatasi hanya boleh berkegiatan mengajar baca tulis dan keterampilan di Jayapura.

Status menjadi WNI baru dia dapat dari pemerintah Indonesia pada 2002, setelah memenuhi syarat lama menetap di Indonesia dan persyaratan lainnya. Setelah resmi jadi WNI, Rosa pulang kampung ke Meksiko untuk menjual rumah dan seluruh harta bendanya di sana. Hasil penjualan itu kemudian dia alihkan untuk membangun dan mengoperasikan Rumah Agape.

Rumah Agape diisi peserta didik dari usia anak-anak, remaja, hingga dewasa. Kegiatan utama di PKBM itu adalah belajar baca tulis dan keterampilan. Pada 2011, angka buta huruf di Papua mencapai 200.000 jiwa atau 23 persen dari jumlah penduduk Papua.

Pada awal berdirinya, Rumah Agape khusus untuk anak-anak perempuan dari keluarga miskin. Selain baca tulis, peserta didik Rumah Agape juga dibekali keterampilan menjahit, menyulam, tata rias, bercocok tanam, dan lainnya, sebagai bekal untuk membantu meningkatkan taraf hidup keluarga. Tapi seiring berjalannya waktu, Rumah Agape kini menerima peserta didik laki-laki semua usia.

“Saya cinta Papua. Saya sudah ke berbagai negara, tapi hanya mau kembali ke Papua,” ucapnya saat itu. Lalu air matanya jatuh, dia menyudahi cerita dan mengajak kami melihat ruang belajar Rumah Agape.

Rumah Agape terdiri dari beberapa ruangan, ada kelas untuk belajar baca tulis, ada juga ruangan untuk belajar menjahit, menyablon, dan halaman depan untuk bercocok tanam. Beberapa peserta didik nampak membuka buku cetakan lama untuk melancarkan kemampuan membaca. Fasilitas yang serba terbatas tidak jadi alasan untuk bermimpi luas.

Semua peserta didik di Rumah Agape mengikuti program baca tulis selama setahun hingga mendapat sertifikat dari Dinas Pendidikan Papua. Sertifikat itu jadi bekal peserta didik Rumah Agape untuk mencari pekerjaan di tempat lain.

Perlahan namun pasti, Rosa membantu banyak orang di Papua melek aksara. Dia masuk dalam bagian orang yang menekan angka buta huruf nasional dari 8,5 juta jiwa pada 2011, menjadi 3,4 juta jiwa pada 2017. Terima kasih, Bunda...


Infografis buta huruf nasional (Wildan/era.id)

Tag: hari kartini

Bagikan: