Pembelaan ABRI di Tengah Tuduhan Penculikan Aktivis

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (era.id)

Konten ini masih dalam rangkaian serial panjang untuk memperingati 20 tahun reformasi yang dibuat era.id buat kamu. Setiap hari, sejak 21 April lalu, kami mencoba merangkai lagi peristiwa yang terjadi setiap harinya, tepat 20 tahun silam. Serial ini akan berlangsung hingga 21 Mei mendatang. Yang pasti, bukan cuma artikel semata. Selamat menikmati....


Jakarta, era.id - Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto menjelaskan tidak ada kebijakan pemerintah maupun politik ABRI untuk menghilangkan orang-orang yang dianggap mengancam stabilitas negara. Wiranto malah prihatin terhadap peristiwa penculikan yang menyebabkan hilangnya beberapa aktivis.

"Karena itu, ABRI berusaha membantu, mencari orang yang hilang itu. Dalam ABRI sendiri tidak ada kebijakan atau perintah untuk menghilangkan orang-orang tertentu," ujar Wiranto seperti dilansir Harian Kompas, Kamis (30/4/1998) silam.

29 April, 20 tahun lalu, Wiranto mengatakan kepada wartawan, untuk kasus pencarian orang hilang, ABRI mengedepankan kepolisian untuk tugas tersebut. Saat itu Wiranto mengaku sudah memerintahkan polisi untuk mencari orang yang hilang serta memberikan penjelasan secara terbuka.


Ilustrasi Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto (era.id)

Sementara itu, Kepala Pusat Penerbangan (Kapuspen) ABRI Brigjen TNI Abdul Wahab Mokodongan menegaskan, sebagai aparat penegak hukum, ABRI dituntut bersikap tidak pandang bulu dalam penuntasan kasus tersebut. Dia menambahkan siapapun yang melanggar peraturan akan diproses secara hukum.

Mokodongan juga mengatakan, jika ada oknum yang terlibat 'mengamankan' para aktivis tersebut, ABRI tidak akan segan-segan memecat anggotanya. ABRI bahkan siap untuk memberi jaminan keselamatan terhadap orang yang diancam untuk dihilangkan.

Menanggapi kasus yang mengakibatkan puluhan aktivis hilang dari peredaran, Wakil Ketua MPR/DPR saat itu, Syarwan Hamid menuntut agar kasus tersebut segera diklarifikasi. "Cara-cara seperti itu sangat bertentangan dengan hukum. Oleh karena itu harus diusut tuntas," kata Syarwan usai melakukan rapat pimpinan DPR.





Menurut Syarwan, pengusutan secara tuntas kasus ini berguna juga untuk memperbaiki citra ABRI dan menghilangkan berbagai prasangka yang bergulir di masyarakat.

Ketua Fraksi ABRI Hari Sabarno menerangkan, ABRI punya tradisi culik-menculik. Dalam operasi yang paling mendesak pun, seperti misalnya operasi tempur, metode penculikan bukan jadi prioritas. Di sisi lain, operasi intel yang dilakukan adalah untuk kepentingan penyelidikan, mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, persenjataan dan keadaan tempur.

Hari berharap agar dilakukan pemeriksaan silang terhadap keterangan-ketarangan dari mereka yang pernah diculik. Orang-orang yang dibeberkan Pius Lustrilanang misalnya, perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Mereka juga harus membeberkan kejadian sebenarnya kepada Komnas HAM.

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: