Menakar Ujian Nasional pada Mutu Pendidikan Indonesia

Tim Editor

    Ilustrasi (era.id)

    Jakarta, era.id - Ujian Nasional 2018 untuk siswa SMP sudah dilalui. Biasanya, selesai Ujian Nasional, para siswa bersukacita. Tapi usai Ujian Nasional 2018, yang digelar pada 23-26 April, tak ada kebahagiaan yang siswa SMP ini tampilkan. Mereka banyak mengeluh sulitnya menyelesaikan soal ujian.

    Di media sosial, keresahan mereka gampang ditemui. Mereka memaparkan keluh kesahnya saat mengerjakan Ujian Nasional 2018. Murid-murid SMP itu bahkan langsung me-mention akun Instagram pribadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, @muhadjir_effendy, atau akun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan @kemdikbud.ri untuk menceritakan perasaan mereka saat mengerjakan Ujian Nasional 2018.

    Akun @gibranyourbae_ misalnya, dia mengaku kesulitan mengerjakan soal matematika Ujian Nasional 2018. "Soal matematika nya sulit pak, seperti sulitnya memahami perasaan seseorang @kemdikbud.ri." 

    Ada lagi, akun @kdkmia_ yang menulis kegundahannya saat mengerjakan soal matematika Ujian Nasional 2018. Dia menyampaikan kegundahannya dengan gaya satire. "Saya belum bisa moveon dari soal matematika yang begitu amat gampang, saking gampangnya saya sampai ngerjain enggak liat soal, begitu seninya saya, sampai-sampai saya ngurek (menulis indah) diatas ljk." 

    Keluhan-keluhan ini ditanggapi serius oleh Mendikbud Muhadjir. Kata dia, Ujian Nasional 2018 yang berbasis komputer, atau yang dikenal dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ini, merupakan perjuangan yang berat. Tapi, kata dia, sistem ini adalah tantangan yang harus diberikan kepada siswa. 

    UNBK untuk SMP ini, kata Muhadjir, sama dengan UNBK di tingkat SMA. Ujian kali ini menggunakan standar High Order Thinking Skill (HOTS), dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan dengan jenjang SMP.


    (Infografis UNBK/era.id)

    Baca Juga : Mendikbud Akui Sulitnya Soal Ujian Nasional

    Ternyata, penerapan HOTS dalam soal matematika mengacu pada standar internasional bernama Programme for International Student Assessment (PISA). PISA merupakan sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia. PISA ini menguji tiga aspek dari murid, yaitu matematika, sains, dan membaca. Indonesia sudah ikut tes PISA ini sejak 2001. 
     
    PISA ini digelar setiap tiga tahun kepada siswa berusia 15 tahun. Para siswa akan mengikuti tiga tes tadi, matematika, sains dan membaca. PISA ini mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan dengan pengetahuannya. 

    Baca Juga : Kemendikbud Gagal Paham Soal HOTS

    Pada laporan OECD tahun 2016, yang berarti dari penelitian yang dilakukan pada 2015, nilai rerata PISA di Indonesia mengalami peningkatan. Dari ketiga bidang yang dinilai, peningkatan terbesar ada pada penilaian bidang sains. 

    Pada 2012, kompetensi sains naik dari 382 poin (2012) menjadi 403 poin (2015). Sementara, dalam kompetensi matematika, meningkat dari 375 poin (2012) poin menjadi 386 poin (2015). Namun, untuk kompetensi membaca, Indonesia masih belum menunjukan skor yang memuaskan karena hanya naik 1 poin, dari 396 poin (2012) menjadi 397 poin (2015).

    Tren Rata-rata Nilai UN Terus Turun

    Kenyataan, sejak 2013, nilai ujian nasional siswa SMP di Indonesia naik-turun. Nilai rerata  UN SMP adalah 61 pada 2013, kemudian pada 2014 meningkat menjadi 65,2. Namun, setelah itu, nilai rerata UN SMP turun secara perlahan. Pada 2015, nilai rerata UN SMP turun jadi 61,8, pada 2016 jadi 58,57, dan 2017 turun jadi 57.

    Bukan hanya di tingkat SMP, ujian nasional di tingkat SMA juga cenderung turun. Pada 2013, rata-rata nilai UN berada di angka 63,5, tapi pada 2014 turun jadi 61,2. Kemudian pada 2015 turun 0,09 poin jadi 61,29, dan pada 2016 nilai rata-rata UN terjun menjadi 54,78. Terparah, rerata UN SMA pada tahun 2017 hanya mencapai angka 48,6.

    Muhadjir pun optimistis pada 2018 ini nilai UN tidak akan merosot. Dia meyakini, soal Ujian Nasional 2018 tidak terlalu sulit untuk para siswa. Dia pun akan mempertahankan sistem ujian seperti ini. 

    "Secara umum bagus, di luar perkiraan kita, terutama yang sempat mencuat ke permukaan masalah sulitnya soal. Sebenarnya tidak banyak, kurang dari 10 persen total soal," kata Muhadjir, Sabtu (28/4/2018).

    Tag: era pendidikan unbk ujian nasional riwayat pendidikan tri mumpuni

    Bagikan :