Dita Oepriarto Akrab dengan Radikalisme Sejak SMA

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi ledakan bom di tiga gereja di Surabaya (Yuswandi/era.id)

Jakarta, era.id - Nama Dita Oepriarto, pelaku bom GPPS di Jalan Arjuno, Surabaya memenuhi lini masa pemberitaan. Banyak relasi Dita yang menceritakan kembali kehidupannya sebelum Ketua Jamaah Ansarud Daulah (JAD) cabang Surabaya itu mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Salah satunya akun Facebook milik Ahmad Faiz Zainuddin. Dalam statusnya ia mengaku sebagai adik kelas Dita saat bersekolah di SMA Negeri 5 Surabaya. Lulusan tahun 1991 dan dia menceritakan pengalamannya mengenal Dita.

Ahmad menyebut lingkungan keseharian Dita sudah dipenuhi benih-benih ekstrimisme dan radikalisme sejak masa SMA. Dulu, ia sempat mengkhawatirkan kakak kelasnya itu. Ia makin khawatir saat mendengar kabar Dita menjadi Ketua Jamaah Ansarud Daulah cabang Surabaya.

Kesedihan makin melanda setelah tahu bahwa satu keluarga yang meledakkan diri di tiga gereja berbeda itu adalah kakak kelasnya, Dita.

"Ini adalah puncak jihad dia, karena benih-benih ekstrimisme itu telah ditanam sejak tiga puluh tahun lalu,” tulis Ahmad di status Facebooknya. Status ini menjadi viral, melahirkan ribuan komen dan sudah di-share oleh banyak orang.

Ahmad juga menceritakan bagaimana sikap ekstrimisme beberapa orang telah terlihat jelas saat dirinya menjadi siswa di SMA Negeri 5 Surabaya itu. Bahkan ada seorang siswa yang disebutnya tak mau ikut upacara bendera.

"Ketua Rohis saya dulu tidak mau ikut upacara karena syirik dan pemerintah Indonesia ini adalah thogut. Tapi pihak sekolah tak menanggapi serius, karena memang belum ada bom-bom seperti sekarang ini. Memang dia dipanggil guru BK untuk diajak konseling, diajak diskusi dan tetap keras kepala," tulis Ahmad.



Dita pernah jadi mahasiswa Unair

Dita juga pernah jadi mahasiswa di Universitas Airlangga di Kota Surabaya. Kampus itu bisa dibilang kampus ternama di kota pahlawan. Dita menempuh studi D3 Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga setelah lulus dari SMA Negeri 5 Surabaya.

Tapi sayang, Dita bukan selesai mengikuti pendidikan selama tiga tahun di kampus itu. Ia merupakan mantan mahasiswa yang di-drop out karena IPKnya kecil hanya 1,7 saja.

Tulisan Ahmad Faiz Zainuddin ini mematik pro dan kontra. Khusus kepada yang menghujat dan menuding dirinya sebagai provokator, Ahmad punya jawaban sendiri.

"Insya Allah bu, Saya tidak sedang memprovokasi siapapun apalagi umat islam, lha kan saya juga Muslim.. saya malah mengajak mari kita lakukan sebuah kesadaran bersama bahwa Paham islam Garis keras, radikalisme ini nyata dan saya dulu duduk bersama kawan2 ini, menghadiri pengajiannya juga. Dan paham bener pola pikir dan nuasa psikologisnya. Makanya saya tidak membenci sama sekali malah berempati," tulis dia di kolom komentar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan pelaku bom bunuh diri terafliasi dengan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Taulid (JAT). Yang miris lagi, semua pelaku peledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya adalah sebuah keluarga.

Para pelaku adalah Dita Oepriarto (kepala keluarga); Puji Kuswati (istri) dan empat anaknya FS (12 tahun), PR (9), Yusuf Fadil (18 tahun) dan FH (16). Kerusakan dan korban jiwa paling banyak terjadi di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya karena bom diletakkan di dalam mobil yang dikemudikan Dita.

Tag: bom surabaya

Bagikan: