Apa Itu Difteri dan Apakah Menyebabkan Kematian?

ERA.idDifteri dapat mempengaruhi saluran pernapasan, tenggorokan, mulut, dan kadang-kadang juga kulit. Apa itu difteri? Mari simak penjelasannya melalui artikel ini.

Difteri sendiri dapat menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan orang yang terinfeksi dan disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Infeksi ini sangat berbahaya selain campak dan rubella yang akhir-akhir ini menjadi perbicangan.

Apa Itu Difteri?

Dilansir dari Mayoclinic, difteri adalah infeksi bakteri serius yang biasanya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Meskipun demikian, difteri sangat jarang terjadi di negara-negara maju karena vaksinasi yang meluas terhadap penyakit ini.

Namun, masih banyak negara dengan perawatan kesehatan atau pilihan vaksinasi yang terbatas masih mengalami tingkat difteri yang tinggi.

Difteri dapat diobati dengan obat-obatan. Namun pada stadium lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf. Bahkan dengan pengobatan, difteri dapat mematikan, terutama pada anak-anak.

Gejala Difteri

Difteri dapat memicu gejala seperti demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, mual, dan muntah. Pada kasus yang lebih parah, bakteri difteri dapat memproduksi toksin yang dapat merusak jaringan tubuh dan menyebabkan komplikasi yang berbahaya, seperti radang jantung, radang saraf, kerusakan ginjal, dan bahkan kematian. Benjolan pada leher, batuk, dan sesak napas juga dapat terjadi.

Apa penyebab difteri pada anak?

Difteri dapat menyerang siapa saja, namun lebih sering terjadi pada anak-anak yang belum diimunisasi. Bakteri difteri juga dapat menyebar melalui kontak dengan benda yang telah terkontaminasi oleh cairan tubuh penderita, seperti air liur, dahak, dan lendir hidung.

Apa penyebab difteri pada anak (unsplash)

Pada anak-anak yang belum diimunisasi, risiko terkena difteri lebih tinggi karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang. Selain itu, lingkungan yang kurang sehat dan sanitasi yang buruk juga dapat meningkatkan risiko terjadinya difteri.

Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terkena difteri pada anak antara lain:

●        Kontak dengan orang yang menderita difteri

●        Tidak mendapat imunisasi difteri

●        Tinggal di daerah dengan sanitasi yang buruk

●        Tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan

●        Kondisi kesehatan yang lemah, seperti malnutrisi, infeksi lain, atau penyakit kronis.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk memastikan anak-anak mendapat imunisasi difteri secara rutin sesuai jadwal yang dianjurkan.

Selain itu, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar juga sangat penting untuk mencegah penyebaran bakteri difteri dan penyakit lainnya.

Diagnosis Difteri

Dokter dapat mendiagnosis difteri melalui pemeriksaan fisik dan tes laboratorium. Tes laboratorium meliputi kultur bakteri dari lendir yang diambil dari tenggorokan atau hidung. Kultur bakteri dapat menentukan jenis bakteri yang menyebabkan infeksi dan membantu dokter dalam meresepkan antibiotik yang tepat.

Pengobatan Difteri

Pengobatan difteri meliputi pemberian antibiotik dan terapi yang ditujukan untuk mengurangi produksi toksin oleh bakteri. Antibiotik seperti penisilin atau eritromisin biasanya diresepkan untuk menghentikan pertumbuhan bakteri dan mencegah komplikasi. Pasien juga dapat memerlukan terapi oksigen atau cairan intravena untuk membantu mereka bernapas dan menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Pencegahan Difteri

Vaksinasi adalah cara utama untuk mencegah difteri. Anak-anak biasanya menerima vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan dosis tambahan pada usia 15-18 bulan dan 4-6 tahun. Setelah itu, vaksin booster harus diberikan setiap 10 tahun untuk menjaga kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.

Cara-cara lain yang dapat membantu mencegah penyebaran difteri antara lain dengan menjaga kebersihan tangan, mencegah kontak dengan orang yang terinfeksi, dan menghindari tempat yang terlalu ramai dan berdebu.

Kesimpulan

Difteri masih menjadi masalah kesehatan di beberapa negara, dan penting bagi kita untuk tetap waspada dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Vaksinasi merupakan cara terbaik untuk mencegah difteri, dan sangat penting untuk mengikuti jadwal vaksinasi yang direkomendasikan. Jika terjadi gejala yang mencurigakan, seperti sakit tenggorokan yang parah atau benjolan pada leher, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat.

Selain apa itu difteri, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman