Mengenal Pohon Hayat yang Menjadi Inspirasi Logo IKN di Kalimantan

ERA.id - Pada tanggal 30 April 2023, sebuah logo resmi baru dari IKN Nusantara diresmikan dengan bangga di Istana Negara. Ada yang masih asing dengan pohon hayat? Mari kita bersama-sama mengenal pohon hayat lebih jauh.

Perlu diketahui, logo baru IKN ini dikenal dengan sebutan Pohon Hayat, yang dirancang oleh seorang desainer grafis berbakat asal Bandung, Aulia Akbar.

Pohon Hayat berhasil meraih kemenangan dalam pemilihan logo setelah melawan empat desain logo lainnya. Proses voting dilakukan mulai tanggal 4 April 2023 hingga 20 Mei 2023, dengan partisipasi lebih dari 500.000 pemilih yang antusias.

Logo Pohon Hayat ini tidak hanya merupakan sebuah gambar, tetapi juga mewakili keindahan dan kebanggaan akan keanekaragaman alam Indonesia. Desain yang dipilih mencerminkan semangat dan tujuan dari IKN Nusantara untuk melindungi dan mempertahankan kekayaan alam Indonesia.

Dalam artikel ini, kita akan lebih mengenal dan menggali makna di balik logo Pohon Hayat yang memukau ini, serta bagaimana ia menjadi simbol penting dari IKN Nusantara. Mari kita jelajahi keindahan dan kekuatan simbolik dari Pohon Hayat, yang mewakili keberlanjutan dan kelestarian alam Indonesia.

Mengenal Pohon Hayat

Menurut laporan jurnal yang ditulis oleh Muhajirin dari Fakultas Bahasa Seni Universitas Negeri Yogyakarta, pohon hayat telah dikenal oleh masyarakat Jawa sejak zaman Prasejarah, sebelum agama-agama masuk ke pulau tersebut.

Pohon hayat juga dikenal sebagai pohon kalpataru, yang berasal dari kata 'kalp' yang berarti 'ingin' atau 'keinginan'. Pada masa itu, pohon ini diyakini dapat mengabulkan keinginan, karena didasari oleh keyakinan animisme dan dinamisme yang masih kuat.

Dalam agama Buddha, pohon hayat dikenal sebagai 'pohon Bodhi' (Unsplash)

Agama Hindu dan Budha yang dianut di Indonesia keduanya mengenal pohon hayat. Dalam agama Buddha, pohon hayat dikenal sebagai 'pohon Bodhi', yang dikaitkan dengan Pencerahan yang diterima oleh Pangeran Sidharta.

Setelah agama Buddha masuk ke Indonesia, nama pohon tersebut dikaitkan dengan pohon Waringin, yang berasal dari kata 'ingin' dengan awalan 'war' (yang menjadi Beringin dalam bahasa Indonesia).

Dalam agama Hindu, pohon ini dikenal dengan nama kalpataru atau kalpawrksa, dan memiliki arti yang sama dengan pohon Waringin.

Pada zaman Jawa-Islam, kepercayaan terhadap pohon hayat mengalami perkembangan. Pohon ini digambarkan dalam bentuk hiasan 'Gunungan', yang merupakan bentuk lain dari kalpataru.

Selama zaman Jawa-Islam, keyakinan terhadap 'pohon hayat' mengalami perkembangan yang signifikan. Masyarakat menggambarkan pohon ini dalam bentuk hiasan 'Gunungan', yang juga dianggap sebagai bentuk lain dari kalpataru.

Hiasan semacam ini dapat ditemukan di kompleks masjid dan makam Sunan Sendang, serta dalam pertunjukan wayang.

Hingga saat ini, jejak kepercayaan terhadap pohon hayat masih dapat ditemukan dengan samar-samar, seperti yang terlihat dalam keyakinan sebagian masyarakat Jawa terhadap 'pohon waringin kurung' yang terdapat di Alun-alun Kraton Yogyakarta, yaitu Kyai Janadaru dan Kyai Dewadaru yang diyakini melambangkan manunggaling kawula gusti (persatuan antara hamba dan Tuhan).

Selain mengenal pohon hayat, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman