Memahami Beda ADHD dan Autisme yang Terjadi pada Anak

ERA.id - Sebagian orang masih bingung dengan beda ADHD dan autisme. Autisme disebut autism spectrum disorder (ASD), sedangkan ADHD memiliki kepanjangan attention deficit and hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Dua-duanya merupakan gangguan mental dan mulai muncul saat seseorang masih anak-anak/remaja, tetapi tidaklah sama. Untuk memahaminya, simak penjelasan berikut yang dikutip Era.id dari situs resmi RSUP Sardjito.

 Ilustrasi anak dengan ADHD (pexels)

Mengenali Beda ADHD dan Autisme

1. Usia kemunculan gejala

Secara umum, diagnosis ADHD pertama kali ditegakkan saat anak-anak mulai masuk masa prasekolah atau taman kanak-kanak (TK). Ini terjadi karena perilaku anak dengan ADHD bertolak belakang dengan teman-teman di kelasnya. Guru yang belum memahami hal ini biasanya akan melabeli si anak dengan cap nakal, suka mengganggu teman, suka ramai, tidak mau belajar, dan sejenisnya.

Anak dengan ADHD bisa bersikap tidak tenang secara terus-menerus, bertindak impulsif, dan tidak dapat memperhatikan pelajaran. Namun, ada pula yang gejalanya berbeda, seperti memusatkan perhatian hanya pada satu mainan dan tak ingin bermain dengan yang lain. Gejala yang satu ini mirip dengan autisme, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya berbeda.

Biasanya anak dengan autisme telah menunjukkan gejala-gejala ASD sebelum berusia dua tahun. Meski demikian, dalam beberapa kasus gejala-gejala tersebut tidak terlihat jelas hingga si anak masuk usia sekolah dan menunjukkan perilaku sosial yang sangat berbeda dengan teman-temannya. Kasus tersebut biasanya merupakan high functioning autism, yaitu anak dengan ASD yang masih mempertahankan sebagian fungsi komunikasi dan sosial yang dimiliki.

2. Interaksi sosial dan fokus

Anak dengan ASD memiliki gejala khas berupa menghindari kontak mata dan tidak tertarik bermain atau berinteraksi dengan orang lain. Perkembangan kemampuan berbicara sangat lambat atau bahkan tidak berkembang. Anak-anak ini juga mungkin mengalami preokupasi terhadap rutinitas yang sama, punya preokupasi yang tidak wajar terhadap warna atau tekstur makanan, serta membuat gerakan-gerakan repetitif, khususnya dengan jari atau tangan.

Semantara, anak dengan ADHD sering sulit fokus terhadap satu kegiatan atau tugas. Saat terlibat dalam aktivitas sehari-hari, perhatian anak dengan ADHD bisa mudah teralihkan. Hal ini membuat anak dengan ADHD cepat pindah berpindah ke tugas atau aktivitas lain dan susah menyelesaikan satu tugas yang dikerjakan. Secara fisik, mereka biasanya tidak bisa duduk diam.

Meski demikian, beberapa anak dengan ADHD bisa sangat tertarik dan terpaku pada suatu aktivitas atau topik, atau bahkan hiperfokus. Fokus pada suatu hal bisa dinilai sebagai hal yang baik, tetapi bisa juga menunjukkan bahwa anak tersebut sulit mengalihkan perhatian ke aktivitas atau tugas yang lain.