Kidung By RWD Hadirkan Estetika Eksperimental dalam Artmoments Jakarta 2026

ERA.id - Kidung by RWD, ruang seni independen, manajemen seniman, dan progresif asal Yogyakarta, berpartisipasi dalam ArtMoments Jakarta 2026 bertema kuratorial "Offerings" pada Jumat 4 Juni dan ditutup hari ini, Minggu (7/6/2026).

Hadir Impressionist Concept-Driven Artist R Wisnu D, seniman Digi Sigit, fotografer Rajoso Bayu Wicaksono, serta Bofags, Tune Tone Toon, dan Hani Santana di tengah para kolektor dan penikmat seni yang menyelami karya-karya yang berasal dari rigoritasriset, persilangan lintas disiplin, dan penguasaan teknis.

Saat acara, Wisnu mendemonstrasikan kepiawaiannya dengan mengonstruksi arsitektur psikologis seperti menangkap kedalaman emosional, memori, dan permainan cahaya. Berakar dari penjelajahan langsung ke berbagai museum terkemuka di Asia, Amerika, dan Eropa, dalam karyanya, dia meleburkan ketajaman teknik seni rupa Eropa klasik dengan kearifan filosofi visual Nusantara.

Lalu Digie Sigit membawa energi perlawanan akar rumput ke dalam ruang galeri. Sigit menggunakan teknik stensil berkarakter kontras tinggi sebagai senjata komunikasi dan solidaritas. Karyanya dianggap sebagai medium kritik tajam atas keadilan sosial, sebuah artefak sejarah perlawanan jalanan yang otentik.

Sementara Rajoso memamerkan karya yang mendekonstruksi realitas secara radikal dengan menimpa (overpaint) permukaan karya fotografinya menggunakan cat akrilik.

"Dari benturan ontologis ini lahirlah alter ego 'Seriboyo', sebuah terobosan estetis yang secara agresif membongkar dogma kebenaran visual dan menghadirkan distorsi realitas," ujarnya.

Begitu juga Hani Santana, dia menginkorporasikan pengalaman bermusiknya ke ranah visual. Hani menerjemahkan harmoni dan ritme menjadi kanvas bertekstur impasto yang dikerjakan dengan keberanian absolut. Mengusung filosofi "berkolaborasi dengan alam semesta", lukisannya adalah fragmen energi kosmik yang dihentikan geraknya di atas kanvas.

Bofags yang lahir dari benturan latar belakang teknik mesin dan anarki skena musik underground, menawarkan leksikon visual yang eksentrik. Karya-karyanya yang tampak eksperimental merupakan kamuflase naratif cerdas yang menyelubungi kritik sosial tajam mengenai ironi masyarakat urban modern.

Berbeda dari yang lain, Tune Tone Toon menegaskan kredo death of the author. TTT memilih anonimitas absolut di tengah pasar seni yang kerap mendewakan figur seniman. Dalam karyanya, dia memadukan ikonografi budaya pop dengan elemen spiritual, memancarkan saturasi warna ekstrem yang menawarkan eskapisme dan kebahagiaan murni.

"Karya-karya yang dipersembahkan Kidung by RWD di ArtMoments Jakarta 2026 ini adalah kristalisasi pemikiran kritis, disrupsi medium, dan arsip peradaban kontemporer," ungkap

penulis pameran, Sudjud Dartanto.

"Para seniman ini telah merumuskan estetika eksperimental, memastikan bahwa narasi dari kebudayaan kontemporer akan terus lestari dan dirayakan," tandasnya.